FF EXO : BLACK PEARL Chapter 2

yaa

Tittle : Black Pearl

Author : Printa Park Yong Ae

Length : Chaptered

Genre : Fantasy, Friendship, Brothership, Little Comedy-,-

Cast : All Member’s EXO | Shin HyeRa [OC] | Ahjussi Cho

Annyeong haseyo…. Mianhae baru lanjut sekarang. Jeongmal Mianhae. Oh iya, maaf juga kalo chap ini lebih pendek / malahan tambah jelek. Maaf juga kalo typo bertebaran. Masih penulis amatiran😀 yaudah lah, lanjut baca aja dehhh. Happy Reading^^

_____________________________________________________________________________

Luhan melangkahkan kakinya maju. Berhadapan langsung dengan sosok Oh Sehoon. Namja pemilik universitas ternama di Seoul. Sekaligus Namja yang selalu bersikap seolah-olah dunia miliknya. Jantung Sehun memompa cepat saat melihat namja mungil didepannya dari dekat. Sangat cantik dan juga manly. Mata indah Luhan menatap dada Sehun. Sehun dengan cepat menyembunyikan dadanya dengan kedua tangannya.

“a-ap-apa yang kau lakukan?” tanya Sehun.

“hey tenanglah. Aku bukan bermaksud seperti itu. Aku namja tulen. Kau memiliki kalung itu?” tanya Luhan dengan cepat.

Mata Hyera dan Baekhyun membola ketika Luhan begitu lancangnya bertanya seperti itu.

“kalung apa?” tanya Sehun tak mengerti.

“ini?” tanya Sehun lagi sambil mengeluarkan kalung dari balik kausnya.

Luhan tersenyum, “kau salah satunya.”

“MWO?!!”

.

“salah satunya bagaimana maksudmu? Namja menyebalkan seperti dia adalah salah satunya?” Hyera tampak tidak terima.

“calm down!” Lay menahan lengan Hyera yang akan melangkah maju.

“apa maksudmu?” tanya Sehun kali ini.

“kau adalah ksatria. Oh Sehoon. Kau ada didaftar itu.” ucap Luhan. “iya kan, Hyera-ya?”

Hyera melebarkan matanya saat membaca rentetan nama pada kertas itu. Dan benar saja. Nama Sehun berada paling bawah dikertas itu. Artinya……….

“jadi dia adalah yang termuda? OMONA !!”

Lay dan Baekhyun serentak merebut kertas yang dibawa Hyera dan dibacanya bersama. Baekhyun dan Lay ikut melebarkan matanya kaget. Ternyata namja yang ada didepan mereka saat ini adalah dongsaeng mereka nantinya. Lay berjalan mendekat kearah Sehun.

“kau begitu imut !” Lay dengan segera mencubit kedua pipi Sehun. Sehun menepisnya, ia mengelus pipinya yang sedikit memerah karena cubitan Lay –atau karena malu?–

“Lay-ya! Kenapa kau malah jadi seperti itu? Apa kau lupa? Dia yang mencelakai Baekhyun-ah!” ucap Hyera.

“dia adalah dongsaeng kita nantinya. Dan……. sepertinya umur kalian tidak begitu terpaut jauh.” ucap Lay sambil menatap Hyera dan Sehun bergantian dengan senyuman devil.

“sekarang kau malah berpikiran macam-macam.” ucap Hyera.

“sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti!” seru Sehun.

“Luhan-ah……. Jelaskan lagi ne?” pinta Hyera sebelum Luhan marah.

Luhan menarik nafas. Ia pun menjelaskan semuanya. Se-detail mungkin. Sampai-sampai Sehun tidak diberi kesempatan untuk bertanya.

“jadi? Aku dan kalian semua adalah ksatria?” tanya Sehun.

“begitulah.” ucap Baekhyun akhirnya.

“huft!” Sehun membuang nafasnya. “hyung.”

Baekhyun menoleh cepat karena merasa panggilan itu untuknya.

“mianhae.” ucap Sehun. “aku benar-benar marah padamu saat itu. Tapi sekarang kita adalah keluarga. Apa kau mau memaafkanku, hyung?”

Sehun mengeluarkan puppy eyes nya. Membuat siapapun yang melihatnya ingin mencubit pipi Sehun, seperti yang dilakukan Lay tadi.

“aigo~ Kau sekarang mulai berani mengeluarkan jurusmu itu, Sehun-ah.” Baekhyun berjalan mendekat dan mengelus rambut Sehun. “tentu saja aku memaafkanmu. Karena kau dongsaengku!”

“gomawooooo.” Sehun memeluk Baekhyun. Pelukan tulus yang pertama kali ia dapat dari seorang yang sangat baik. Bahkan setelah 17 tahun terakhir. Sehun ditinggalkan oleh orang tuanya, menuju kealam yang berbeda.

*_*_*_*

“aku turut berduka, Sehunnie.” ucap Luhan pada Sehun setelah Sehun menceritakan kisah hidupnya, terutama kisah meninggalnya orangtuanya.

sehunnie? Kenapa ia memanggilku Sehunnie? Panggilan itu biasa diucapkan oleh kedua orang tuaku.” batin Sehun saat Luhan mengucapkan ucapan berdukanya.

“kenapa memandangku seperti itu, Sehunnie?” tanya Luhan.

Sehun terkejap. Ia membenarkan posisi duduknya dan membuang muka sesaat. Kemudian menatap Luhan lagi.

“anniyo. Tapi, panggilan itu biasa diucapkan oleh Umma dan Appa ku.” ucap Sehun.

“maaf kalau aku mengingatkanmu tentang mereka, Sehunnie. Tapi entah kenapa aku ingin memanggilmu seperti itu.” ucap Luhan.

“gwaenchanna, hyung! Aku merasa nyaman dengan panggilan itu.”

“kalau begitu aku juga boleh memanggilmu seperti itu, dong?”

“Shireo! Hanya Luhan Hyung yang boleh.” balas Sehun pada Baekhyun. Sehun menjulurkan lidahnya pada Baekhyun, sementara Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

“pilih kasih!” celetuk Baekhyun.

“biarkan! Memangnya kenapa?”

“hey, sudahlah. Kenapa malah bertengkar seperti anak kecil sih?” tegur Hyera.

“Hyera-ya….” panggil Sehun. Hyera menoleh. “apa…… kau mau tinggal dirumahku? Bersama dengan Luhan hyung.”

Hyera melebarkan matanya, “Mwo?! Tinggal dirumahmu?”

Sehun mengangguk antusias, “ne! Kau boleh tinggal disana sampai kapanpun. Aku merasa kesepian tinggal dirumah itu sendiri.”

“lalu kau anggap apa para pembantumu? Hantu, huh?” tanya Luhan.

“anniyo. Aish, aku bosan tinggal dengan Ahujmma Cho. Dia terlalu perhatian denganku.” jelas Sehun. “bagaimana?”

Hyera menatap Luhan, “ottokhe?”

“terserah kau saja.” kata Luhan, kemudian menyeruput bubble tea milik Sehun.

“ya! Itu punyaku, hyung!”

“aku hanya meminta sedikit saja. Rasanya …….. enak!” seru Luhan. “minuman apa itu, Hyera-ya?”

Hyera menghela nafas, “itu bubble tea.”

Luhan mengangguk, kemudian terdiam melihat Sehun menghabiskan bubble tea miliknya –Sehun–

“tunggu sebentar.” Hyera menatap Luhan, “darimana kau bisa meminum bubble tea itu? Siapa yang mengajarimu?”

Luhan kembali menutup telinganya karena cerocos dari Hyera.

“aku melihat cara meminum Sehunnie.” balas Luhan.

“ternyata kau memperhatikanku terus ya!”

*_*_*_*

“Sehunnie, ini rumahmu?” tanya Baekhyun. “besar sekali!”

“aigo~! Kau tidak boleh memanggilku seperti itu, hyung!”

“mian. Aku senang memanggilmu seperti itu. Hehe.” Baekhyun terkekeh.

“Sehun-ah, lalu dimana kami tinggal? Dikamar yang mana?” tanya Lay. Ia membawa pakaiannya yang baru saja diambil dari tempat pengasuhan anak yang tempati sebelumnya.

“dilantai 2. Disana ada banyak kamar. Kalian bisa memilih sepuas kalian.”

“wah, jinjjayo?” tanya Baekhyun tak percaya. Ia melepas tas koper dari pegangannya dan memeluk dongsaengnya itu. “gomawo~!”

Sehun tak membalas pelukan Baekhyun, ia hanya berceloteh pelan. “hyung ini seperti anak kecil saja.”

“aku terlalu senang, Sehun-ah.”

“Luhan-ah, sekarang kau bisa tidur sendiri dikamarmu. Tidur diranjangmu sendiri, tidak disofa seperti kemarin.” kata Hyera.

“ne, Sehunnie gomawo.” ucap Luhan.

“baiklah, kalian harus istirahat. Besok kita cari 8 ksatria lagi.” ucap Lay. Ia sudah sangat mengerti sekarang, setelah mendengar penjelasan Luhan berkali-kali.

“tidak bisa.” sergah Sehun dan Hyera bersama. Mereka saling melempar pandangan.

“waeyo?” tanya yang lain penasaran.

Sehun terdiam, membiarkan Hyera yang menjawab dulu. Namun Hyera tampaknya juga sedang menunggu Sehun untuk menjawab terlebih dahulu. Sehingga mereka saling diam.

“sekolah.”  jawab mereka bersamaan.

“Aigo~ Kalian begitu menggemaskan!” Lay mencubit pipi Hyera dan Sehun.

“besok adalah hari senin, aku sekolah hari senin sampai kamis. Sedangkan hari jum’at sampai minggu aku biasa bekerja di toko Ahjussi Cho.” jelas Hyera.

“tapi kau sekarang sudah tidak bekerja lagi, kan?” ucap Luhan.

“ne. Tapi tetap saja aku masuk sekolah hari senin sampai kamis. Sisanya aku tidak tau harus melakukan apa dirumah sebesar ini.”

“kau bisa pindah sekolah denganku, Hyera-ya!” seru Baekhyun. “aku hampir lupa kalau aku juga sekolah. Hehehe.”

“ah ne! Kenapa aku juga tidak kepikiran sebelumnya, ya?” Sehun ikut berbicara. “kau bisa pindah kesana dengan sangat mudah, Hyera-ya.”

“bagaima– Ah ne ! Kau kan anak pemilik universitas. Iya kan?”

“darimana kau tau?” tanya Sehun. Ia menatap Baekhyun intens, “kau yang memberi tau ya?”

Baekhyun mengangguk, “apa tidak boleh?”

“tentu saja boleh.”

“baiklah, Hyera-ya, kau bersekolah di universitas Appa ku saja, ne?”

“geure.”

“lalu kami?” Lay dan Luhan mulai bertindak sebelum dilupakan (?)

“kalian bisa berkeliling dirumah ini, hyung.” ledek Baekhyun. “aku rasa sampai kami pulang nanti, kalian sudah selesai mengelilingi rumah ini.”

“ah… Ide bagus!” seru Luhan sembari tepuk tangan.

PLETAK,,

“appo!”

“kau ini, hyung. Terlalu polos.” cibir Lay. “apa kau tidak mempunyai rasa lelah? Huh?”

Luhan tersenyum kikuk.

Sedangkan Baekhyun, Sehun dan Hyera tertawa terbahak-bahak akibat polah makhluk luar angkasa ini.

“oh iya.” ucapan Baekhyun menghentikan gelak tawa dari Sehun dan Hyera. “kalian umur berapa?”

“aku? Aku 19 tahun.” balas Sehun cepat.

“aku juga 19 tahun.” jawab Hyera.

“Hyera-ya, kau lahir bulan apa?” tanya Baekhyun.

“hmmmm… Bulan April. Masih 3 bulan kedepan. Waeyo?”

“ya! Aku juga bulan April. Kenapa kau mengikutiku, huh?” Sehun tidak terima.

“mana ku tau? Tanya saja pada orang tuaku. Kau lahir tanggal berapa?”

“tanggal 12 April.” jawab Sehun.

“omo? Kau…… lebih tua dariku?”

“memangnya kau lahir tanggal berapa, Hyera-ya?”

“26 April.”

*_*_*_*

Saat makan malam telah tiba. Sehun dan teman-teman barunya duduk dimeja makan beserta segala jenis makanan yang tersedia di atas meja. Hyera sampai-sampai terus menelan ludahnya sendiri. Sementara Luhan bertanya pada Sehun tentang apa saja yang ada di atas meja. Sehun menjelaskannya dengan teliti.

“baiklah, Cap duseyo~” ucap Ahjumma Cho setelah memberikan menu makanan terakhir.

“gomawo, Ahjumma. Siksa haseyo.” ucap Sehun mempersilahkan.

Acara makan malam pun berjalan dengan lancar. Tanpa gangguan Luhan yang ‘kepo’.

.

.

Luhan dan Sehun kini berada di atap rumah Sehun. Luhan dengan leluasa berlarian diatas atap yang luas itu. Sehun hanya tersenyum melihat makhluk didepannya begitu senang dengan keadaan sekarang.

“Sehunnie, apa itu?” tanya Luhan saat ia berhenti berlarian dan memilih duduk ditepi atap.

“itu bintang.” balas Sehun dan duduk disamping Luhan.

Luhan menatap bintang yang bertebaran sangat banyak diatas langit malam itu. Mata Luhan berbinar. Ia benar-benar senang. Setidaknya ia bisa melihat pemandangan kota yang sangat indah ini. Sehun mengacak rambut Luhan gemas. Setelah itu keduanya saling tertawa.

“Sehun-ah! Luhan-ah!”

Luhan dan Sehun sontak menoleh kebelakang. Mereka mendapati Baekhyun tengah berlari menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik. Sehun dan Luhan berdiri dan menatap Baekhyun dengan tatapan bertanya.

“Hyera.” ucap Baekhyun sambil mengatur nafasnya. “ia kembali pingsan.”

Luhan dan Sehun membelalakkan matanya dan berlari meninggalkan Baekhyun yang masih terengah-engah. Ia tidak ikut berlari. Ia masih lelah. Berlari dari jarak lantai 2 menuju lantai 4 -tanpa atap- bukanlah dekat.

.

.

“Hyera-ya!” Sehun mengguncang bahu Hyera yang tergeletak ditempat tidur kamar Hyera. Luhan ikut melihat keadaan Hyera.

“Luhan-ah. Hal ini terjadi lagi?” tanya Lay. Ia teringat ketika Hyera pernah pingsan karena merasakan kesakitan pada salah satu ksatria.

Luhan mengendikkan bahu, “molla. Sepertinya iya. Tapi……”

Luhan menautkan kedua alisnya. Matanya tertuju pada dada *jangan ngeres plisss* Hyera. Bersinar. Ia menatap Sehun dan Lay bergantian. Mereka sama sekali tak merespon tatapannya. Justru mereka malah menatap Luhan dengan tatapan bertanya. Luhan dapat memastikan bahwa hanya ia lah yang bisa melihat sinar itu.

“dia….. Sepertinya dia kembali.” gumam Luhan.

*_*_*_*

Sudah 3 jam Hyera belum siuman dari pingsannya. Membuat Sehun, Baekhyun, Lay dan bahkan Ahjumma Cho panik. Luhan sendiri sudah tau kenapa Hyera bisa pingsan. Sesuatu sedang terjadi. Ini berbahaya.

“Luhan-ah, bagaimana?”

Luhan tersentak ketika seseorang mengagetkannya dari lamunannya. Luhan menoleh, Baekhyun menatap Luhan dengan wajah panik. Luhan masih saja mengendikkan bahu. Ia belum mau cerita tentang hal ini. Ini tidak baik. Waktu yang tidak pas.

“aku takut terjadi apa-apa padanya.” lirih Lay.

“tenanglah, semua akan baik-baik saja.”

Sehun menenangkan Lay. Ia menepuk pelan punggung Lay agar merasa sedikit tenang. Lay mengangguk lemah sambil terus memandangi wajah Hyera.

Sesuatu terjadi, jemari Hyera perlahan bergerak. Perlahan kelopak matanya ikut terbuka diiringi dengan keterkejutan Lay, Baekhyun, Luhan dan Sehun. Setelah Hyera membuka mata sempurna, Lay langsung memeluk Hyera. Ia sangat khawatir.

“kau baik-baik saja?” tanya Lay. Ia melepas pelukannya.

Hyera mengangguk, “aku tadi bermimpi.”

“mimpi apa?” Luhan dan Baekhyun serentak bertanya.

“aku ingin minum dulu. Aku haus.”

Sehun segera mengambil segelas air di nakas samping tempat tidur Hyera yang tadi sudah disiapkan oleh Ahjumma Cho.

“gomawo.” Hyera meneguk habis minumannya.

*_*_*_*

“jadi kita harus segera mencari para ksatria itu secepatnya?”

Hyera mengangguk untuk membalas pertanyaan dari Sehun.

“tapi Hyera-ya. Kau belum mempunyai BLACK PEARL seperti yang lain.” ucap Baekhyun.

Hyera menunduk. Membuat Lay menyenggol Baekhyun karna perkataannya tadi.

“kita akan mencarikannya untukmu. Kau kan pemimpin kita nanti.” hibur Baekhyun. “iya kan Luhan hyung?”

Luhan tersentak, “te… tentu saja.”

“baiklah. Ini sudah malam. Ayo tidur.” ucap Sehun yang sedari tadi sudah menguap beberapa kali.

“selamat malam, Hyera-ya.” ucap Lay lembut sebelum keluar kamar Hyera. Hyera mengangguk.

*_*_*_*

Kini ke 5 ksatria tengah berjalan menuju toko barang antik milik Ahjussi Cho. Hyera sempat menolak, namun apa boleh buat? Ini juga demi kepentingannya.

KRLING !!

Bel pintu berbunyi ketika pintu toko terbuka. Di meja kasir berdiri seorang lelaki paruh baya tengah menatap sebuah kalung dengan wajah sendu. Mungkin ia teringat seseorang dengan kalung itu.

“annyeong haseyo, ahjussi.” Hyera memulai percakapan karna sedari tadi Ahjussi Cho hanya terdiam.

Ahjussi Cho terkejap, ia baru sadar ada orang yang memasuki tokonya. Ia segera menyimpan kalung itu di kantung celananya kemudian menatap Hyera dan teman-temannya.

“Shin Hye, kenapa lagi kau kemari?”

“Shin Hye? Nuguya?” Luhan tampak bingung dengan panggilan Ahjussi Cho dengan Hyera.

“itu namaku.” bisik Hyera.

“Ahjussi, aku ingin mencari sebuah kalung mutiara hitam bernama……..” Hyera melirik Luhan dibelakangnya. “apa?”

“Black Pearl.” balas Luhan.

“bernama kalung BLACK PEARL.” ucap Hyera pada Ahjussi Cho.

“hm? Black Pearl? Aku tidak punya kalung seperti itu, Shinhye-ya.”

Pandangan Hyera yang semula bersemangat, berubah menjadi sedih.

“jinjja-yo?” Baekhyun mulai berbicara. “mana mungkin tempat seperti ini tidak ada kalung bernama BLACK PEARL?”

“mana mungkin aku berbohong, anak muda.” sergah Ahjussi Cho. “aku selalu jujur. Kalau tidak percaya, tanya saja pada Shinhye.”

Hyera mengangguk sebelum teman-temannya bertanya, “yasudah, Ahjussi. Kami pergi du– Ahjussi, itu kan Ahjumma Cho!”

Sehun dengan cepat menoleh kearah Hyera yang tengah menunjuk kalung berbentuk cinta dengan foto seorang perempuan, itu adalah bibi Cho atau akrab dipanggilnya Ahjumma Cho.

“Ahjussi ini…….. Cho Kyungrim? Suami ahjumma Cho?”

Ahjussi Cho hanya membuang pandangan kearah lain. Ia dengan cepat memasukkan kalung itu ke dalam saku celananya lagi. Kemudian bersikap setenang mungkin.

“Ahjumma Cho? Cho Kyungrim? Namaku memang Cho Kyungrim. Tapi aku tidak mengenal orang yang kau maksud, anak muda.”

“Ahjumma Cho Hyunmin.” ungkap Sehun cepat. “Ahjumma Cho selalu saja bernyanyi sendiri didapur ketika sedang memasak. Dia selalu mengganti liriknya menjadi ‘Kyungrimiie’.”

“apakah benar?” Kali ini nada bicara Ahjussi Cho tampak begitu antusias.

“tentu saja.” balas Sehun. “jadi benar Ahjussi ini suami Ahjumma Cho?”

Ahjussi Cho mengangguk.

“lalu kenapa kalian berpisah? Ahjumma sepertinya benar-benar terpukul.”

“Hyunminnie yang pergi.” ucap Ahjussi Cho. “salah siapa dia meninggalkanku sendirian.”

“ck! Sudah tua masih saja berlagak seperti anak kecil.” ledek Lay pelan.

“ya! Aku mendengarmu, anak muda.”

Lay hanya terkikik sembari menggaruk tengkuknya malu. Lebih tepatnya tidak enak.

“kalau begitu kembalilah pada Ahjumma Cho!” seru Sehun. “kasihan Ahjumma sendirian.”

“weih? Seharusnya dia yang kembali kepadaku.” kata Ahjussi Cho. “ini rumah kami.”

*_*_*_*

“Ahjumma Cho !!” Sehun berseru cukup keras ketika sudah sampai dirumah besarnya. Sementara teman-temannya hanya menutup gendang telinganya.

“Aish! Tidak usah berteriak seperti itu, bodoh!” umpat Lay kesal.

Ahjumma Cho pun datang.

“Ahjumma, aku tadi bertemu dengan suamimu.” kata Sehun semangat. “beliau masih menyimpan fotomu, Ahjumma!”

Ahjumma Cho membelalakkan matanya kaget, bercampur rasa senang tentunya.

“dimana kalian bertemu dengannya?”

“tadi kami sedang mencarikan kalung untuk Hyera. Tapi si penjaga toko terus-terusan menatap kalung berliontin bentuk cinta dan didalamnya ada fotonya Ahjumma. Ahjussi sangat rindu dengan Ahjumma.”

“bagaimana kalau Ahjussi suruh tinggal dirumah Sehunnie saja?” usul Luhan. Baru kali ini ia memberi usul seperti ini.

“tapi tadi kan Ahjussi menolak. Katanya Ahjumma yang harus kembali kepadanya.” ungkap Lay.

“benar. Ahjussi yang ke rumah Sehun, atau Ahjumma yang dibiarkan kembali kerumahnya sendiri?” Hyera mengetuk bibir bawahnya bingung.

“kalau Ahjussi yang tinggal disini, dia bisa menjadi pembantu dirumah ini. Ya hitung-hitung membantu Ahjumma yang mulai sedikit tua. Iya kan?” Luhan kembali berucap. Usulnya kembali membuat Baekhyun terkekeh geli, usul Luhan sebenarnya sangat membantu, tapi ucapannya kadang terlalu polos.

“aish, jangan berkata seperti itu.” tegur Lay. “walaupun begitu, Ahjumma masih kuat membersihkan seluruh ruangan di rumah sebesar ini.”

“tidak seperti Baekhyun, dia berlari dari lantai 2 menuju atap saja sudah lelah.”

Baekhyun melotot, “kenapa aku? Aku lelah karna saat itu sedang panik. Kalau tidak, aku tidak mungkin lelah.”

“huh, alasan saja.”

*_*_*_*

Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah korden. Hyera mengerjapkan matanya beberapa kali, membiasakan sinar matahari agar tidak masuk begitu saja dimatanya. Baru setelah terbiasa, ia terduduk, kemudian mengucek kelopak matanya dan merentangkan tangannya.

Ia menurunkan kakinya dari ranjang, kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar. Dia harus mandi dan bersekolah. Tapi sebelum ke kamar mandi, ia beralih menuju kamar Luhan. Setidaknya ia harus mengecek makhluk asing itu, siapa tau ia berkeliaran dirumah sebesar ini.

“Aigo! Kemana alien itu!” pekik Hyera saat melihat kamar Luhan kosong, tidak ada siapapun disana.

Ia menutup pintu kamar Luhan, kemudian berjalan cepat menuju dapur. Siapa tau ia ada di depan lemari es, seperti yang Luhan lakukan saat tinggal dirumahnya. Tapi setelah sampai, ia tidak melihat siapapun disana. Bahkan Ahjumma Cho belum ada di dapur untuk membuatkan sarapan nanti.

Hyera berbalik badan, tapi yang ia dapati adalah Sehun. Eh? Sehun sudah bangun?

“mencari siapa?” tanya Sehun, kesadarannya belum pulih. Ia berjalan menuju lemari es, kemudian mengambil botor minuman dan meneguknya.

“alien itu.” ucap Hyera.

“ah, Luhan Hyung, dia dikamarku. Katanya tidak bisa tidur sendiri.” kata Sehun sambil mengembalikan botol itu kedalam lemari es-nya.

TAP.. TAP.. TAP..

Suara langkah kaki terdengar jelas dipendengaran Sehun dan Hyera. Mereka berdua saling diam sambil terus menatap pintu masuk dapur. Jaga-jaga siapa tau ada yang datang.

Suara langkah kaki itu semakin dekat. Jantung Hyera berdegup kencang. Ia tidak takut, tapi hanya sangat penasaran dengan siapa yang mempunyai langkah kaki itu.

-TBC-

9 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 2

  1. Kim Hyerim^^ berkata:

    hiyya thor~ daebak!!
    >__<
    aku suka peran.a Hyera disini. next thor! jangan lama" ne. . .
    q mnunggumu. . FIGHTING!!!!

  2. nabilla berkata:

    Daebbak thor!!! Tp kok ff’a mirip ff 12 forces and 12 knight Ɣɑ̤̥̈̊ ?? -_-? Tp ttp daebbak thor!! Saranghae :* #apaansih??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s