FF EXO : BLACK PEARL Chapter 6

yaa

Tittle : Black Pearl

Author : Printa Park Yong Ae

Cast : you can find in the story, thanks

Length : Chaptered

Genre : Fantasy, Little Comedy, Friendship, Conflict

© Copyright 2013 Printa

“hah?! Apa katamu? Pacar Jongin? Aku bukan pacarnya. Kenal saja tidak. Kami hanya bertemu saat bertabrakan tadi pagi. Dan itu hanya berjalan 10 atau 15 menit saja. Sangat sebentar dan singkat.”

“kau ingin bertemu dengannya lebih lama?” tanya Sehun dengan alis dinaikkan.

“A-anniyo! Tentu saja tidak!”

“Lalu kenapa kau terlihat panik begitu?” tanya Sehun. Wajahnya memancarkan kemenangan.

“aish. Kenapa kau malah mencurigaiku yang tidak-tidak, sih!” gerutu Hyera.

_____

Hyera berjalan menuju kelas dengan wajah ceria. Ini hari kedua ia masuk sekolah. Ia juga akan bertemu Zelo lagi. Satu-satunya teman yang bisa membuatnya tertawa lepas.

“hei,” sapa seorang lelaki ketika bertemu dengan Hyera di belokan koridor. Hyera sedikit mendongak untuk melihat siapa orang yang baru saja menyapanya. Ah, ternyata Jongin. “bertemu lagi.” katanya.

“Oh, Hai, Jongin.” balas Hyera ramah. “kau mau kemana?”

“aku ingin mencarimu. Ternyata bertemu disini. Jangan-jangan kita berjodoh.” kata Jongin mulai mengada-ada. Ia mendapat pukulan pelan dari Hyera.

“kau ini bisa-bisanya. Ini masih pagi. Sudah mengeluarkan jurus playboymu lagi.” kata Hyera malu. “aku harus ke kelas.” ucap Hyera dan segera pamit. Namun langkah nya ditahan oleh Jongin.

“biar ku antar.” Jongin menarik pelan tangan Hyera. Ia berjalan beriringan sambil menggandeng tangan Hyera.

“ah, jadi merepotkan. Kelasku dan kelasmu itu jauh.” ucap Hyera. “aku tidak ingin melihat para yeoja cemburu.” lanjutnya sambil setengah berbisik. Pasalnya para yeoja sudah mulai menatapnya tidak suka.

“ah, perempuan-perempuan itu, aku tidak menyukai mereka. Aku menyukaimu.” ucap Jongin dengan senyumannya. Itu membuat pipi Hyera memerah seketika.

“jinjja.” gumam Hyera sambil menunduk. Ia memegang pipinya yang terasa hangat. “ah, sampai sini saja, Jongin-ah.” suruh Hyera.

Jongin berhenti. Ia menatap Hyera. “kenapa? Kelasmu masih di ujung sana.” kata Jongin sambil menunjuk kelas di ujung koridor ini. Koridor yang ramai penggemar Jongin.

“aku tidak suka caramu menggandengku.”

“Oh? Tidak suka? Kau bahkan yeoja pertama yang aku gandeng.” ucap Jongin seraya berkedip sebelah mata pada Hyera. Itu genit sekali.

Hyera tau, Jongin membohonginya. Hyera tidak ingin terjebak ke-playboy-annya Jongin. Kemarin Sehun bilang ia dan Jongin adalah musuh yang memperebutkan Piyo. Gadis dimasa lalu Sehun dan Jongin. Dan artinya bukan Hyeralah orang pertama yang Jongin gandeng. Mungkin Piyo?

“sudahlah. Jangan keras kepala.” kata Hyera sambil melepas gandengan tangannya perlahan. “terima kasih sudah mengantarku, Kim Jongin yang jelek.” Hyera segera berlari. Meninggalkan Jongin yang mematung ketika Hyera barusan menepuk pipi kirinya perlahan. Dan Jongin merumuskannya salah. Ia sudah mengira ini adalah lampu hijau untuknya. Dimana ia sudah dikasih pintu masuk untuk menjelajahi hati Hyera lebih dalam. Secara singkat, Hyera juga cinta kepadanya.

Oh ayolah, ini hanya komunikasi sebatas teman. Jongin bodoh.

*_*_*_*

Jongin berjalan menuju kelasnya dengan tatapan bahagia. Tangan kanannya terus memegang pipi kirinya yang barusan ditepuk pelan oleh Hyera. Entah kenapa, ia bisa begitu bahagia. Bahkan teman-temannya menatapnya aneh. Jelas saja. Jarang sekali Jongin tersenyum sendiri seperti itu.

“hei, kau ini kenapa?” tegur teman sebangkunya ketika Jongin sudah duduk disana. Jongin menoleh, tak menghilangkan senyumnya. “kau sakit?” temannya meletakkan punggung tangannya pada kening Jongin.

“aku tidak sakit.” balas Jongin, ia kembali menghadap ke arah depan. Jongin tiba-tiba menggeleng. “aku tidak sakit. Aku sehat, Chen.” balas Jongin pada temannya.

“lalu kenapa kau bertingkah seperti itu? Tidakkah kau sadar jika kau terus menjadi pusat perhatian anak-anak. Sadarlah Jongin bodoh sadar!” Chen menepuk kedua pipi Jongin.

Jongin terkesiap. Ia menatap Chen dengan tatapan tajam. Chen hanya terkekeh canggung pada Jongin. Tapi itulah Chen. Ia tidak takut pada Jongin. Padahal Jongin adalah murid paling ditakuti di sekolah ini.

“jelaskan padaku apa yang terjadi, Kim Jongin!” tuntut Chen.

“untuk apa aku menjelaskan padamu? Yang ada mulutmu yang ember itu menyebar luaskan rahasia ini.” kata Jongin sedikit menyindir.

“ayolaaaaaah,” rengek Chen manja. “kau baru saja menemukan uang jatuh dijalan?” tebak Chen yang langsung mendapat jitakan dari Jongin. “aw!”

“tidak, bodoh. Mana mungkin aku seperti itu.” balas Jongin sambil menggeleng cepat. “aku baru saja bertemu bidadari.” bisik Jongin.

“bidadari? Mana mungkin ada bidadari disini?” Chen menatap Jongin tak percaya. “kau gila, ya?” ucapan Chen barusan mendapat jitakan lagi dari Jongin. “aduh! Sakit bodoh!”

Jongin menatap Chen datar, kemudian berucap, “suaramu itu cempreng. Jika berucap, tenanglah sedikit. Kau terlalu cerewet.” kata Jongin.

“huh, lalu bagaimana dengan bidadarimu tadi?” tanya Chen dengan menekankan kata ‘bidadari’.

“dia berada dikelas yang sama dengan Sehun.” balas Jongin. “aku harus bertemu dengannya nanti. Aku ingin makan siang bersamanya.” katanya semangat.

“lalu aku bagaimana?” Chen menunjuk dirinya sendiri. “selalu ketika kau mempunyai gebetan baru, teman sampai dilupakan.” kata Chen.

“tidak, tentu saja kau harus ikut. Tapi jangan sampai kau menyukainya, ne?” kata Jongin. “aku akan memperlihatkan bidadariku padamu nanti.”

*_*_*_*

Zelo memandang Hyera aneh. Semenjak Hyera datang tadi, wajah Hyera terus-terusan memerah bak tomat matang. Ia pikir Hyera sakit. Namun, jika Hyera sakit, mana mungkin Hyera tersenyum sendiri? Eung, lebih tepatnya tersipu. Ia terusan tersipu sendirian.

“Hyera-ya, kenapa sih?” tanya Zelo setelah rasa penasarannya sudah dipuncak kepala. “Hyera sakit?” Zelo baru akan meletakkan punggung tangannya di kening Hyera, namun Mir menahannya.

“aku tidak sakit, kok, Zelo. Percaya deh.” kata Hyera. Ia kembali tersenyum sendiri.

“lalu kenapa wajahmu terus-terusan memerah seperti itu?” tanya Mir. “Sehun-ah, Hyera sakit tuh.”

“Mwo? Hyera-ya, kau sakit?” tanya Sehun. Ia meletakkan punggung tangannya di kening Hyera. “tidak panas.” kata Sehun. Ia menatap mata abu-abu Hyera lekat. Baru setelah itu, Sehun ikut tersenyum. “Aah~”

“wae wae?” tanya yang lainnya penasaran. Semua pasang mata langsung menatap Sehun dan Hyera dengan kening berkerut. “waeyo?”

Sehun melirik Hyera sambil menyeringai, bermaksud memancing Hyera. Hyera yang tau dilirik oleh Sehun segera menatap Sehun, dan melihat seringaian di wajah Sehun. Ia melotot.

“ssstt,” bisik Hyera sepelan mungkin. “jangan kasih tau siapa-siapa.”

Sehun menggeleng, ia mendekatkan kepalanya pada Hyera. “biarin.”

Sehun menjauhkan kepalanya lagi dari Hyera. Kemudian menatap teman-temannya yang menuntut penjelasan sesuatu. Oh ayolah, Sehun pikir teman-temannya benar-benar bodoh sampai tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Padahal ciri fisiknya jelas sekali terlihat.

“ayolah teman-teman, sepolos itukah kalian? Atau sebodoh itukah kalian?” cibir Sehun. Ia menyeruput minuman yang tadi ia beli. Kemudian tersenyum sambil menatap teman-temannya. “sadarlah.”

“huh? Apa yang kau katakan? Ayo cepat jelaskan yang sebenarnya. Aku sudah penasaran setengah mati.” kata Mir berlebihan. Ia menatap Sehun ddengan tatapan menuntut. Sehun sendiri harus menghela nafas sambil membuangnya pelan-pelan. Ia harus bersabat menghadapi temannya yang keras kepala satu ini.

“Shin Hye Ra, teman kita ini sedang merasakan……,” Sehun menggantungkan ucapannya sambil menatap Hyera yang sedang menatap tajam kearahnya. Sementara Sehun sendiri menatap Hyera dengan alis naik-turun. “jatuh cinta.”

“hah?!”

.

Teman-teman Hyera dan Sehun nampak shock. Hyera menatap Sehun yang dengan tenang meminum minuman Bubble Tea yang tadi dibeli Sehun sendiri. Hyera makin naik pitam ketika Sehun meliriknya sambil tersenyum polos dan seakan tidak ada apa-apa yang terjadi. Hyera memejamkan matanya sejenak, mencoba menyabarkan(?) dirinya agar tidak memakan Sehun bulat-bulat.

Hyera giliran menatap teman-temannya yang shock. Oh, lihatlah, bahkan Zelo sampai berpura-pura kehabisan oksigen. Ini lucu. Hyera terkekeh sebentar ketika melihat reaksi shock teman-temannya itu. Dia tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Perasaan ketika ia tengah merasakan jatuh cinta, dan teman-temannya bereaksi seperti ini. Tidak pernah.

“jinjja, Hyera-ya? Oh, eomma!” Taemin menepuk dadanya berkali-kali, seolah ia tengah patah hati. Tapi sebenarnya tidak seperti itu. Hanya ingin mendapat perhatian saja dari Hyera. “kenapa bukan aku saja? Lalu siapa namja beruntung yang kau cintai? Apakah tampan?” tanya Taemin penasaran.

Hyera menimang pertanyaan Taemin, berpikir dan memilih-milih jawaban yang tepat dan masuk akal untuk pertanyaan Taemin. Taemin dan yang lain menunggu jawaban darinya.

“cepat katakan. Aku penasaran seka–“

“annyeong haseyo, Hyera-ya!”

Ucapan Mir terhenti ketika melihat Jongin menghampiri meja mereka dikantin. Oh, bukan, lebih tepatnya menghampiri Hyera saja. Sehun menatap Jongin tidak suka. Tidak sopan sekali mendatangi sebuah meja dan hanya menyapa satu orang didalamnya? Pikir Sehun kesal. Jongin menatap Sehun.

“oh, Sehun-ah!” sapa Jongin sok akrab. Ia kemudian kembali menatap Hyera sambil tersenyum. Sungguh, ini pertama kalinya Jongin tersenyum semenjak kematian Piyo. “aku tadi menghampiri dikelasmu. Ingin mengajak makan dikantin bersama. Tapi sepertiya….., kau sudah bersama mereka.”

“mereka siapa? Kami juga teman Hyera, tau!” Zelo menegaskan keras kepada Jongin. “kau ini kenapa? Salah minum obat?” cibir Zelo.

“aku hanya ingin mengatakan kalau Hyera adalah……, gebetan baruku.” Jongin menarik tangan Hyera sampai Hyera berdiri, lalu merangkulnya.

Sehun dan yang lain terkejut mendengar penuturan namja yang terkenal dengan kenakalannya ini. Pasalnya, Jongin mengatakan ini dengan senyuman yang merekah. Bukan sebuah seringaian yang biasa dia lakukan. Dan Hyera sendiri merasa pipinya sudah memerah, dan sekarang ia malah merasa seluruh wajahnya memanas, memerah bak buah tomat.

“bicara apa kau?” Taemin hendak marah, namun ia tahan karena melihat wajah Hyera yang terlihat sumringah(?). Ia rasa Hyera juga suka dengan Jongin. “Opps!”

“waeyo?” Zelo berbisik pelan pada Taemin. “ada apa Taemin-ah?”

“kau lihat wajah Hyera? Dia terlihat senang.” balas Taemin tetap berbisik. Zelo menatap wajah Hyera yang memerah dan menunduk, dan jangan lupakan senyuman Hyera yang terus merekah. “sepertinya dia juga menyukai Jongin.”

“wah? Itu tidak mungkin.” kata Zelo sambil menggelengkan kepalanya.

*_*_*_*

“hahahahahaha!”

Lay mengernyit ketika mendengar suara tawa lepas dari Luhan. Entah apa yang sedang dilakukannya, tawa Luhan terdengar begitu lepas dan bebas. Lay yang penasaran segera berjalan menuju kamar Luhan. Di depan pintu, Lay menguping. Telinga kirinya ditempelkan pada daun pintu milik Luhan yang ada kertas bertuliskan Luhan’s Room. Dihias dengan pita dan sebuah krayon warna.

“apa yang dia pikirkan didalam? Ruang televisi ada di luar, kenapa dia malah tertawa sendirian didalam kamar? Apa dia sedang bermain laptop? Ah, kurasa dia belum begitu paham dengan alat elektronik di sini. Lalu, dia tertawa dengan siapa? Tertawa karena apa?” Lay berpikir keras ketika mendengar tawa Luhan lagi. Akhirnya Lay memilih masuk kamar.

“hei, Lay.” sapa Luhan, namun senyuman bahkan tawa kecilnya masih ketara. “ada apa?” tanyanya.

“eung, hanya memastikan.” ucap Lay, ia menatap sekeliling. Melihat dekorasi kamar Luhan yang benar-benar bagus. Namun bukan itu niatannya. Dia mencari apa yang menyebabkan Luhan tertawa, bukan melihat dekorasi kamar Luhan. “kau….. tertawa dengan siapa?”

“haha. Aku? Aku baru saja mendapatkan sebuah boneka yang bisa bicara dari tetangga sebelah. Lucu sekali. Coba dengarkan.”

.

Luhan memencet hidung boneka tedy bear yang ia bawa, kemudian boneka itu mengeluarkan suara.

Luhan Oppa so cute like me. Luhan Oppa so cute like me. I love Luhan Oppa.” kata boneka itu. Luhan kembali tertawa dengan keras. Lay ikut tersenyum melihat reaksi Luhan. Mungkin Luhan belum tau jika boneka itu sudah di beri radio kecil di dalamnya. Lay suka melihat Luhan yang masih polos.

.

“siapa yang memberikanmu boneka itu?” tanya Lay. Luhan menghentikan tawanya, menatap Lay dengan senyuman masih terpoles.

“tetangga sebelah. Itu, yang rumahnya berwarna coklat. Tapi katanya boneka ini dari temannya. Hah, rumit sekali. Tapi aku suka.” kata Luhan. Dia menaruh boneka itu di meja nakas disamping ranjang besar milik Sehun yang ada dikamarnya. “kau tidak memasak?”

Lay menggeleng atas pertanyaan Luhan, “tidak. Bibi Cho sedang pulang kampung(?). Kurasa kita akan memesan makanan delivery saja.” jawabnya. Dan Lay yakin, jawabannya sukses membuat kening Luhan berkerut. Ia yakin Luhan bingung dengan ucapannya barusan.

delivery itu memesan makanan lewat telepon. Kau tinggal menelpon mereka, dan makanan akan diantar. Mudah bukan?” ucap Lay saat ia melangkah keluar kamar, diikuti oleh Luhan. “lebih baik memesan makanan sekarang, ya? Aku rasa mereka sudah akan pulang.” Lay mengambil gagang telepon dan menelpon tempat makanan saji cepat antar. Sementara Luhan duduk sambil menatap kakinya yang ia ayunkan.

Luhan menoleh pada Lay ketika ia sudah selesai menelpon. Lay duduk disamping Luhan sambil meraih majalah yang ada dibawah meja. Sementara Luhan menatap Lay. Lay yang merasa ditatap kemudian menurunkan fokusnya pada majalah, matanya mengarah pada Luhan yang ada disampingnya. Kemudian Lay menaikkan alisnya.

“apa?”

“aku jadi penasaran dengan gadis yang memberikanku boneka itu, Lay-ya. Apa dia benar-benar menyukaiku?” Luhan membayangkan bonekanya lagi. “bukankah boneka seperti itu mahal? Maksudku, memesan dan membuatkan suara di boneka itu. Bukankah mahal?” tanyanya sambil menaikkan alis.

Lay menurunkan majalahnya, menutupnya dan meletakkan di atas meja. Ia menatap Luhan dalam.

“dengar. Lu Han hyung. Jika kau penasaran, kau cari sendiri siapa yang memberikanmu boneka tersebut. Dan…… cobalah berbalas budi. Maksudku, cobalah membalas kebaikannya. Dia telah memberikan boneka yang mampu membuatmu tertawa lepas sendirian dikamar. Dan ini kabar baik. Baru kali ini aku mendengarmu tertawa selepas itu.” ucap Lay. “kau harus mencari tau sendiri.” kata Lay dan kembali membaca majalah.

Luhan mencerna kalimat Lay barusan. Ia harus mencari sendiri. Dia harus berterima kasih pada orang yang memberikannya boneka itu. Besok? Pikir Luhan. Ia tersenyum simpul, ia sudah mendapatkan ide. Dia akan mencari orang yang memberikan boneka bersuara itu. Dia harus membuat orang itu sama tertawa lepas sepertinya.

*_*_*_*

Makan malam pun tiba. Lay sudah menyiapkan makanan delivery dengan rapi di atas meja makan. Dia dan yang lainnya sudah duduk anteng di kursi masing-masing. Dan mereka mulai berdoa dan mengambil makanan. Kemudian memakannya dengan tenang.

Luhan tidak berkicau malam ini. Mungkin karena dia sibuk memikirkan hari esok. Kalian ingat? Dia ingin mencari orang yang memberinya boneka bersuara itu. Dia makan dengan cukup tenang. Seperti yang lainnya. Namun sepertinya kicauan Luhan berpindah pada Sehun yang sedari cerewet. Dia terus-terusan membicarakan hubungan Hyera dengan Jongin.

“dan dia tersipu ketika Jongin berkata seperti itu! Taemin bahkan melihatnya. Aku juga berpikir jika Hyera menyukai Kim Jongin bodoh. Ck! Hyera-ya, jangan mencintainya. Ada orang lain yang lebih baik daripada Jongin.” kata Sehun yang terdengar seperti merengek. Hyera membuang nafas kesal, kemudian melanjutkan makan. Dia tidak memperdulikan cerocosan Sehun.

“Kim Jong In? Murid ternakal itu? Menyukai Hyera? Shin Hye Ra?” Baekhyun mulai membalas kicauan Sehun. “kurasa dia hanya ingin mempermainkan Hyera. Kau tau bukan? Jongin itu playboy.” ucap Baekhyun.

“aku yakin dia baik.” ucap Hyera singkat. Membalas ucapan Baekhyun yang beranggapan aneh pada Jongin. Dia sendiri tidak tau mengapa ia terus menerus membela Jongin ketika Jongin disudutkan oleh kata-kata milik Sehun ataupun orang lain. Dimatanya, Jongin itu sempurna.

“tuh kan! Hyera itu suka sama Jongin. Aish, lebih baik Zelo saja. Dia seratus persen lebih baik daripada Jongin.” omel Sehun. Kemudian ia meminum Cola-nya.

“lalu kenapa kalau Hyera suka Jongin? Kau cemburu hah?” tanya Luhan sambil menatap Sehun. Sehun menoleh cepat pada Luhan. Ia berharap Luhan tidak membeberkan pikirannya saat ini. Luhan kan bisa membaca pikiran seseorang. “Oh, ternyata benar.”

“aish.” Hyera meneguk air putih digelas samping piringnya. Lalu menatap Sehun dan Luhan serta Baekhyun. “Jongin itu baik. Dia tidak akan mempermainkanku. Dan, yah, Zelo memang mungkin lebih baik darinya. Namun, Zelo itu sahabatku.”

“lalu bagaimana jika Taemin?”

“oh ayolah, dia sudah memiliki pacar. Naeun sunbaenim. Apa kau lupa? Atau kau bodoh?” ucap Hyera. Ia menatap datar ke arah Sehun.

“eum……. Mir?”

“Mir? Hahaha. Kau bercanda. Dia sudah memiliki Taeyeon unni. Anak kelas sebelah yang cantiknya minta ampun itu.” kata Hyera sambil mengambil beberapa cemilan.

“lalu bagaimana dengan Sehun? Apa kau mau dengannya?”

“hey kau ini apa-apaan Luhan hyung?!” tegur Sehun cepat ketika Luhan mulai membeberkan pikirannya. Hyera menatap Luhan dan Sehun bergantian. “aku tidak mungkin menyukai yeoja macam dia?”

Hyera menatap tajam ke arah Sehun, “memang aku ini bagaimana?”

“kau ini cantik.” ucap Lay sambil tersenyum, memamerkan lesung pipi-nya. Membuat Hyera ikut tersenyum. “kau cantik dan akan menjadi pemimpin tercantik.” ungkap Lay.

“ah, kau berlebihan, Lay Oppa.” kata Hyera malu.

“kau ini …… kurang perfect. Kau juga tidak bisa memasak.” kata Sehun membalas pertanyaan Hyera tadi. “lagian, mana mungkin aku menyukaimu jika kau menyukai Jongin? Aku tidak ingin jika Jongin membunuhmu seperti Jongin membunuh Piyo.” ungkap Sehun.

Luhan menampilkan senyuman menyeringainya. Matanya menatap Sehun. Oh bodoh! Apa yang barusan ia katakan? Itu terdengar seperti sebuah kekhawatiran, kan? Jadi? Sehun khawatir dengan Hyera karena takut Jongin membunuh Hyera seperti Jongin membunuh Piyo? Lalu memang kenapa?

“kenapa kau tidak ingin Hyera mati ditangan Jongin?” tanya Luhan pada Sehun. Namun mendapat pelototan dari Hyera. Hyera pikir Luhan mendoakannya cepat mati. ._. “sst.” Luhan menyuruh Hyera diam.

“a-a-apa? Apa yang kau maksudkan? Tentu saja karena Hyera adalah pemimpin perang demon nanti.” kata Sehun gugup. “sudahlah, jangan bahas ini lagi.”

“aaaaa, aku tau kau menyukai Hyera.”

Sehun menatap Luhan. Tatapan membunuh lebih tepatnya.

-TBC-

maap ngaret ya beb. gue sibuk banget akhir-akhir ini. ci’elah. gue sibuk ngurusin twitter RP gue. yah, lagi demen main RP gue. alay yak? maap. :p ohiya, punya twitter RP juga kaga? kalo punya follow punya gue => @Njoyoo. Mensyen for followback ya beb.😉

gue ga tau mau bilang apa. tapi, makasiiiiiih banget buat yang udah ngomentarin. makasih buat yang udah ngasi semangat. makasih buat yang udah nge follow blog abal punya gue ini. yaampun terharu gue beb sumveh. yeudah, mampir kesini lagi yaaaak.😉 gomawoo

14 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 6

  1. leedongmi berkata:

    eumm panggil apa ya? author aja ya? aku sebenernya iseng aja nyari ff fantasi terus nemu ini. aku baca dari chapter 1 dan ini amazing♥ ah bener2 unpredictable deh ceritanya. gak sabar juga nunggu perangnya. cepat comeback thor. aku bookmark nih biar langsung baca pas ada update nya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s