FF EXO : BLACK PEARL Chapter 1

yaa

Tittle : Black Pearl

Author : Printa Park Yong Ae

Genre : Fantasy, Friendship, Comedy

Length : Chaptered

Cast : All member’s EXO | Shin HyeRa [OC] | Ahjussi Cho

Cuap-cuap Author : kyaaa, ini FF pertama saya di blog ini. blog pribadi saya.😀 FF pertama bergenre fantasy. yah jangan tanya lagi deh. I LOVE FF FANTASY.😀 kalo kebanyakan nanti genrenya fantasy, jangan heran. terus aku gak bisa buat FF genre romantic. sama sekali TT^TT. Happy Reading !! I HOPE YOU LIKE. Jangan lupa RCL😀

————————————————————————

“kau pikir kau ini siapa? Aku keluar!” teriak seorang yeoja pada pemilik toko barang antik itu, ia pergi tanpa menghiraukan celoteh dari mulut namja paruh baya itu. Yeoja itu terlanjur kesal. Ia berjalan sendiri menyusuri jalanan kota Seoul yang dingin.

Ia mengatup jaketnya rapat-rapat. Ia duduk dibangku yang berada ditaman. Meluapkan seluruh kekesalannya dengan berdiam diri. Sebenarnya itu salah, namun yeoja itu selalu begitu setiap ia sedang kesal.

“kalau saja dia bukan atasanku, akan kubunuh dia.” geram yeoja itu seraya menatap kesal kearah depan.

Tiba-tiba ia merasakan aneh. Disampingnya terdapat seorang namja yang mungkin sebaya dengannya. Ia menatap namja itu yang terlihat sangat misterius.

“wae? Ada yang salah denganku? Atau aku mengganggu acara marah-marahmu itu?” tanya namja itu membuat yeoja tadi sedikit tersentak.

“suaramu mengingatkanku dengan seseorang. Tapi siapa ya.” yeoja itu sedikit berpikir sembari menatap namja yang tinggi dan kurus disampingnya sekarang.

“paboya.” celetuk namja itu.

“MWO??! Apa kau bilang barusan? Kau menantangku, huh?” Tanya yeoja itu mulai geram.

“tenanglah. Kau lupa denganku? Bagus, sekarang aku dilupakan banyak orang.” Ujar namja itu.

“suaramu, ah~ paboya kenapa aku bisa lupa denganmu? Park Chanyeol !!” Ujar yeoja itu memeluk namja bernama Chanyeol itu. Chanyeol membalas pelukan yeoja tadi dengan senyuman mengembang disudut bibirnya.

“aku kira aku akan dilupakan oleh semua orang.” Ujar Chanyeol.

“haha, kau berlebihan Chanyeol-ah.” ucap yeoja itu sembari melepaskan pelukannya.

“kenapa kau selalu marah-marah ditaman malam-malam seperti ini, Hyera-ah?” tanya Chanyeol.

Hyera terdiam, kemudian berkata, “Aku kesal. Selalu aku yang disalahkan ketika benda-benda antik milik Ahjussi Cho menghilang dengan sendirinya.”

“tentu saja Ahjussi Cho selalu marah, kau yang menunggu tokonya sementara beliau pergi. Bukankah itu kewajibanmu untuk menjaga baik-baik isi tokonya? Ck!”

“ah ne, sekarang kau malah membelanya.” Hyera menatap kearah sepatunya dengan pandangan malas.

“hehe, mian. Baiklah, memangnya apa saja yang kau hilangkan?”

“aku tidak menghilangkan benda antik miliknya!” Hyera menatap tajam ke arah Chanyeol.

“ah, geure. Maksudku benda apa saja yang menghilang dari toko benda antik itu?” Chanyeol membenarkan kata-katanya.

“banyak, dan salah satunya aku tak tau. Dia selalu memarahiku, bahkan aku tak pernah melihat benda yang ia kira hilang itu. Ck! Benar-benar menyebalkan.” decak Hyera.

Chanyeol menatap kearah depan dengan pandangan kosong. Ia terdiam beberapa saat sebelum mulai beranjak dari duduknya.

“oedika?” tanya Hyera saat didapatinya Chanyeol mulai beranjak dari sisinya.

Chanyeol menoleh, “pulang. Kau tidak pulang? Ini sudah malam.”

“ah ne, pulanglah dulu.” Balas Hyera.

Chanyeol mengangguk dan kembali berjalan meninggalkan Hyera dalam dinginnya kota Seoul malam hari itu.

Hyera masih terduduk sembari menatap langit. Salju tidak turun malam ini. Ia menatap bintang yang cukup banyak bertebaran dilangit.

“Umma, Appa. Bogoshippoyo.” lirih Hyera sembari memejamkan matanya, kepalanya masih menghadap kelangit.

“memangnya kemana orang tuamu?”

“Ehh?”

Hyera terkejut ketika sebuah suara muncul sangat jelas. Hyera menatap orang yang ada didepannya. Asing, ia bahkan tak mengenal siapa orang itu. Tapi rasanya Hyera sangat nyaman dengan orang itu.

“nugu?” tanya Hyera.

“Luhan imnida.” orang itu -Luhan- membungkukkan badannya, kemudian duduk disamping Hyera yang menatapnya dengan sejuta pertanyaan dikepalanya.

“apa kau mengenalku?” tanya Hyera.

Luhan menggeleng, “aku melihatmu difoto ini. Ini kau, ‘kan?” Luhan menyerahkan sebuah kertas.

Hyera meraih foto itu. Benar, ini adalah fotonya. Bagaimana mungkin orang yang baru ia kenalnya ini mempunyai fotonya? Bahkan sahabat terdekatnya pun tidak mempunyai fotonya.

“kau mendapatkannya dari mana?” tanya Hyera dengan wajah serius.

“dari Appaku. Kau adalah putri raja.” ucap Luhan.

Hyera tersentak. Ia menatap Luhan dengan tampang tak percaya. Namja didepannya itu tampak biasa saja dengan menggunakan kaus hitam bergambar suatu lambang yang ia tak tau apa artinya.

“haha. Kau gila? Aku adalah yeoja miskin didesaku.” ucap Hyera. Luhan menggeleng.

“kau lihat ini? Apa kau memilikinya?” tanya Luhan sembari mengeluarkan sebuah kalung dari balik kaus hitam yang ia pakai.

Hyera menatap kalung itu. Kalung berliontin dua mutiara hitam dengan satu lambang aneh –seperti dikaus Luhan– yang ia tak mengerti artinya. Hyera segera menggeleng. Luhan menatap Hyera.

“bahkan lambang itu aku tak mengerti artinya.” Hyera menunjuk lambang yang ia maksud di kaus hitam milik Luhan.

“ini lambang planetku. Ah anni, planetmu juga.” ucap Luhan menjelaskan. Membuat Hyera semakin tak paham apa yang sebenarnya dimaksud oleh namja imut didepannya.

“planet? Kau tinggal diluar planet selain bumi? Ah aku yakin kau gila.” seru Hyera.

“kau yang gila. Lambang ini saja kau tidak tau.” Luhan membalas ejekan Hyera.

“huh~! Baiklah. Aku akan mempercayaimu sekarang.” pasrah Hyera. Luhan tersenyum, kemudian memasukkan kalung itu kebalik kausnya.

“planetku bernama EXO Planet. Dan lambang yang kau sebut aneh ini bernama EXO, seperti nama planet kita, ‘kan? Sedangkan mutiara hitam yang ada dikalungku tadi adalah Black Pearl.” Luhan menjelaskan pada Hyera. Hyera bahkan sedikit menganga mendengar penjelasan Luhan yang amat sangat tidak ia mengerti.

“Lalu bagaimana kau bisa kemari?” tanya Hyera.

“aku? Aku dikirim oleh Appaku kemari untuk mencarimu. Ah ne, dan ke 11 ksatria lain.” ujar Luhan.

“ksatira?”

“ne, mereka ditakdirkan untuk melawan Pasukan Demon. Bersamaku dan kau nantinya, di EXO Planet.”

“ah ya!! Kau malah membuatku semakin bingung Luhan-ah.” seru Hyera.

“kau bahkan masih terlalu muda.” ucap Luhan.

“Ah~ Baiklah, kau akan tinggal dimana?” tanya Hyera.

Luhan menunduk, kemudian menggeleng lemah. Hyera menatap Luhan iba. Kemudian mengelus pelan rambut Luhan.

“tinggallah bersamaku. Aku tak punya teman dirumahku.” ujar Hyera.

Luhan menatap Hyera dengan mata yang sedikit berbinar dan membulat, “Jinjjayo?”

Hyera mengangguk, “ne. Baiklah kajja kerumahku. Sebelum dinginnya udara malam membuat kita beku.” Hyera meraih tangan Luhan dan menariknya.

*_*_*_*

Luhan dan Hyera sampai disebuah rumah sederhana. Hyera menjinjitkan kakinya untuk meraih kunci yang ia simpan diventilasi atas pintu rumahnya. Merasa lama menunggu, Luhan mengayunkan tangannya menuju ventilasi rumah Hyera. Hyera tertegun sejenak melihat kejadian aneh didepan matanya secara langsung. Kunci itu terbang bersamaan dengan ayunan tangan Luhan. Hyera melirik Luhan, kini ia tau Luhan yang membuat kuncinya menjadi terbang seperti itu. Hyera meraih kunci rumahnya yang sedang berterbangan, kemudian mengarahkannya kelubang pintu, dan membukanya.

“ini rumahmu? Gelap sekali.” komentar Luhan.

CLICK!!

“wah, terang sekali.”

“Ck! Kau ini. Tadi lampunya belum dinyalakan.” Hyera melepas jaketnya, kemudian ia gantung pada gantungan disebelah pintu utama.

“Lampu? Apa itu lampu?” tanya Luhan. Hyera membelalakkan matanya, kemudian terkekeh sejenak.

“kau tidak tau lampu?”

Luhan menggeleng.

Hyera menunjuk lampu yang berada dilangit-langit rumahnya, “lampu itu alat untuk menerangi ruangan yang gelap. Tadi kau bilang rumahku gelap, ‘kan? Makanya aku hidupkan lampu.”

“Ooh, benar-benar aneh.”

Hyera dan Luhan berjalan menuju ruang keluarga. Hyera duduk disofa yang berhadapan dengan televisinya. Luhan ikut duduk disofa tersebut. Namun tak lama kemudian perut Luhan berbunyi, menandakan ingin diisi suatu makanan.

“bunyi apa itu?”

“itu suara perutmu, bodoh. Kau lapar? Ingin makan apa? Ddukkbokkie, Ramyun, Dakjuk, Kimchi, Bibimbap, Bulgo-“

“aigo~ itu semua apa?” Luhan segera memotong ucapan Hyera yang membuatnya bingung.

Hyera menepuk jidatnya, “oh iya, kau kan orang baru di planet ini. Baiklah, aku akan memberikanmu….. Ddukbokkie saja. Bagaimana?”

“terserah kau saja.” Luhan pasrah karena memang ia tidak tau apa arti semua yang disebutkan oleh Hyera.

Hyera beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju dapur. Hyera membuka lemari es’nya, meraih ddukbokkie-nya yang akan ia panaskan agar menjadi enak untuk santapan Luhan nantinya. Luhan mengintip Hyera yang tengah sibuk menyiapkan makan malam untuknya. Setelah Hyera memasukkan makanannya pada panci penggorengan, aroma makanan itu melesat masuk ke hidung Luhan. Membuat Luhan berjalan cepat menghampiri Hyera.

“waaah, baunya enak sekali.” Luhan menatap makanan yang sedang dipanaskan Hyera. Hyera menoleh kaget.

“ini namanya ddukbokkie.”

“ddukbokkie?” Luhan mengulangi ucapan Hyera. Hyera mengangguk, kemudian menaruh makanannya kepiring dan memberinya kepada Luhan.

“ayo makan ke meja makan. Apa kau mau memakannya disini huh?” tanya Hyera saat didapati Luhan hanya diam seraya memandangi makanannya. Luhan mengangguk dan mengikuti langkah Hyera menuju meja makan.

“eum.. Mashitta!” seru Luhan saat menikmati ddukbokkie milik Hyera. Hyera tersenyum melihat makhluk planet lain ini yang tengah makan dengan lahapnya layaknya anak kecil. Luhan memang polos, ya semenjak ia berada di bumi. Sepertinya Luhan tak tau tentang semuanya dibumi.

“kapan kau akan memulai mencari ke 11……. ksatria itu?” Tanya Hyera ragu.

Luhan menghentikan aktifitas makannya. Ia meneguk air putih digelas samping piring makannya, “hmm.. Entahlah.”

“kau ini bagaimana. Apa kau mau kubantu?”

“memang seharusnya kau membantuku. Kau juga salah satunya. Satu-satunya perempuan.”

“MWO??!!”

Luhan menjauhkan kepalanya karena Hyera sempat berteriak. Mungkin membuat telinganya sedikit pengang mendengar teriakan Hyera.

“bisakah kau tidak berteriak? Kau berlebihan.”

“tapi, apakah benar ucapanmu itu? Aku satu-satunya perempuan?” Hyera memandang Luhan dengan wajah antusias.

“kau tidak percaya? Baiklah.”

“Huh~!”

“akan kujelaskan semuanya setelah aku selesai memakan makanan ini.” ucap Luhan dengan mulut penuh dengan makanan. Hyera mengangguk dan terdiam sambil menunggu Luhan selesai makan.

Tak menunggu waktu lama, Luhan telah selesai menghabiskan porsinya. Luhan menatap Hyera yang masih menatapnya tajam.

“Hyera-ah, dipertempuran kita nanti kau yang memimpin.”

“MWO??!!”

Luhan kembali menjauhkan kepalanya karena teriakkan Hyera.

“kenapa harus aku? Aku tak tau apa-apa, Luhan-ah.”

“huh~! Kau harus berusaha. Kesebelas ksatria akan mengajarimu kekuatan mereka masing-masing. Termasuk aku. Kau akan mendapat 13 kekuatan.”

“kenapa 13? Bukannya hanya ada 12 ksatria yang mengajariku kekuatan mereka? Itupun ditambah olehmu. Siapa yang ke 13?”

“kau. Apa kau pikir kau tidak punya kekuatan, huh?”

Hyera tersenyum kikuk, “hehe. Lalu kenapa aku yang menjadi pemimpin nanti? Bukankah ada kau yang langsung diutus oleh Appamu?”

“aniya, kita semua bekerja sama. Saling melindungi, dan kata Appa-ku kau yang akan memimpin.” Luhan menjelaskan. Hyera mengangguk.

“jadi, kemana kesebelas ksatria lainnya?” tanya Hyera antusias.

“aku juga tidak tau. Eum,, apa kau tidak mempunyai catatan sesuatu yang diberikan oleh kedua orang tuamu sebelum mereka meninggal?” tanya Luhan.

Hyera berpikir. Ia mengingat kejadian dulu, mengingat apakah dia pernah diberi suatu catatan oleh kedua orang tuanya. Hyera menatap Luhan dengan bola matanya yang berbinar. Memperlihatkan bola matanya yang berwarna agak abu-abu, menandakan Hyera benar-benar putri raja dari EXO Planet.

Tanpa pikir panjang, Hyera langsung menarik tangan Luhan menuju gudang.

*_*_*_*

HYERA POV

Aku membawa makhluk asing ini menuju gudang. Disana semua peninggalan orang tuaku berada. Aku tidak pernah menyimpan apapun yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Hanya sebuah foto pernikahan orang tuaku yang aku simpan dilemari pakaian. Sisanya ku taruh disebuah gudang. Aku tak ingin mengingat masa-masa itu lagi. Masa-masa dimana aku kehilangan kedua orang tuaku.

Luhan sedikit bersin saat aku dan dia masuk ke gudang. Disana memang kotor dan berdebu. Akupun sedikit merasa gatal dibagian hidungku, hingga kugaruk dan mungkin saat ini hidungku sedikit merah. Aku tak memperdulikan itu. Aku terus mengobrak-abrik peninggalan orang tuaku, lebih tepatnya Appa-ku. Disebuah tempat menyerupai peti harta karun, aku membukanya. Disana banyak peninggalan Appa-ku. Beliau memang suka dengan aksesories berbau bajak laut dan alien.

Aku meraih beberapa kertas yang digulung dan diikat oleh pita berwarna silver. Kertas itu tampak sudah sangat tua. Terlihat dari warnanya yang sedikit kecoklatan. Aku membuka ikatan dari pita itu. Kemudian membuka gulungan itu. Tertera beberapa nama disana. Aku membelalakkan mataku tak percaya. Melihat nama yang tertera disana. Park Chanyeol! Apa dia juga sama sepertiku dan makhluk aneh ini?

“kau mengenal semuanya?” Tanyaku pada Luhan saat ia membaca dengan teliti isi kertas tersebut.

Luhan menaikkan pundaknya, “apa kau pelupa? Mana bisa aku mengenal mereka semua. Mengetahui benda-benda aneh ini saja tidak tau.”

“hehe. Mianhae, aku lupa. Yang kau pegang itu namanya kertas. Dan yang mengikat kertas tadi bernama pita. Ini semua jika aku jelaskan tidak akan masuk keakalmu malam ini. Ayo kita tidur. Kau tidur disofa saja ya?” ucapku sembari menuntun Luhan keluar dari gudang.

“mengapa kita tidak tidur bersama saja?” Luhan bertanya dengan polosnya. Betapa polosnya dia.

“itu tidak boleh.” ucapku sembari berjalan meninggalkan pintu gudang yang sudah ia tutup. Luhan mengikutinya dari belakang.  Aku meraih bantal, guling, dan selimut untuk Luhan.

Luhan menaruh kertas itu dimeja ruang keluarga sebelum ia berbaring disofa empuk milikku. Luhan meraih selimut yang disediakan olehku. Kulihat ia sudah memejamkan matanya. Aku menatap Luhan dari ranjangku. Aku mencoba memejamkan mataku. Membuat seluruh tenagaku melemah seketika. Aku lelah. Setelah seharian menghadapi Ahjussi Cho yang terus memarahiku.

Aku kembali melirik Luhan. Ia sudah terlelap. Luhan tidur menghadap kanan, tepatnya menghadapku. Aku dapat melihat wajah imutnya. Kalung itu kembali terlihat dari balik kausnya. Aku menatap kalung itu. Kupejamkan mataku lagi. Dan lagi-lagi ingatanku tentang tadi pagi masih terpampang. Aku sempat bertemu namja tinggi bermata sayu.

Ketika aku tak sengaja menabraknya karna sibuk mencari ponselku didalam tas slempangku. Aku menabraknya hingga barang-barangnya jatuh berceceran diterotoar.

*_*_*_*

AUTHOR POV

*FLASHBACK ON*

“sial! Kemana ponselku?” Hyera terus berdecak sembari mencari ponsel yang ia cari didalam tas. Ia masih berjalan, tak menatap jalanan dihadapannya tetapi malah menatap isi tasnya yang kini sudah berantakan.

BRUGG

Hyera terjatuh bersamaan dengan namja yang ia tabrak. Ia segera membantu namja itu memunguti(?) barang-barang yang namja itu bawa. Setelah selesai, mereka berdua berdiri. Hyera sedikit mendongak sembari menatap namja bermata sayu itu. Namja itu berceloteh.

“kau tau? Ini adalah benda mahal! Jika jatuh akan mengurangi harga dipasaran! Dan kau sudah menjatuhkannya! Aku tidak akan meminta biaya untuk ini. Aku tau kau tidak akan sanggup membayar biaya untuk mengganti rugi barang-barangku yang kau jatuhkan!”

Hyera menatap namja itu yang terus berceloteh untuknya. Hanya sebuah Ipod dengan headphone-nya yang terjatuh ia bisa mengomel sedemikian banyaknya. Hyera menelan ludah.

“Yaa!! Kalau kau sudah tau aku tidak mampu untuk mengganti rugi kenapa kau terus berceloteh? Apa kau tak punya hati huh? Memangnya kau pikir ini jalan nenek moyangmu?” Hyera tak membendung lagi amarahnya setelah sekian lama ia terdiam untuk mencerna kata-kata yang dikeluarkan namja mungil didepannya.

“kenapa kau malah memarahiku, huh? Kalau ini jalan milik nenek moyangku memang kenapa? Aku tidak yakin kau akan membayar ketika aku memasang bayaran untuk orang yang lewat dijalanan ini. Aku sanggup membeli tanah ini, Noona!”

Mata Hyera membulat. Ia menatap namja songong didepannya. Ingin rasanya menjitak kepala namja itu yang sangat tidak sopan. Tapi niatnya ia urungkan ketika namja itu memanggilanya ‘Noona’. Namja itu memanggilnya ‘noona’! Terlihat dari penampilannya, namja itu memang terlihat lebih muda darinya. Walaupun secara fisik Hyera lebih pendek.

Hyera memandang namja itu dengki. Mereka berdua saling adu pandangan dengan cukup lama. Hingga akhirnya Hyera menyerah dan memilih menatap tempat lain. Hyera tidak sengaja menatap leher namja itu. Disana ia melihat kalung dengan lambang EXO dan black pearl dikedua sisinya. Hyera menelan ludah. Sebelumnya ia belum pernah melihat kalung itu. Berlambang aneh dengan mutiara hitam yang Hyera tak tau artinya.

“baiklah, aku akan mengalah. Oh Sehoon!”

Namja itu tersentak kaget. Ia bingung kenapa Hyera tau namanya.

“darimana kau tau namaku?”

Hyera menunjuk nama Sehun yang tertera dikausnya. Sehun hanya memakai kaus bergambar menara Eiffel dengan celana Jeans panjang berwarna hitam. Digambar menara Eiffel tersebut terpampang tulisan ‘Oh Sehoon’ yang terlihat jelas itu hanya sablonan. Sehun menghembuskan nafasnya berat. Kemudian berjalan meninggalkan Hyera tanpa bertanya sepatah kata lagi.

*FLASHBACK OFF*

*_*_*_*

Hyera terbangun dari tidurnya. Ia sesekali menguap, kemudian membentangkan tangannya keatas. Hyera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian terduduk.

“Aigoo~!”

Hyera berteriak sedikit kencang karna ia tidak mendapati Luhan disofa ruang keluarganya. Hyera panik. Ia beranjak dan segera mencari Luhan. Ia sangat khawatir dengan Luhan. Luhan belum tau banyak tentang benda-benda dibumi. Hyera berkeliling dibalkon rumahnya. Mencari Luhan disetiap inci rumahnya. Tak terkecuali kamar mandi. Tapi nafasnya segera beratur setelah Hyera mendapati Luhan berdiri didepan lemari es. Hyera mendekat.

“kau membuatku cemas, Luhan-ah.” ucap Hyera mengagetkan Luhan. Luhan tersenyum sembari menutup pintu lemari es.

Luhan berbalik untuk melihat Hyera yang berada dibelakangnya, “didalamnya ada salju! Dingin sekali!” Luhan berseru.

Hyera tersenyum geli melihat tingkah polos namja didepannya, “Anniya. Itu bukan salju. Itu lemari es.”

Luhan mengangguk paham. Ia kembali berbalik dan membuka lemari es. Ditaruhnya kepalanya didepan lemari es yang terbuka.

“apa yang kau lakukan?”

“Aku mendinginkan kepalaku yang terasa panas. Entah mengapa sejak aku dirumah ini merasa gerah.” ucap Luhan.

“huh~!” Hyera membuang nafas kasar.

*_*_*_*

Luhan dan Hyera sedang berjalan-jalan ditaman hari ini. Bermaksud mencari ke-11 ksatria yang dimaksud oleh Luhan. Hyera duduk dikursi panjang bersama Luhan dengan membawa gulungan kertas itu. Luhan terus menatap orang-orang yang berlalu lalang didepannya. Tiba-tiba ia menoleh kearah seseorang yang tengah berjalan membawa es krim. Luhan menoleh kearah Hyera. Ia menatap Hyera, tatapannya seperti bertanya benda-apa-itu-?. Hyera yang seakan tau kemudian menjelaskan.

“kau mau membelinya?” tanya Hyera setelah menjelaskan.

“apakah itu enak?” tanya Luhan.

“tentu saja.”

“kalau begitu belikan satu untukku dan untukmu juga. Hehehe.”

“baiklah. Tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Hyera berpesan sebelum meninggalkan Luhan. Luhan mengangguk, Hyerapun meninggalkan Luhan ketoko es krim terdekat.

Luhan duduk sambil menatap orang-orang lagi. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada seseorang yang tengah membungkuk sambil menyerahkan tiga buah permen pada anak-anak kecil disekelilingnya. Mata Luhan membulat sempurna dan berbinar. Ia berdiri dan menghampiri namja itu.

Namja itu menoleh karena merasa dihampiri seseorang. Ia membiarkan Luhan mendekat, sementara ia masih sibuk memberikan permen-permen itu kepada anak-anak. Mungkin anak-anak yatim yang ia rawat. Namja itu menegakkan punggungnya seiring anak-anak yang mulai berpencar pergi meninggalkan namja itu. Luhan menatap namja itu, ah tidak. Menatap leher namja itu. Kalung itu, kalung EXO dan Black Pearl.

“annyeong haseyo~”

“annyeong haseyo.”

Luhan membungkuk bersamaan dengan namja itu. Luhan kembali menatap kalung itu sebelum bertanya.

“Xi Luhan imnida. Darimana kau mendapatkan kalung itu?” Luhan memperkenalkan diri dulu sebelum bertanya. Mungkin agar terlihat sopan.

“Zhang Yixing imnida. Kau bisa memanggilku Lay saja. Kalung ini? eummm.”

Namja bernama Lay itu menatap kalung yang ada dilehernya. Mata Luhan masih berbinar.

“aku mendapatkannya dari ibuku. Sebelum beliau meninggal, ibuku sempat memberikan ini padaku. Sampai sekarang aku tidak tau apa artinya.” Jawab Lay sedih.

Luhan mendekat kearah Lay, kemudian merangkulnya.

“uljima-yo.”

“Yaa!!! XI LUHAN !! Sudah kubilang jangan kemana-mana !! Kenapa malah keluyuran? Ehh?? Kau membuatnya menangis? Ya Tuhan !! Luhan kenapa kau berbuat seperti itu padanya? Hey kau, maafkan dia ya?”

Hyera menyerang Luhan dengan kata-kata yang begitu banyaknya. Luhan hanya diam tak mengubris sampai Hyera berhenti mengomel.

Lay menatap Hyera dan Luhan bergantian, “Luhan-sshi, aku pergi dulu ne.”

“eh sebentar.” Luhan mencegah Lay. Ia meraih kertas ditangan Hyera. Kemudian membaca namanya dengan teliti.

“Zhang Yixing? Kau…. Apa kau seorang ksatria itu?”

“Ehh?”

Lay menatap Luhan tak mengerti. Ksatria? Apa maksudnya? Pikir Lay. Luhan menunjukkan gulungan kertas itu pada Lay. Benar saja, namanya tertera disana bersama ke-11 ksatria lainnya. Lay kembali menatap Luhan.

“apa maksudmu? Ksatria?”

“sepertinya ibumu mempunyai ikatan dengan planetku. Ah~ Ayo kita kerumah Hyera saja. Kalau dijelaskan disini, bisa-bisa semua orang mengira aku gila.” Luhan menarik tangan Lay menuju rumah Hyera.

Sedangkan Hyera sendiri berjalan dibelakang Lay dan Luhan dengan membawa dua es krim yang sebelumnya diminta oleh Luhan.

“Luhan-ah, kau melupakan ini? Huh~!” Hyera memberikan es krim itu ke Luhan dengan hembusan nafas berat.

Luhan menerimanya dan segera memakannya. Tak lama, mereka bertiga sampai dirumah Hyera. Hyera memutar kuncinya saat sudah dipintu, kemudian membuka pintu rumahnya.

*_*_*_*

Mata Lay membulat sempurna saat Luhan menjelaskan tentang semuanya. EXO Planet, kalung EXO, Black Pearl, dan tujuannya kebumi. Lay sempat berpikir bahwa namja didepannya saat ini sedang tidak waras. Hyera meyakinkan Lay. Lay menatap Luhan sekali lagi. Wajah yang sangat polos untuk berkata bohong. Lay menghembuskan nafas panjang.

“kau masih tidak percaya? Huh~! Kau sama sepertiku saat pertama kali mendengar penjelasannya. Bahkan aku sempat berpikir bahwa dia sedikit gila.” ucap Hyera.

“aku akan mencoba percaya, Luhan-sshi.” ucap Lay.

Luhan tersenyum, “jangan memanggilku seformal itu.”

Lay mengangguk paham. Hyera tersenyum melihat satu ksatria telah ditemukan dan mulai bergabung. Tapi sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyatukan ke-13 ksatria –termasuk dirinya– dan menyatukan kekuatan mereka dalam satu bundaran penuh Black Pearl. Seperti yang dijelaskan oleh Luhan, masing-masing Black Pearl memiliki kekuatan tersendiri. Para ksatria pastinya akan memiliki kekuatan yang nantinya untuk berperang melawan Pasukan Demon.

Hyera beranjak untuk mengambil minuman, “sebentar ne, aku akan mengambilkan minuman untukmu.”

Lay mengangguk. Hyera pun pergi menuju dapur.

*_*_*_*

HYERA POV

Saat didapur, aku membuatkan 3 minuman. Untuk Lay, Luhan, dan tentunya aku. Aku berjalan menuju rak untuk tempat menyimpan peralatan memasak. Aku mengambil 3 cangkir yang nantinya akan aku isi dengan teh. Aku hanya memiliki itu dan air putih saja. Ku tuangkan secara perlahan air-air itu agar tidak tumpah. Cangkir sudah berisi minuman yang nantinya akan diminum untuk Lay dan makhluk asing itu. Huft! Jujur aku lelah mengurusinya. Menjelaskan tentang banyak hal, menyuruhnya untuk tidak banyak tingkah, dan yang terpenting agar ia tidak selalu mendinginkan kepalanya dilemari es. Itu hal terkonyol!

Aku telah selesai membuatnya. Aku berjalan menuju rak penyimpanan peralatan memasak. Tapi tiba-tiba saat aku mengambil nampan itu di rak penyimpanan, aku merasakan aneh. Ada hal yang terjadi padaku. Tapi apa? Aku mencoba menghilangkan perasaanku yang mungkin hanya imajinasiku saja. Aku meraih nampan itu dan langsung meninggalkan rak penyimpanan. Aku menaruh 3 cangkir berisi teh tersebut diatas nampan tadi. Pikiranku masih belum tenang. Tapi aku paksakan untuk cepat-cepat menghilangkan imajinasiku ini dan membawakan teh ini ke Lay dan Luhan.

Aku mengangkat nampan tersebut dan mulai berjalan menuju ruang tamu. Tangan dan kakiku gemetar. Ada apa ini sebenarnya? Aku merasakan perbedaan yang drastis pada tubuhku. Seperti…… Ah lupakan.

BRAKKK

Aku terjatuh. Kakiku lemas seketika. Aku menjatuhkan nampan itu. Dan aku yakin cangkir-cangkir itu kini telah pecah. Suara pecahan terdengar nyaring. Terdengar derap langkah kaki cepat menghampiriku. Lay dan Luhan.

“OMO!! Wae geure, Hyera-sshi?” Lay tampak sangat khawatir. Bahkan ia baru mengenalku, begitu dekatkah para ksatria sebenarnya? Sampai-sampai baru kenal saja sudah sangat akrab seperti ini.

Luhan menggendongku yang tergeletak lemas menuju tempat tidurku. Ia menjatuhkanku diatas ranjang. Tulangku rasanya sedikit sakit saat ia menjatuhkanku seperti itu. Walau diatas ranjang, tapi ranjangku itu keras. Kalau jatuh disitu akan merasa sakit. Untung saja aku sedang lemas seperti ini. Kalau tidak, akan ku omeli kau Xi Luhan!!

“sebenarnya dia kenapa?”

Lay membuka bicara karna terjadi keheningan.

*_*_*_*

AUTHOR POV

Luhan menatap Hyera. Tatapan khawatir, sama dengan Lay sekarang. Bahkan ia lebih khawatir. Lay seperti memiliki hubungan batin yang baik dengan Hyera. Ia bahkan terlalu cemas.

“sepertinya dia merasakan suatu hal yang terjadi pada ksatria lain dalam waktu yang bersamaan. Hyera akan merasakan sakit jika salah satu ksatria sakit. Hyera juga akan merasa senang jika salah satu ksatria senang. Dia memiliki hubungan batin yang sangat kuat.” ucap Luhan menjelaskan.

“apa Hyera akan seperti ini terus?” tanya Lay antusias.

Luhan mengangguk, “dia sudah ditakdirkan memiliki kekuatan seperti itu. Kekuatan yang tidak bisa diajarkan ke orang lain. Termasuk ke-12 ksatria. Dia sangat hebat.”

Lay beralih menatap Hyera yang masih terbaring lemah dengan nafas tak beraturan. Sepertinya salah satu ksatria sedang mengalami kesusahan sekarang. Pikiran Lay dan Luhan melayang masing-masing. Sama-sama menanyakan pertanyaan yang sama, ‘siapa ksatria yang sedang kesusahan sekarang?’

Tak ada yang menjawab pertanyaan mereka kecuali suara gaduh yang tiba-tiba terdengar diluar rumah Hyera. Rumah Hyera berada digang sempit didesa. Luhan meminta Lay untuk tetap diam ditempat, sedangkan dirinya sendiri berjalan menuju luar rumah.

Luhan menatap mereka. 5 namja menyerang 1 namja yang nafasnya sudah terengah-engah. Luhan melerai mereka.

“Hey! Apa kalian banci? Melawan saja harus keroyokan. Cih!”

Luhan tampak tenang ketika mencibir 5 namja itu. Sedangkan namja yang sudah terpojok dengan luka dimana-mana itu terdiam dengan badan yang gemetar. Kelima namja itu berjalan mendekat kearah Luhan. Luhan masih bersikap tenang.

BUGGG,

Luhan diserang oleh 5 namja itu. Luhan sempat tersungkur akibat pukulan yang terlalu keras. Namun ia tak menyerah. Ia merasakan sesuatu pada namja yang diserang tadi. Luhan menendang, memukul, dan bahkan membanting. Para namja pengeroyok itu mulai tak berdaya satu-persatu. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan Luhan dan namja yang masih terdiam disudut tembok.

Luhan berjalan mendekat dengan nafas yang tak beraturan. Ia berjongkok agar menyamai tinggi namja yang terduduk lemas disudut tembok. Luhan menatap namja itu lekat-lekat.

“go…. goma… wo.” Namja itu mulai berucap. Ia sangat gugup. Melihat skill beladiri Luhan yang sangat lincah membuat namja itu semakin takut.

“tak usah takut denganku. Ayo masuk. Aku akan menyembuhkanmu.” Ucap Luhan.

Luhan menarik tangan namja itu. Namja itu membungkuk sebentar karna tubuhnya belum begitu seimbang. Mata Luhan membulat sempurna saat melihat namja itu membungkuk. Kalung itu, kalung itu tergantung dileher namja itu. Luhan belum bertanya karna ia masih membantu namja itu berdiri dengan sempurna dan menuntunnya masuk ke dalam rumah Hyera.

Hyera sudah sadar. Lay dan Hyera bahkan terlihat berbicara dengan akrab. Luhan datang dengan membopong namja tadi. Wajahnya penuh dengan luka-luka. Luhan segera mendudukkan namja tadi ke sofa milik Hyera. Hyera ikut terduduk agar lebih mudah melihat namja yang dibawa Luhan masuk rumahnya.

“nugu?” tanya Hyera pada Luhan.

“molla. Tadi ada yang bertengkar diluar rumahmu. Saat aku melihatnya, ternyata dia dikeroyok oleh 5 namja berbadan lebih besar darinya.” jawab Luhan. Luhan tak langsung menjawab bahwa namja itu sebenarnya salah satu ksatria. Ia membiarkan Hyera dan Lay mengetahuinya dengan sendirinya.

Lay mendekat kearah namja tersebut, “annyeong haseyo, Zhang Yixing imnida. Kau bisa memanggilku Lay.” Lay memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“ah ne, annyeong haseyo. Byun Baekhyun imnida.” namja bernama Baekhyun itu mengenalkan dirinya lalu sedikit menundukkan kepalanya singkat.

Luhan datang membawa mangkok berisikan kain dan es batu untuk mengompres kepala Baekhyun. Hyera menatap Luhan.

“dari mana kau dapatkan itu, Luhan-ah?” tanya Hyera.

“dari tempat bersalju itu. Kau selalu memberikan salju keras ini kedalam minumanku.” ucap Luhan polos. Sementara Lay dan Baekhyun hanya bisa menahan tawanya.

“namanya es batu, Luhan-ah. Bukan salju keras.” Lay memberitahu dengan lembut. Kemudian ia beralih pada es batu dan kain yang ada ditangan Luhan.

Lay takut Luhan akan terlalu keras menekan es batu itu pada pipi Baekhyun yang memar akibat pertengkaran tadi. Jadi Lay memutuskan untuk mengambil alih es batu itu. Luhan menatap Lay, kemudian ia acuh dan duduk disamping Baekhyun.

“memangnya kau ada masalah apa dengannya? Sampai-sampai kau memar seperti itu.”

Baekhyun menunduk, “hanya masalah sepele. Aku hanya menjatuhkan Ipod dan headphone milik teman kelima namja yang menyerangku tadi.”

Hyera tersentak. Ia merasakan sesuatu. Ia merasa tau siapa yang di maksud Baekhyun.

“Oh Sehoon. Dia anak pemilik universitasku.” ucap Baekhyun.

“MWO?! Jadi dia anak pemilik universitas.”

“kau mengenalnya?” tanya Lay.

“aku juga pernah menabraknya waktu berangkat kerja ditoko Ahjussi Cho. Dia –” ucapan Hyera terpotong karna ingatannya dulu terlintas kembali.

“dia mempunyai kalung EXO dan Black Pearl !!”

“MWO??!!”

“hey, kalian membicarakan apa?” Baekhyun yang tidak tau apa yang dimaksudkan segera bertanya.

Hyera tidak menjawab. Ia beranjak dan mendekat kearah Baekhyun walau langkahnya sedikit gontai. Luhan membantunya berjalan.

“kau punya kalung?” tanya Hyera setelah duduk disamping Baekhyun.

“kalung? Tentu saja.” ucap Baekhyun sembari mengeluarkan kalung dibalik kaosnya yang sedikit basah akibat keringat. “ini?”

Lay dan Hyera terkejut, tapi tidak dengan Luhan. Ia sudah mengetahuinya.

“darimana kau mendapatkannya?” tanya Hyera menyelidik.

“eum… Dari Appa-ku, ia meninggalkan ini sebelum aku pindah ke Seoul untuk kuliah.” jelas Baekhyun.

“Appamu masih hidup? Syukurlah.” Lay berseru senang.

“Memangnya kenapa, Lay-sshi?”

“anniya, aku hanya ingat dengan anak-anak yang aku asuh selama ini. Mungkin sekarang aku tidak bisa merawat mereka lagi setiap pagi.” ucap Lay.

“wae?”

“karna kata Luhan aku harus fokus dengan semuanya. Terutama perang Demon.”

“maksudmu? Aku tak mengerti, Lay-sshi.”

“Luhan, tolong jelaskan.” pinta Hyera.

Luhan menghela nafas, “sampai kapan aku berhenti menjelaskan ini pada semua ksatria? Huh!”

Luhan menjelaskan semuanya. Membuat Baekhyun sedikit khawatir dengan kewarasan Luhan. Tapi itu semua nyata. Perang Demon akan segera dimulai pada gerhana matahari nanti. Semua ksatria harus dikumpulkan sebelum gerhana matahari. Ditambah dengan kekuatan mereka yang belum diasah.

Baekhyun mulai sedikit paham. Ayahnya pernah menuliskan Black Pearl dan kalung EXO yang ia pakai di surat kematiannya. Lay menatap Luhan.

“kau belum mengatakan hal itu padaku. Lalu apa kekuatanku? Aku harus berlatih mulai dari sekarang.” ucap Lay antusias.

“tidak, Lay-ah. Tidak bisa sekarang. Kita harus menunggu gerhana bulan dulu. Saat gerhana bulan tiba, masing-masing ksatria akan mendapat tanda kekuatan ditengkuk leher mereka. Sama sepertiku. Aku sudah mendapat tanda ksatria ini. Lambang telepathy. Kau juga akan mempunyainya. Kau juga, dan kau juga.” ucap Luhan menunjuk Hyera, Lay dan Baekhyun berurutan.

“lalu dimana kalungmu, Hyera-ya?” tanya Baekhyun.

“dia belum punya kalung.”

“MWO?! Lalu bagaimana nantinya kalau gerhana bulan segera tiba?” tanya Lay.

“entahlah. Hyera-ya, carilah ke tempat Ahjussi Cho. Dia menjual barang-barang antik, ‘kan? Dan aku rasa kalung seperti ini ada disana.” ucap Baekhyun.

“kenapa kau terlalu yakin? Apa kau pernah kesana sebelumnya?” tanya Hyera penuh selidik.

“aku hanya memprediksi.” balas Baekhyun. Hyera mengangguk.

“Luhan-sshi, bisakah kau mengantarku pulang?” pinta Baekhyun.

“tidak usah!” Hyera menahan Luhan yang sudah beranjak dari duduknya. “kau dan Lay tinggal disini.”

“MWO?!! Aku juga tinggal disini?” tanya Lay.

“kita akan mencari para ksatria bersama-sama. Jadi kita harus bersatu sebelum gerhana bulan. Dan kita juga harus mencari Black Pearl dan EXO untukku. Apa kalian lupa?”

“geure.” Lay dan Baekhyun mengangguk paham. Ucapan bijak dari Hyera benar-benar menandakan bahwa ia sudah setengah siap untuk jadi pemimpin perang nanti.

“tapi kan rumah ini sempit. Kalian akan merasa panas dan pergi ke tempat bersalju itu.” ucap Luhan.

PLETAKKK,

Hyera memukul pelan kepala Luhan. Secara tidak langsung, Luhan telah merendahkan Hyera didepan Lay dan Baekhyun. Namun itu sudah biasa, Luhan masih polos dan tidak tau apa-apa. Wajar kalau dia bicara secara ceplas-ceplos.

“Appo.” ucap Luhan.

“haha. Rasakan.” ucap Hyera tersenyum puas.

“kalau kita mencari ksatria sekarang bagaimana? Ini masih cukup pagi.” ucap Lay.

Luhan, Baekhyun dan Hyera menoleh kearah jam dinding milik Hyera. Menunjukkan pukul 9 pagi. Waktu mereka habis karena menjelaskan semuanya pada Lay dan Baekhyun.

“geure. Kajja!” ajak Luhan bersemangat. Yang lainpun hanya mengikuti langkah Luhan yang berada didepan.

*_*_*_*

Luhan, Hyera, Lay dan Baekhyun berjalan menyusuri kota Seoul yang sangat luas. Mereka menatap setiap orang yang berlalu lalang melewati mereka. Luhan bahkan sering bertanya pada Lay tentang apa yang ia lihat disana. Semenjak ada Lay, Luhan jarang bertanya pada Hyera. Hyera merasa sedikit bebas, namun juga sedikit…… kehilangan?

Hyera menatap kedekatan mereka bertiga. Sangat dekat. Bahkan seperti keluarga. Hyera merindukan saat seperti ini. Saat ia disayang dan dimanja oleh ayah ibunya. Tidak, Hyera tidak boleh menangis. Ia menatap keatas agar air matanya tidak keluar. Luhan, Lay dan Baekhyun tidak terlalu memperhatikan Hyera yang berjalan dibelakang mereka. Terlalu sibuk mengurusi Luhan yang terlalu ‘kepo’.

BRAKK

Hyera menabrak seseorang sehingga ia terjatuh bersama orang itu. Hyera tidak langsung menatap orang yang menabraknya. Melainkan menatap benda yang jatuh dihadapannya. Ipod san Headphone itu. Hyera mengingat sesuatu. Ia dengan cepat menatap pemilik Ipod itu. Ternyata benar. Namja yang beberapa minggu lalu menabraknya bahkan memarahinya. Hyera berdiri bersama dengan namja itu.

“kau lagi? Cih! Kenapa dunia ini begitu sempit?” namja itu kembali meremehkan Hyera, ia memasang Ipod dan Headphone-nya lagi.

“kau….. Orang yang pernah menabrakku waktu itu kan? Kenapa aku harus bertemu lagi denganmu, sih?” dengus Hyera kesal.

Sehun membuang muka, ia menatap Baekhyun dengan wajah yang masih terlihat memar. Sehun terkekeh.

“kenapa kau tertawa? Kau yang membuatnya seperti ini, kan?” tanya Luhan, ia berdiri didepan Baekhyun. Baekhyun memberitahu Sehun pada Luhan saat Sehun menabrak Hyera tadi. Amarah Luhan kembali meninggi saat mengingat kelima namja tadi menyerangnya.

“bukan aku.” elak Sehun.

“temanmu.” ucap Luhan cepat.

“kenapa kau jadi marah-marah padaku, huh? Memangnya siapa kau? Bahkan aku tidak mengenalmu.” ledek Sehun. Mata sayunya menatap manik mata Luhan lekat-lekat. Luhan tersentak melihat mata abu-abu milik Sehun.

Luhan melangkahkan kakinya maju. Berhadapan langsung dengan sosok Oh Sehoon. Namja pemilik universitas ternama di Seoul. Sekaligus Namja yang selalu bersikap seolah-olah dunia miliknya. Jantung Sehun memompa cepat saat melihat namja mungil didepannya dari dekat. Sangat cantik dan juga manly. Mata indah Luhan menatap dada Sehun. Sehun dengan cepat menyembunyikan dadanya dengan kedua tangannya.

“a-ap-apa yang kau lakukan?” tanya Sehun.

“hey tenanglah. Aku bukan bermaksud seperti itu. Aku namja tulen. Kau memiliki kalung itu?” tanya Luhan dengan cepat.

Mata Hyera dan Baekhyun membola ketika Luhan begitu lancangnya bertanya seperti itu.

“kalung apa?” tanya Sehun tak mengerti.

“ini?” tanya Sehun lagi sambil mengeluarkan kalung dari balik kausnya.

Luhan tersenyum, “kau salah satunya.”

“MWO?!!”

-TBC-

19 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 1

  1. JihaanXOXO berkata:

    aigoo bagus bgt thor ^^ chapter slnjutnya udh di publish ya aku mau baca hehe ^^ sehun kok songong bgt😦

  2. YuunieSsi berkata:

    Waahh,,,aqu baru nemu ni FF! Jadi mian baru baca+komen sekarang ne~
    Ceritanya DAEBAK Thor nan joha joha^^
    Heol,,Sehunnya songong bgt!! Dasar emang tuh maknae satu… Oiya, kok matanya Sehun warna abu2?? jgn2 dia juga anak raja planet exo sama kya Hyera O.O #sotoy
    Tapi biarpun dia songong plus suka masang muka lempeng atau datar,, Aqu tetep padamu HUN!! #lebay
    Nice story^^
    Oiya aqu juga pecinta ff Fantasy gg apa koq kalo romance’nya minimalis..kekee
    KEEP WRITING AND FIGHTING THOR^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s