FF EXO : BLACK PEARL Chapter 5

cetar

Tittle : Black Pearl

Author : Printa Park Yong Ae

Length : Chaptered

Genre : Fantasy, Friendship, Little Comedy (maybe)

Cast : you can find in the story, thanks :*

thanks banget buat kalian yang udah mau baca dan tinggalin jejak disini. aku berasa cetar membahana banget tau.😀 pokoknya makasih banget atas support kalian. tetep tinggalin jejak ya. jangan jadi pembaca gelap pokoknya ^^

© Copyright 2013 Printa

“tidak kok. Hyera kalau tidur lucu banget. Aku dapat mengambil gambarmu tadi. Aku akan menyimpannya.” ucap Mir.

“ya! Mir-ah! Kau janji akan memberikannya padaku juga, kan?” Taemin merengut.

“aduh, kenapa fotoku disebar luaskan. Jangan! Berikan padaku ponselmu, Mir-ah!” kata Hyera. Tangannya menengadah, bersiap mengambil ponsel dari Mir.

“shireo! Kan yang memotretmu aku. Jadi, hak ku dong. Siapa suruh tidur didepan Bang Mir? Haha.” Mir tertawa puas melihat Hyera menggembungkan pipinya.

“kalian ini.” Baekhyun mengacak rambut Mir dan Hyera bersamaan. Ia sudah nampak akrab dengan teman-teman Sehun, rupanya.

“baiklah. Hyera-ya, Baekhyun hyung. Ayo pulang. Nanti Luhan hyung sama Lay hyung nyariin.” kata Sehun. Ia mengeluarkan ponselnya, bersiap menghubungi Lay untuk menjemputnya.

“aniya~! Pulang bareng aku saja,” Taemin menggoyangkan kuncinya. Membuat Sehun menurunkan fokusnya pada ponsel. “Hyera saja, bukan kalian semua.”

“aish!”

____

Jongin berjalan menuju sebuah supermarket yang ada didekat rumahnya. Dinginnya angin malam membuat Jongin mengatupkan jaketnya rapat-rapat. Tak lama kemudian, sampailah Jongin di supermarket.

Ia segera berjalan masuk. Jongin mengambil keranjang belanjaan, dan mulai mencari barang-barang untuk keperluannya. Tiba-tiba matanya menatap sosok lelaki yang sangat ia kenal. Oh Sehun. Lelaki itu adalah musuh bebuyutannya.

Jongin berjalan mendekat. Kemudian mengecek disekeliling Sehun, berharap Sehun sedang sendiri atau tidak membawa temannya. Dan ternyata benar. Sehun sedang berbelanja sendiri di supermarket ini. Ia segera berjalan mendekati Sehun, lalu membalikkan tubuh Sehun agar menghadap kearahnya.

“Ya! Apa-apaan kau ini?!” gerutu Sehun saat Jongin menarik bahunya kebelakang.

Jongin menyeringai, “berbelanja sendiri, Sehun-ah? Kemana teman-temanmu, huh?”

“ada perlu apa kau? Mengganggu saja.” kata Sehun sambil kembali mengambil keperluan barang dirumahnya.

“kau membuatku babak belur waktu itu, kau ingat?”

Sehun menghentikan aktifitas berbelanjanya. Pikirannya menelisik beberapa minggu –atau mungkin bulan– lalu. Dimana ia membuat wajah Jongin menjadi babak belur. Waktu itu ada perempuan yang membuat dua lelaki berparas tampan itu bertengkar. Mereka sama-sama mencintai perempuan itu. Hingga suatu ketika Sehunlah yang mendapatkan perempuan itu. Merasa kalah, Jongin melakukan perbuatan jahat. Ia merebut Pi Yo dari Sehun. Kemudian membawanya pergi.

Ternyata PiYo memiliki penyakit dalam yang serius. Namun Sehun dan Jongin tak mengerti itu. Saat Jongin membawa Piyo pergi. Piyo merasakan penyakitnya kambuh. Hingga akhirnya Jongin memilih untuk membawa Piyo ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit. Piyo dinyatakan meninggal. Sehun yang hanya mengerti jika Piyo meninggal karena Jongin, mulai menuduh Jongin sebagai dalang dibalik kematian Piyo. Ia kemudian menyusun rencana dimana ia akan membalas dendam pada Jongin karena telah membunuh kekasihnya. Sampai akhirnya kejadian beberapa bulan lalu itu terjadi.

Sehun menatap Jongin lekat-lekat, “bukankah itu sudah masa lalu? Kenapa kau ingin sekali kembali ke masa lalu?”

“siapa? Aku? Ah tidak. Aku sudah memiliki orang lain lagi.” kata Jongin dengan seringaiannya.

“Bagus kalau begitu. Tak usah mengusikku lagi tentang masalah itu. Kau bukan siapa-siapa. Kau hanya pengganggu hubungan orang.” Sehun menenteng keranjang belanjaannya menuju kasir untuk membayar.

“Geure. Nanti, aku akan menggandeng pacarku didepanmu. Kekasihmu itu tidak ada apa-apanya dengan gebetan baruku. Dan aku harap kau tidak merebutnya.” celetuk Jongin dari belakang Sehun. Ia kemudian meninggalkan Sehun. Sementara Sehun hanya berjalan menuju kasir tanpa memperdulikan celetukan musuhnya itu.

*_*_*_*

Sehun berjalan keluar supermarket. Ia memasuki mobilnya dan melesat menuju rumahnya. Didalam perjalanan. Ia terus mengomeli Luhan dan Lay. Pasalnya, ia kemari karena suruhan dari Luhan dan Lay. Mungkin mereka ingin Sehun menjadi mandiri. Jadi Sehun disuruh membeli perlengkapan dapur.

“kalau saja bukan Luhan hyung dan Lay hyung yang menyuruhku, aku akan melempar mereka dengan kaos kaki milikku.” omel Sehun lagi.

Tak lama kemudian, mobil Sehun sampai di halaman rumahnya yang besar. Ia mematikan mesin mobilnya, kemudian turun dari mobilnya dengan membawa plastik berisi bahan yang ia beli tadi. Dan memasuki rumah besarnya dengan wajah kesal.

“kenapa?” tanya Hyera ikut membawa plastik Sehun. Setidaknya ia sedikit meringankan.

“sedang kesal.” jawab Sehun, lalu langsung duduk di sofa. Sementara barangnya sudah dibawa oleh Hyera dan Cho Ahjumma. Tak lama kemudian, Luhan datang dan duduk disamping Sehun.

“kau habis bertemu musuhmu, ya?” tebak Luhan tepat. Sehun menoleh pada Luhan.

“bagaimana kau tau?”

“aku dapat membaca pikiranmu. Kau sedang mengomel tentang pertemuan singkatmu dengan musuhmu itu kan? Kim Jongin.”

Hyera yang baru saja akan menghampiri Luhan dan Sehun di ruang tengah, segera kembali dan bersembunyi dibalik pintu ketika mendengar nama itu. Kim Jongin.

“yah, dia yang membuat hidupku hancur seperti ini.” kata Sehun melas. Wajahnya semakin murung.

“sudahlah.” kata Luhan sambil menepuk punggung Jongin pelan.

“gara-gara aku bertemu dengannya tadi, wajah Piyo terus muncul dipikiranku. Aduh, Jongin sialan!” umpat Sehun sambil meminum air putih dingin yang baru saja disediakan oleh Cho Ahjumma. “awas saja, besok kalau aku bertemu dengan Jongin lagi, akan ku habisi dia.”

“jangan begitu. Dia kan ksatria juga.”

“MWO?!”

*_*_*_*

Mata Hyera ikut terbelalak begitu ia mendengar penuturan makhluk luar angkasa yang tampan itu. Kim Jongin. Namja yang menabraknya di kampus tadi adalah ksatria? Sama sepertinya?

“Hei!” tegur Lay sambil membawa jajanan ringan ditangannya. “ngapain disini?”

“OMONA! Aish, jangan mengagetkanku begitu.” omel Hyera sambil menatap Lay yang sedang asik memakan jajanannya.

“mau?” Lay menawarkan dengan mimik wajah yang lucu. Menggemaskan lebih tepatnya.

“anniyo. Makan saja.” tolak Hyera. Ia kembali menatap Luhan dan Sehun di ruang keluarga. Namun nampaknya mereka berdua –HunHan– tengah memperhatikannya. Hyera sampai salah tingkah sendiri.

“kau menguping, ne?” tanya Sehun, ia berdiri dan mendekati Hyera. Kemudian menarik Hyera menuju sofa lagi.

“anniya.” sergah Hyera. Ia duduk ditengah-tengah Sehun dan Luhan. Sementara Lay tidak mengikuti langkah Hyera dan Sehun ke sofa ruang keluarga. Sepertinya dia sibuk membantu bibi Cho atau Cho ahjumma memasak di dapur.

“lalu? Kenapa kau bersembunyi di balik lemari?” Luhan menatap bola mata abu-abu Hyera dengan tajam. “pasti menguping. Iya kan? Atau jangan-jangan kau kenal dengan Jongin?”

“anniya! Kenapa kalian malah mencurigaiku seperti itu, sih?!” elak Hyera sambil berdiri. Ia menjauhi Sehun dan Luhan. Lalu duduk sendiri.

“aih, Luhan hyung kan bisa membaca pikiran orang.” kata Sehun. Hyera membelalak. Tapi setelah itu mencoba berusaha tenang.

“kalau dia bisa, pasti aku nanti juga bisa.” ucap Hyera bangga. “kata Luhan Oppa kan semua kekuatan para ksatria akan ada padaku. Jadi kekuatanku akan sangat banyak.”

“aih! Mana boleh begitu.” Sehun menoleh pada Luhan. “kenapa aku tidak bisa seperti anak itu?” Sehun menunjuk Hyera.

“itu kan karna kau bukan pemimpin perang. Hyera adalah pemimpin perang nantinya. Apa kau lupa? Dulu aku menjelaskan panjang lebar padamu apa tidak kau perhatikan? Kau ini sekolah tapi tetap saja bodoh.” celoteh Luhan.

“heih? Kenapa kau malah mengomeliku sih?” Sehun tampak tak terima.

“memangnya kenapa? Kan benar begitu. Kau dibilangin tidak pernah mau mendengarkan. Jadinya kau bodoh seperti ini.” kata Luhan, lalu ia berlari menuju dapur.

“dasar.” umpat Sehun, lalu ia meminum minuman dinginnya lagi. Sementara Hyera duduk sambil membaca majalah.

*_*_*_*

“ayolah hyung, kau kan paling tua disini, harusnya kau yang menraktir kami. Kau ingat? Kemarin kan kami sudah membelikanmu kue coklat itu. Itu memakai tabungan kita loh hyung. Hyung harusnya bangga karna kami sudah tumbuh dewasa.” Tao menarik ujung baju belakang Kris sambil merengek meminta ditraktir samgyupsal oleh Kris.

“aih, diamlah sebentar. Aku harus mengerjakan tugas.” ucap Kris ditengah kesibukannya.

Mereka kini tengah berada di Cafe Seuta. Cafe yang cukup ramai dengan fasilitas sederhana. Namun ada fasilitas hostpot gratis disana. Sehingga sepulang kerja, Kris selalu mampir ke cafe yang lumayan dekat dengan kampusnya itu. Tapi, ketika ia tengah asik mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya, tiga sosok pengganggu datang menghampirinya. Kris hanya bisa pasrah. Mana mungkin ia akan mengusir ketiga namja yang memiliki watak kekanak-kanakan itu jika nyatanya cafe ini bukan miliknya? Itu lebih memalukan, bukan?

“kalian yang menyusulku kesini, kenapa jadi aku yang repot?” tanya Kris sambil menyeruput Mocca hangat miliknya. Namun matanya terus tertuju pada layar laptop yang membuka beberapa situs internet.

“aku lapar. Dirumahmu tidak ada makanan, hyung.” jawab Suho sambil meminum Mocca milik Kris.

“hei, itu milikku.” Kris merebut Moccanya, namun ketika ia menyedot Mocca-nya dari sedotan, tidak ada apa-apa. Ia mulai mengocok gelas plastik itu. Isinya kosong. Kris menatap Suho tajam.

“apa?”

“kau menghabiskan Moccaku bodoh.”

“habisnya kau kelamaan bermain laptop, sih.” kini gantian Xiumin yang berkicau. Ia sedari tadi terdiam karena menatap layar laptop milik Kris.

“aku bukan bermain, hyung. Aku sedang mengerjakan tugas. Lagian, uangku sedang menipis.” Kris menampilkan wajah ‘sok’ melasnya.

“haih? Namja sepertimu kehabisan uang?” Mata Tao membulat. Ia menggeleng seolah tak percaya. Bahkan ia berpura-pura shock dengan cara memegang pipi kanannya dengan tangan kanan pelan-pelan. Itu drama sekali, kan?

“aih, baiklah. Sekarang pilih makanan kesukaan kalian. Biar aku traktir. Puas kau?” mata Kris melotot pada Tao. Sementara Tao hanya tersenyum penuh kemenangan.

Ketiga namja itu segera berlari menuju meja bar untuk memesan makanan dan minuman ringan yang sudah tertulis di menu besar yang tergantung di dekat meja bar. Seorang pelayan cafe menyambut Suho, Tao, dan Xiumin dengan senyuman khasnya.

“mau pesan a–“

“aku Samgyupsal dua, minumnya Cappuccino dingin satu.” ucap Tao yang langsung dicatat oleh pelayan tinggi dan tampan itu.

“aku ddukbokkie sama bubble tea saja ya.” kata Suho sambil tersenyum.

“kalau aku……. Apa ya, aku bingung. Eung~ Bulgogi dan Mocca saja.” kata Xiumin sambil kembali menatap pelayan itu. Pelayan itu mengangguk dan mencatat semua yang dikatakan pelanggannya.

“baiklah, aku ulangi, ya. Samgyupsal dua, Ddukbokkie, dan Bulgogi. Minumnya Cappuccino, Bubble Tea, dan Mocca. Ada lagi?” tanya pelayan itu dengan sopan. Dan tak lupa memasang senyumnya yang khas.

“aku mau–“

“ah tidak, terima kasih, Park Chan Yeol.” ungkap Suho sambil membaca name tag yang ada di dada kanan pelayan itu.

“ah ne, baiklah. Tunggu sebentar ya.” ucap pelayan bernama Chanyeol itu, kemudian berlalu dari hadapan pelanggannya. Sepertinya ia memberikan catatannya pada juru masak di cafe itu.

Sementara Tao sudah dibawa kabur oleh Xiumin karna hampir saja memesan makanan lagi. Suho pun berjalan kembali ke mejanya tadi. Disana ia melihat Tao mengomeli Xiumin karena hal sepele tadi. Suho tak peduli. Ia duduk bersandar di sandaran kursi cafe yang sedikit membuatnya mengantuk.

“untung aku baik hati.” Xiumin menatap datar kearah Tao, kemudian ikut bersandar seperti Suho. “kalo tidak, aku akan membuangmu ke laut.”

“aish, diam lah.” tegur Xiumin dengan mata terpejam.

“kenapa kau memarahiku?” Tao menatap tajam Xiumin.

“karena kau berisik. Lihat Kris. Dia tampak diam tapi terusik oleh suaramu.” Xiumin melirik kearah Kris. Begitu juga Tao. Mereka langsung mendapat tatapan tajam dari Kris.

“kau juga diam, hyung.” suruh Kris dengan wajah datar. Ia kembali fokus dengan laptopnya.

*_*_*_*

Sehun dan teman-temannya makan malam bersama. Hanya ada suara kicauan dari mulut Luhan, ia selalu berisik ketika makan. Namun tak ada yang peduli. Mereka lebih peduli dengan kicauan cacing diperut mereka daripada kicauan dari mulut Luhan. Dan Luhan seketika diam ketika melihat sesuatu dibalik kaos Hyera bersinar. Tepatnya didaerah dada. Ia tak melihat secara ketara. Ia punya trik agar Hyera ataupun yang lainnya tidak menuduhnya macam-macam.

Luhan mengernyit. Akhir-akhir ini dada Hyera mengeluarkan cahaya. Ada apa? Apa itu merupakan ciri khas ketua perang Demon nanti? Tapi Luhan tidak pernah melihat cahaya yang muncul di dada seperti itu di dada orang tuanya yang notabene adalah pemimpin perang Demon beberapa tahun yang lalu.

“aku sudah habis.” Sehun menelungkupkan sendoknya, dan mulai bersandar sambil mendongakkan kepalanya. Matanya terpejam. Sepertinya ia menikmati suasana seperti ini. Tidak ada kicauan Luhan yang membuatnya pening. Itu karena Luhan tengah memperhatikan sinar tadi. Dan itu membuat suasana hening dan nyaman. “oh iya, Luhan hyung. Kata Lay hyung kau mendekorasi kamarmu?”

Luhan seketika langsung sumringah. Wajah seriusnya tadi langsung bahagia mendengar ucapan atau lebih tepatnya pertanyaan Sehun barusan. Dan dimulailah kicauan panjangnya. “iya. Kau harus melihatnya. Aku mendekorasi dengan baik!” Luhan menjadi semangat makan. “setelah ini akan ku tunjukkan kamarku.”

Sehun bersumpah tidak akan menanyakan Luhan tentang hal semacam ini lagi. Ia hanya akan membuat ucapan Luhan menjadi sedikit lebih banyak dari biasanya. Dan kini ia malah disuruh melihat hasil dekorasi Luhan. “ah tidak usah, malam ini melelahkan. Aku harus tidur lebih awal.” Sehun mencoba menghindar tanpa mau membuat hati Luhan sakit. Tapi beberapa detik kemudian, tangannya menepuk keningnya sendiri. Ia lupa kalau Luhan bisa membaca pikiran.

“oh tidak apa-apa. Kalau tidak mau melihat kamarku. Tapi kau harus tau jika aku membuat kamarku bagus. Itu saja.” Luhan tersenyum. Sementara Sehun tersenyum getir. Ia tau dari senyuman Luhan, namja itu pasti sedang sakit hati karena ia menolak ajakan Luhan tadi. Selanjutnya ia melihat senyuman Luhan meluntur. “aku kenyang.”

“tapi makananmu masih ada, hyung. Kau tidak boleh menyia-nyiakan makanan. Aku dan bibi Cho membuatnya susah-susah.” Lay mengeluarkan protes.

“tapi perutku sudah kenyang. Nanti kalau aku makan banyak, bisa-bisa aku gemuk.” celoteh Luhan. “aku tidak mau para yeoja itu berhenti memanggilku Pangeran Tampan lagi.”

Hyera menoleh cepat pada Luhan. Alisnya bertautan. Menatap Luhan dengan pandangan tak percaya. “Pangeran Tampan? Para yeoja? Siapa? Kau mengada-ada.” Hyera mengibaskan tangannya.

“aku tidak mengada-ada.” Luhan mulai berbicara dengan nada kekanakan. “aku jujur. Tanya saja pada Lay. Dia mengetahuinya. Ketika aku menyirami bunga di depan rumah, para yeoja disekitar perumahan akan memanggilku Pangeran Tampan. Mereka juga kadang memberiku makanan.” Luhan tersenyum bangga.

“kau punya penggemar, hyung.” kata Baekhyun disela makannya. “mereka pasti menyukaimu.” Baekhyun meminum air putih dan menelungkupkan sendok, tanda ia telah selesai makan.

“penggemar?” Luhan menatap Baekhyun dengan polos.

“ya, penggemar. Mereka memanggilmu dengan sebutan yang baik. Seperti….., Pangeran Tampan. Dan mereka memberikan makanan ataupun hadiah berupa benda untukmu. Itu artinya mereka menyukaimu, dan menjadi penggemarmu.”

“wah, ternyata di bumi sangat menyenangkan. Mereka memberiku makanan lezat dan gratis, ditambah mereka juga kadang memberikanku boneka. Kata mereka wajahku mirip boneka.” kata Luhan.

“lalu kemana bonekamu?” tanya Hyera. “kau membuangnya???”

“Aniyo!” sergah Luhan. “aku tidak membuangnya. Boneka itu ada dikamarku. Banyak sekali. Tapi aku tidak keberatan. Toh boneka itu sangat bagus untuk kupajang di kamarku.”

“wah, aku ingin melihatnya nanti.” ucap Hyera sambil meminum air putih miliknya. “tidak apa-apa kan?”

“aku justru senang ketika kau melihat kamarku.” Luhan tersenyum manis. Kemudian menatap Sehun dengan tatapan sedikit tajam.

“eh?” Sehun kaget.

“daripada seseorang yang pura-pura lelah.” sindir Luhan.

“aih. Mianhaeyo, hyung.” Sehun baru sadar ketika Luhan menyindirnya begitu. “aku tidak bermaksud.”

“ah, tidak papa. Kau kan lelah.” kata Luhan kembali menyindir. “dan setidaknya cepat pergi kekamar dan tidur lebih awal.”

“apa kau membenciku, huh?” Sehun mempoutkan bibirnya lucu. “mianhaeyo Luhan hyuuuung~” Kini Sehun malah bertingkah kekanakan. Membuat Luhan memutar matanya malas. Namun, ia tau. Sehun benar-benar menyesal. Ia bisa membaca pikiran orang, bukan? Dan ia membaca pikiran Sehun. Sehun benar-benar tulus meminta maaf padanya.

“oh iya, Hyera-ya. Tadi aku dengar kau, Luhan dan Sehun tengah berbicara tentang Jongin. Memang ada apa?” tanya Baekhyun yang memang tau siapa Jongin. Jongin terkenal di sekolah karena kenakalannya. Ia bahkan berani menatap bola mata kepala dosen sekalipun dengan tajam. Jongin berani dengan siapapun.

“eung!~ Aku bertabrakan ketika Han seonsaeng mengantarku ke kelas. Aku bertabrakan dengan…., Kim Jongin, benar?” Hyera menaikkan alisnya ketika mengatakan nama Jongin. “lalu kami terjatuh. Matanya tepat berada di depan mataku. Lalu pandangan kami bertemu. Ia kemudian bangkit dan menarik tanganku agar aku terbangun.”

“wah, jangan-jangan Jongin menyukaimu.” tebak Baekhyun asal.

“ssh!” Hyera mendengus. “dengar dulu ceritaku. Belum selesai.”

Baekhyun hanya mengangguk-angguk.

“lalu ia bertanya keadaanku. Yah, jatuh dengan Jongin diatasku membuat tubuhku sedikit sesak. Namun aku berkata jika aku baik-baik saja. Lalu, pandangan kami kembali bertemu. Tapi tidak selama tadi. Han Seonsaeng memanggilku dan menegur Jongin agar kembali kekelasnya. Lalu aku dan Han Seonsaeng kembali berjalan menuju kelasku yang satu kelas dengan Sehun.” Hyera menghela nafas. “aku menoleh kebelakang. Lebih tepatnya melihat Jongin yang masih terdiam disana.”

“wah, cerita yang menarik.” kata Sehun datar. “jangan-jangan yang dimaksud pacar baru Jongin adalah dirimu, Hyera-ya.”

“hah?! Apa katamu? Pacar Jongin? Aku bukan pacarnya. Kenal saja tidak. Kami hanya bertemu saat bertabrakan tadi pagi. Dan itu hanya berjalan 10 atau 15 menit saja. Sangat sebentar dan singkat.”

“kau ingin bertemu dengannya lebih lama?” tanya Sehun dengan alis dinaikkan.

“A-anniyo! Tentu saja tidak!”

“Lalu kenapa kau terlihat panik begitu?” tanya Sehun. Wajahnya memancarkan kemenangan.

“aish. Kenapa kau malah mencurigaiku yang tidak-tidak, sih!” gerutu Hyera.

19 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 5

  1. @Sofiaaulianissa berkata:

    wah tamabah asik thor🙂
    semoga hyera cs ketemu semua ksatrianya
    chapter 6 kutunggu ya thor pai pai🙂🙂🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s