FF : TWO WORLDS Chapter 1

two worlds

Title : Two Worlds

Author : Printa Park Yong Ae

Length : Chapter

Genre : Fantasy, Horror, Brothership

Cast : Nam Hye Ji [OC] | Choi Junhong / Zelo

Other Cast : Kwak Aaron / Aron | Kim Hyoyeon | Krystal Jung | Moon Jongup |

Disclaimer : tokoh milik orang tua mereka masing-masing. kecuali OC karna dia yang buat namanya aku sendiri-.- alur cerita sedikit aneh dan ini murni dari pemikiran saya !!

© Copyright Printa’s 2013

Seharusnya bukan dia yang di sini. Seharusnya orang lain yang lebih tepat yang berada di sini. Ia masih terlalu muda. Ia masih ingin hidup lebih lama. Ingin merasakan jatuh cinta di usia mudanya. Jika ia sudah berada di tempat ini, artinya, jatuh cinta adalah larangan, terlebih pada anak manusia.

____

Gadis itu membuka lokernya cepat, kemudian menaruh buku yang tidak begitu penting. Tapi, matanya membulat ketika melihat sebuah gulungan kertas berada di dalam lokernya. Gadis itu mengambil gulungan itu, menaruh bukunya, dan menutup lokernya kembali.

Gulungan itu di ikat oleh sebuah pita abu-abu, gadis itu membukanya perlahan. Matanya fokus pada gulungan itu. Tampak sudah sedikit kusam, itu artinya gulungan itu sudah lama. Tapi, tadi pagi ia tidak menemukan gulungan itu di lokernya.

Berjalanlah menuju arah Utara, di atas bukit di belakang universitas, kau akan menemukanku. Pertemuan terakhir kita.

Gadis itu masih tidak mengerti. Pertemuan terakhir apa? Siapa? Kenapa?

“Hei!” teman gadis itu mengagetkannya, membuat gadis itu terlonjak kaget. Ia menoleh ke belakang, menatap sahabat karibnya itu.

“kau mengagetkanku, bodoh.” gerutu gadis itu sebal.

“hehe, maaf. Memangnya kau lagi apa? Tampak begitu serius jika di lihat dari kejauhan. Hey, itu apa? Surat tagihan listrik bulanan lagi?” canda sahabat gadis itu sambil tertawa, lalu merebut gulungan di tangan gadis itu, dan membacanya.

“aku juga tidak tau, Klee.” balas gadis itu murung, pada sahabatnya, Klee, atau Krystal.

“apa mungkin ini surat dari Junhong pabbo?” celetuk Krystal. Segera mendapatkan jitakan di kepalanya dari gadis disebelahnya.

“Zelo tidak bodoh sepertimu, tau! Dan berhenti memanggilnya dengan panggilan itu, Klee. Aku jijik.” kata gadis itu menggeliat jijik.

“aih, membela pacarnya, ya, Hyeji? Hahaha.” Krystal mencolek dagu gadis itu, Hyeji.

“diamlah Krystal Jung!”

Krystal membolak-balikkan kertas itu, dan ditemukannya sebuah bercak darah disana. Setelah itu, ia langsung memberi tau Hyeji mengenai ini.

“ini darah, kan, Ji?” Krystal menyerahkan kertas itu pada Hyeji.

Hyeji menatap bercak merah disana, persis seperti darah, namun, Hyeji rasa itu bukan darah. “ah, mungkin yang menulis ini sedang memakan makanan yang pedas, jadi bisa saja sausnya menyiprat ke kertas ini.” katanya dengan wajah tenang.

“tapi, jika itu saus, baunya bukan bau saus, Ji.” ungkap Krystal. Jujur, ia sangat takut dengan darah.

“sudahlah, jangan bahas ini terus. Aku kasihan melihatmu. Wajahmu bahkan sudah pucat.” ledek Hyeji. Kemudian terkekeh. Krystal ikut terkekeh, walaupun rasa takut masih menyelubungi hatinya.

*_*_*_*

Hyeji benar-benar datang. Ia sudah sampai di atas bukit belakang kampusnya. Dan, nihil. Tidak ada siapa-siapa disana. Tapi, suasana disini cukup menarik. Jadi, Hyeji menyempatkan diri duduk di bangku samping bukit untuk merasakan angin yang berhembung siang menjelang sore itu.

Hyeji tersenyum dan memejamkan matanya. Angin-angin itu terus menerbangkan anak-anak rambutnya.

“apa aku terlambat, Ji-ya?”

Hyeji membuka matanya, ia hampir saja terhuyung mundur jika bangku yang ia duduki tidak ada senderannya. Yang membuatnya kaget adalah, Zelo. Benar kata Krystal beberapa jam lalu, Zelo yang menulis surat itu.

Hyeji lalu menggeser duduknya agar Zelo dapat duduk di sampingnya.

“Ji, sudah lama di sini?” tanya Zelo lembut. Ia menatap Hyeji.

“tidak, aku baru saja datang kesini, dan tidak menemukan siapapun. Jadi, aku duduk disini, deh.” balas Hyeji riang, seperti biasanya. “kenapa menulis surat dengan gulungan seperti itu, Zelo-ya? Apa kau kehabisan pulsa sehingga tidak mampu mengirimiku pesan singkat lewat SMS?”

“bukan, bukan begitu. Hanya saja, aku ingin kau benar-benar datang ke sini.” ungkap Zelo mulai serius. Ditatapnya lekat-lekat mata kekasihnya.

“memangnya, kau mau kemana? Kenapa? Kau menulis ini pertemuan terakhir kita, kenapa?” tanya Hyeji.

“Ji-ya, percayalah. Aku akan kembali.” kata Zelo mendekap tubuh Hyeji lembut.

“aku rasa, maksudmu memelukku adalah pelukan terakhirmu, ya? Tolong jelaskan secara rinci, Zelo-ya. Jebal.” Hyeji melepas dekapan Zelo.

“aku tidak bisa.” balas Zelo sambil memandang lekat iris mata Hyeji.

“tidak bisa? Kenapa tidak bisa? Kau akan pindah ke luar kota?” Hyeji tampak menambahkan nada kecewa dalam ucapannya barusan. Nada kecewa yang membuat hati Zelo teriris.

“aku… Aku… Pokoknya aku tidak bisa. Aku akan pergi, Ji-ya. Kesempatan kita bertemu hanya beberapa kali. Dan, di sekolahan, jika kita bertemu, jangan sapa aku.”

“hah?!” Hyeji memekik kencang. “tidak menyapamu? Bagaimana bisa? Kau adalah kekasihku. Mana mungkin jika kita bertemu aku ti–“

“baiklah, kita putus. Kan? Kita bukan sepasang kekasih lagi.”

Hyeji menganga, matanya melebar. Ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan kekasihnya yang satu itu. Putus? Tidak mungkin. Hubungannya sudah bertahan kurang lebih 1 tahun. Dan tidak ada masalah selama itu.

“jangan bercanda seperti ini, Zelo-ya. Ini tidak lucu!” bentak Hyeji dengan suara bergetar.

“aku tidak bercanda, Ji.”

“stop! Jika memang kita putus. Jangan panggil aku dengan panggilan itu. Aku hanya akan menjawab ucapanmu jika kau tidak memanggilku ‘Ji’.”

Zelo terdiam. Ia tau, Hyeji pasti sedang shock mendengar penuturannya barusan. Entah kenapa, ia tega sekali mengucapkan hal itu pada Hyeji. Padahal, Hyeji adalah yeoja yang ia cari selama ini. Yeoja yang mampu membuat hidupnya lebih berwarna. Yeoja yang mengisi hatinya sampai penuh. Tapi sekarang, hatinya kembali kosong. Semuanya tumpah. Termasuk kenangannya bersama Hyeji.

“aku harus pergi.” Zelo berdiri, kemudian menatap Hyeji dengan ekor matanya. Hyeji menangis, ia tau itu. Hanya saja, tangisan Hyeji disembunyikan dalam telapak tangan mungilnya.

“pergi sana.” ucap Hyeji, dengan suara serak.

“aku tidak mungkin pergi tanpa mengucap kata perpisahan untukmu.” kata Zelo. Ia kemudian berbalik dan menarik dagu Hyeji.

Dan menciumnya. Sedikit lama, tapi, itu yang terakhir.

Zelo melepas ciumannya. Kemudian ia menatap wajah Hyeji yang kembali bersedih.

“ketika aku pergi, jangan menangis.” kata Zelo.

“bagaimana aku tidak menangis jika kau memberikanku ciuman terakhir?” Hyeji mengusap air matanya kasar. Ia ikut berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Zelo.

Tapi, langkah gadis itu terhenti saat pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang, Zelo. Gadis itu menoleh. Menampakkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

“percayalah, Ji, aku masih mencintaimu.” ucap Zelo. Lalu pergi menuju balik bukit, dan menghilang setelahnya.

Hyeji menangis lagi. Ia ingin sekali menahan lengan Zelo agar tidak pergi dari sisinya. Namun, Zelo dan dirinya sudah tidak ada hubungan apa-apa. Sudah tidak sepasang kekasih lagi. Hanya teman. Sebatas teman.

*_*_*_*

Lelaki tampan nan imut tu berjalan menelusuri jalan setapak yang ada di dalam hutan belantara. Ia berjalan sendirian, di kegelapan hutan itu. Waktu masih menujukkan pukul 13.00 KST, yang berarti masih siang. Tapi, karena hutan ini terlalu lebat, secercah berkas cahaya matahari sepertinya tidak mampu masuk melalui celah dedaunan.

Akhirnya namja itu sampai di sebuah rumah. Rumah menyeramkan di tengah hutan. Terlihat besar memang, namun, siapapun yang melihatnya, pasti akan bergidik ngeri dan lari tunggang-langgang meninggalkan rumah itu.

Namja itu masuk. Langsung disambut oleh beberapa teman se’kaum’ nya. Ia dirangkul, bahkan ada yang memeluknya. Yah, mungkin ini karena ia yang termuda disini.

“Zelo-ya, bagaimana?” Tanya namja yang tadi merangkul pundak Zelo. Zelo tidak langsung menjawab. Ia memilih diam, dan menunduk.

“kau masih belum mengatakan langsung padanya?” tanya namja yang memeluk Zelo tadi. Zelo masih tak bergeming. Ia masih menunduk.

“tidak mau bercerita?” namja yang merangkul Zelo tadi berjalan menjauh dari Zelo, kemudian duduk di sofa yang menghadap dengan televisi.

Namja yang memeluk Zelo juga mulai berjalan mengikuti hyungnya yang sudah menghadap ke televisi. Zelo masih mematung. Ia tidak tau harus berbicara apa. Padahal, jawabannya hanya ‘sudah’ atau ‘iya’ saja. Namun, jika ia menjawab seperti itu, ia tau apa yang akan terjadi setelahnya.

Krieeet,,

Pintu kembali terbuka, kini terlihat sosok cantik Shin Yoonjo dari balik pintu. Membuat Aron dan Jongup –namja yang tadi memeluk dan merangkul Zelo– kembali berdiri dan menyapa sosok cantik itu. Yoonjo datang membawa sebuah plastik yang mereka yakini isinya adalah makanan mereka.

“hey, Zelo-ya. Kenapa diam saja?” Yoonjo berjalan menuju dapur, diikuti oleh Jongup dan Aron. Zelo tergagap, ia kemudian tersenyum kikuk dan berjalan mengikuti Yoonjo.

“ya! Noona, kenapa porsiku sedikit sekali?” Aron tampak protes ketika Yoonjo memberikan porsi daging rusa itu lebih sedikit dibanding sebelumnya.

“aku juga sedikit sekali.” gerutu Jongup sambil menatap piringnya yang sudah berisi makanan hasil buruan Yoonjo.

“kok Zelo banyak banget, sih?” Aron kembali mengeluarkan protes.

“kalau hyung mau, hyung boleh bertukar makanan denganku.” ucap Zelo ramah. Ia sudah menyerahkan piringnya, namun, Yoonjo menahan tangan Aron.

“eits! Itu makanan kalian. Tidak boleh ada yang bertukar. Kalian tau, kan? Zelo harus makan banyak biar dia bisa kuat.” ucap Yoonjo sambil menaruh daging buruannya di atas piring.

“kuat apa? Kuat membunuh anak-anak sekolah berdarah AB- ? Cih, kau ini menyebalkan.” ketus Jongup, kemudian memakan daging rusa itu dengan sekali lahap.

Ucapan Jongup barusan membuat Zelo melotot. Ia menatap teman-temannya itu bergantian. Apa? Membunuh anak berdarah AB-? Apa itu artinya aku harus membunuh….. Ji ?

Jongup melambaikan tangannya di depan wajah Zelo, membuat Zelo tersentak kaget. “kenapa melamun?”

“hihi. Tidak apa-apa, hyung.” ucap Zelo sambil terkekeh kikuk. Kemudian ia melahap makanannya. Membuat Yoonjo tersenyum melihatnya.

*_*_*_*

“itu tidak mungkin, Ji-ya. Dia tidak mungkin seperti itu.” ucap Krystal sambil menatap iba sahabatnya yang tengah menangis dirumahnya ini.

“dia bilang, jika kami bertemu, tidak usah saling menyapa. Apa dia punya yeoja lain selain aku, ya, Klee?” Krystal menunduk, ikut merasakan kesedihan yang terpancar di wajah cantik Hyeji.

Tiba-tiba kakak tiri Krystal turun dari lantai dua, menghampiri dua bocah yang tengah bersedih bersama di ruang tamu.

“hey, Ji. Klee, kenapa tidak dibuatkan minum? –Loh? Ji-ya, kau menangis?” kakak tiri Krystal duduk diantara Krystal dan Hyeji. Membuat Krystal mendesis pelan.

“aku tidak apa-apa, kok, Unni.” balas Hyeji dan mencoba tersenyum.

“tapi, aku lihat pipimu basah. Aduh, jangan bohong, deh.” kata Hyoyeon, kakak Krystal.

“hey, kau, kenapa bengong? Cepat buatkan minuman untuk dia. Tidak punya belas kasihan sekali.” sembur Hyoyeon pada Krystal.

“haih! Memang bibi Kim kemana?” tanya Krystal, bukannya berdiri, Krystal malah bersandar malas disofa empuk miliknya.

“bibi Kim sedang repot. Sekali-kali kau membantunya kenapa, sih?” Hyoyeon malah mengomeli Krystal.

“cih, kakak tiri yang jahat. Geure, untung hatiku sedang baik sekarang. Awas saja nanti. Aku akan merubahmu menjadi sop daging.” kecam Krystal sebelum beranjak ke dapur. Sementara Hyoyeon masih terkekeh mendengar kecaman dari adiknya itu.

“dia memang selalu begitu. Sifatnya terlalu kekanak-kanakan.” ucap Hyoyeon pada Hyeji. Hyeji hanya tersenyum. “oh iya, ngomong-ngomong. Kau kenapa menangis tadi? Ada apa?”

Hyeji baru saja akan melupakan masalah itu sejenak. Namun Hyoyeon malah menguak kembali masalah itu. Membuat Hyeji tersenyum miris mengingat kejadian sepulang sekolah tadi.

*_*_*_*

Hari berlalu. Kini, hubungan Hyeji dan Zelo semakin renggang. Tidak ada celah dikeduanya. Jika bertemu, mereka bahkan tidak saling menatap, apalagi menyapa. Bahkan jika bertatapan, itu adalah tatapan kosong atau tatapan saling tidak mengenal. Zelo yang meminta, bukan Hyeji. Jauh dalam lubuk hati Hyeji, Hyeji ingin sekali menyapa Zelo. Walaupun sapaan sebagai teman. Hyeji sangat menginginkan itu. Namun, Zelo selalu berjalan lebih cepat ketika berpapasan dengan Hyeji.

Saat ini, Hyeji berada di gedung belakang kampus. Ia ingin melatih kemampuan basketnya lagi. Sendirian. Ya, suasana di gedung itu sepi tak ada mahasiswa maupun mahasiswi disana. Hyeji semakin bersemangat. Setidaknya, Hyeji tidak malu jika berlatih sendiri seperti ini. Toh jika ia dilihat banyak orang, yang ada kemampuannya malah menciut.

TAP, TAP, TAP

Hyeji mendengar suara langkah kaki. Menggema diseluruh pelosok ruangan kecil di sana. Hyeji terdiam. Ia mengambil bola basket yang terpantul agar terdiam dari pantulan bunyinya. Hyeji memasang telinganya baik-baik. Mencoba mendengar lebih jelas.

Suara itu kembali berbunyi. Kini, suara langkah kaki itu semakin mendekat. Hyeji semakin takut. Wajahnya pucat, keringatnya berjatuhan. Mengingat gedung sekolah itu sedikit, err– angker.

Suara itu berhenti. Hyeji berhenti bernafas. Takut-takut suara nafasnya membuat telinganya tidak dapat mendengar dengan baik.

Pundak kanan Hyeji terasa dingin, ia menoleh. Terlihat sosok namja berwajah manis disana. Berdiri sambil tersenyum memukau. Para gadis yang melihatnya pasti langsung terpana. Tapi tidak dengan Hyeji. Gadis itu sekarang malah merasa senyuman namja itu terasa menusuk, dingin, dan mematikan. -.-

Namja itu mendekat seiring Hyeji melangkah mundur. Karena resah terus-terusan melangkah mundur, Hyeji memutar tubuhnya dan berlari. Namun, namja itu lebih cekatan. Ia berhasil mendahului langkah Hyeji. Kini, mereka berdua ada di koridor sepi yang menghubungkan langsung dengan lapangan belakang kampus. Ya, perjelasnya, koridor jalan keluar.

Hyeji menatap manik mata itu. Ia merasa manik mata namja itu benar-benar membunuh. Hyeji masih saja mundur, tapi, sebelum tubuhnya terpentok tembok koridor, tangannya telah dicekal oleh namja itu. Dingin.

“hai, Ji.” sapa namja itu.

Hyeji membelalakkan matanya, mendengar namanya disebut oleh namja yang ia sendiri tak mengenalnya. Alis Hyeji bertautan.

“Ji, masih lupa denganku? Kenalkan, aku Park Chanyeol.”

-TBC-

2 thoughts on “FF : TWO WORLDS Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s