FF EXO : BLACK PEARL Chapter 7

yaa

Tittle : Black Pearl

Author : Printa Park Yong Ae

Length : Chaptered

Genre : Fantasy, Friendship, Comedy (maybe)

Cast : you can find in the story

hay hay hay. maaf nih jarang update, wkwkwkwk. ini ngaret banget ya. seminggu kemarin sama sekali nggak ngelanjut ff ini, pegang laptop aja enggak._. gue lagi mudik, dan disana gak mungkin ada sinyal. di hape aja sinyal naik-turun. gimana sinyal internet? gue kan gak nahan kalo disuruh internetan di warnet. ya walaupun di sana ada, tapi gue gak suka aja. kedengerannya kayak sombong yeh, padahal enggak._.

oh iya, gue mau ngucapin minal aidzin walfaidzin buat kalian. SEMUANYA ya. yang readers baik, readers pelit [rd: silent reader], sama yang setengah-setengahnya._. btw, gue baca di komen di ff apa gitu gue lupa pokoknya itu ff gue, dia bingung manggil gue apa. yah, berhubung gue masih muda, 00L, kalian panggil gue Nta aja. nggak enak gue dipanggil author, ketinggian menurut gue hahahaha

© Copyright 2013 Printa

“kau ini …… kurang perfect. Kau juga tidak bisa memasak.” kata Sehun membalas pertanyaan Hyera tadi. “lagian, mana mungkin aku menyukaimu jika kau menyukai Jongin? Aku tidak ingin jika Jongin membunuhmu seperti Jongin membunuh Piyo.” ungkap Sehun.

Luhan menampilkan senyuman menyeringainya. Matanya menatap Sehun. Oh bodoh! Apa yang barusan ia katakan? Itu terdengar seperti sebuah kekhawatiran, kan? Jadi? Sehun khawatir dengan Hyera karena takut Jongin membunuh Hyera seperti Jongin membunuh Piyo? Lalu memang kenapa?

“kenapa kau tidak ingin Hyera mati ditangan Jongin?” tanya Luhan pada Sehun. Namun mendapat pelototan dari Hyera. Hyera pikir Luhan mendoakannya cepat mati. ._. “sst.” Luhan menyuruh Hyera diam.

“a-a-apa? Apa yang kau maksudkan? Tentu saja karena Hyera adalah pemimpin perang demon nanti.” kata Sehun gugup. “sudahlah, jangan bahas ini lagi.”

“aaaaa, aku tau kau menyukai Hyera.”

Sehun menatap Luhan. Tatapan membunuh lebih tepatnya.

____

Hari ini Luhan berniat untuk mencari pengirim boneka bersuara miliknya. Rasa penasaran benar-benar melandanya sekarang. Luhan bersama Lay berjalan kaki. Lay ikut Luhan dengan alasan bahwa takut bahwa Luhan akan tersesat. Padahal Luhan sudah melarang Lay untuk ikut, namun Lay bersikeras untuk ikut dan Luhan pun pasrah.

Ketika melewati sebuah cafe, Luhan masuk ke dalamnya dan membuat Lay bingung. Lay berjalan cepat menghampiri Luhan yang tiba-tiba berjalan masuk ke dalam cafe. Kata Luhan, dia hanya ingin beristirahat.

“silahkan, ini menu-nya.” seorang gadis berwajah imut mengantarkan menu pada Luhan dan Lay yang duduk di meja nomor 4. Gadis itu terlihat sangat muda. Dan bisa diperkirakan bahwa gadis itu belum lulus sekolah. “ada yang ingin dipesan?” tanyanya lagi.

“eung…. Frappe-nya dua.” jawab Lay mewakili Luhan yang sudah dipastikan tidak akan tau jenis minuman apa yang ada didalam menu.

“hanya itu?” tanya gadis berkucir dua yang bersiap mengambil menu dari atas meja. Lay mengangguk. “baiklah, tunggu sebentar ya.”

Gadis itupun pergi. Lay bersandar pada sandaran kursi cafe, sama dengan Luhan. Luhan daritadi terus menatap boneka bersuara yang ia bawa. Bahkan ia terus memencet hidung boneka dan terus menimbulkan suara. Beberapa pelanggan cafe kadang menatap Luhan lucu. Pasti mereka pikir Luhan hyung adalah anak kecil, pikir Lay sambil menatap sekilas wajah Luhan yang seperti anak kecil.

Tak lama kemudian, minuman yang Lay pesan datang. Namun pengantar minumannya berbeda. Yah, bukannya apa-apa, namun Lay penasaran dan mencoba menanyakan sesuatu pada pelayan lelaki yang menggantikan gadis berkucir dua tadi.

“kemana yeoja itu tadi? Kenapa bukan dia yang mengantar minuman ini?” tanya Lay dengan wajah penasaran. Ia sesekali menatap meja bar di sisi kasir. Tebakannya benar. Lay melihat pucuk kuciran dua gadis tadi di balik meja bar. Lay yakin gadis itu sedang bersembunyi.

“eum, dia….. dia tadi katanya ingin ke belakang sebentar. Lalu ia memberikan pesananmu kepadaku.” ucap lelaki tinggi itu dengan sopan. “dan sepertinya dia belum kembali.” ucapnya lagi.

“ah, tidak mungkin. Dia bukan ingin ke kamar mandi.” kata Luhan. Pandangannya belum lepas dari boneka berbunyi miliknya. “dia bersembunyi, Chanyeol-sshi.”

Lelaki itu –Chanyeol– terkejut. Bisa-bisanya Luhan tau akan namanya tanpa melihat name tag di seragam cafe-nya. Namun Chanyeol menyembunyikan keterkejutannya dan mulai tersenyum.

“bagaimana kau tau namaku?” tanya Chanyeol sedikit informal. Entah kenapa Chanyeol menjadi sedikit agak tidak canggung ketika berbicara dengan Luhan. Padahal ia tidak mengenalnya sama sekali. “apa kita pernah bertemu?” tanya Chanyeol lagi.

“tidak. Kita belum pernah bertemu sebelumnya.” pandangan Luhan akhirnya terlepas dari bonekanya, sekarang ia menatap Chanyeol. Namun mata Luhan menatap meja bar. Ia melihat setengah kepala gadis tadi menyembul dari belakang meja bar. “dia bersembunyi disana.” Luhan menunjuk dengan dagu.

Chanyeol membalikkan tubuhnya, pandangannya langsung mengarah pada meja bar yang ditunjuk oleh pelanggannya tadi. Matanya menatap pucuk kuciran dua seseorang yang ada dibalik meja bar itu. Dia juga langsung tersadar, pasti itu Luna, rekan kerjanya yang tadi izin ke toilet dan menyuruhnya mengantar pesanan ke meja ini. Tapi, untuk apa dia bersembunyi? Untuk apa Luna bersembunyi? Dia rasa kedua pelanggannya sama sekali tidak terlihat ingin memakan manusia bulat-bulat. Namun kenapa Luna bersembunyi?

Chanyeol kembali menghadapkan tubuhnya ke Luhan dan Lay. Dia mencoba bersikap biasa.

“eung~ Sepertinya aku harus kembali ke sana. Aku akan menegur temanku yang bersembunyi tadi. Maaf kalau membuat anda tidak nyaman.” kata Chanyeol sopan. Ia membungkuk, kemudian pergi menuju ke meja bar.

*_*_*_*

Sehun tidak tau. Ia benar-benar tidak mengerti yang ada didalam kepalanya sekarang. Jantungnya terus berdegup. Ia pernah membaca buku dengan isi tentang jatuh cinta. Apa dirinya sedang jatuh cinta? Jatuh cinta? Jatuh cinta dengan siapa?

“hei Sehun! Kenapa kau terus melamun, hah?” Taemin menegur Sehun sambil melempar kaleng soda yang baru saja dia ambil dari mesin minuman di kantin. “apa kau sedang banyak pikiran?” tanya Taemin lagi dan duduk dikursi kosong didekat Zelo dan Mir.

“ah!” Sehun menangkap minuman yang dilempar Taemin. “aku baik-baik saja. Hanya saja….. aku merasa sedikit aneh belakangan ini.”

Ucapan Sehun barusan membuat Hyera berhenti melanjutkan makannya. Apa yang dimaksud dengan Sehun? Perasaan Sehun biasa saja ketika di rumah maupun di sekolah. Sehun tidak aneh seperti yang dikatakannya tadi.

“apa maksudmu? Apa kau merasa gila belakangan ini? Kau memang selalu bersikap gila, Oh Sehun.” sindir Mir, kemudian tos dengan Zelo. Mereka kemudian tertawa.

“ah, aku rasa kalian tidak akan mengerti tentang ini semua. Aku tidak akan menceritakannya pada kalian.” ungkap Sehun, lalu membuka kaleng sodanya dan meminumnya setengah. Dia menatap teman-temannya, sampai ketika matanya menatap Hyera, jantungnya kembali berdegup.

“eh, Hyera-ya, ada Jongin tuh!” Zelo berhenti dari tawanya dan menunjuk Jongin dan Chen yang berjalan santai menuju meja mereka. Hyera menoleh kearah tunjukkan jari Zelo. Jongin tersenyum padanya. “sepertinya dia menghampirimu. Mengajak dinner nanti malam mungkin? Ini malam minggu, man!”

Hyera menatap tajam Zelo, kemudian menatap Jongin yang sudah berdiri disampingnya bersama Chen, sahabat yang selalu dengan Jongin. Jongin tampak tersenyum. Sebenarnya apa mau Jongin? Apa dia tidak sadar jika dia tinggal satu rumah dengan Sehun, musuh Jongin? Sebegitu bodohnya Jongin?

“ada apa datang kemari?”

“oh aku hanya ingin menghampiri Hyera. Tidak boleh?” Jongin merespon cepat ucapan Sehun yang begitu dingin kearahnya. “aku ingin mengajaknya mengunjungi taman kota nanti malam.” Jongin menatap kearah Hyera yang menatapnya heran.

“hah? Ke taman kota? Hei, bodoh. Kau tidak boleh pergi berdua saja dengan Hyera. Taman kota hanya akan dipenuhi pasangan kekasih setiap malam minggu. Lalu apa maksudmu membawa Hyera berdua saja denganmu? Nanti malam? Kau ingin orang-orang menganggapmu dan Hyera berpacaran?”

Sehun menarik tangan Zelo agar duduk lagi ke tempat duduknya. Kemudian menatap tajam kearah Jongin yang seenaknya saja memberi kedipan sebelah mata pada Hyera. Eung~ Sebenarnya tidak apa-apa. Hanya saja selalu hatinya menolak untuk melihat hal-hal semacam itu. Apalagi terjadi pada Hyera. Dan sepertinya dia mengakui bahwa dia menyukai Hyera. Hanya menyukai saja. Tidak lebih. Lagipula Hyera tidak menyukainya, Hyera terlihat tertarik pada Jongin.

“nanti malam? Sepertinya tidak bisa, Jongin-ah. Maaf.” Hyera menolak dengan sopan. Hyera melihat perubahan raut wajah Jongin, ia sebenarnya juga ikut sedih. Tapi kata hatinya memilih tidak. Ia menolak.

“WAHAHAHAAHAHA, seorang Kim Jongin ditolak malam mingguan oleh Shin Hyera! Wahahaha, aku sangat senang mendengarnya.” tawa Mir meledak. Membuat seluruh perhatian siswa-siswi di kantin beralih padanya.

Jongin tampak malu setengah mati. Kemudian berlalu, diikuti oleh Chen dibelakangnya.

“kau akan mati, Bang Mir.” sindir Zelo sambil tertawa.

Sementara Hyera dan Sehun sama-sama diam. Mereka berdua tidak tertawa seperti anak-anak yang lainnya. Hyera dan Sehun masuk kedalam pikiran masing-masing. Hyera berpikiran tentang perasaan Jongin. Ia tidak ingin Jongin merasa sakit hati. Sedangkan Sehun berpikiran tentang Hyera. Dia bingung, mengapa Hyera memilih menolak ajakan Jongin yang jelas-jelas itu suatu keberuntungan baginya? Oh man, Jongin tidak akan mengajak gadis sembarangan ke taman kota pada malam minggu. Dan sekarang Jongin memberikan kesempatan itu pada Hyera, namun Hyera malah menolaknya.

*_*_*_*

“Lay, kau tau?” Luhan duduk di sofa rumah setibanya dia dan Lay sampai rumah Sehun. Mereka duduk sambil mencoba melepas penat.

“tau apa?”

“pelayan tadi. Park Chanyeol. Kau tau?” Luhan menaik-turunkan alisnya. Lay bingung. Tentu saja dia tau Chanyeol.

“Chanyeol pelayan cafe tadi? Kenapa?” Lay tampak malas membahasnya.

“dia itu seperti kita.” Luhan memberitahu dengan nada misterius.

“apa? Seperti kita? Tentu saja.” Lay tampak menyetujui tanpa berpikir terlebih dahulu. “dia manusia juga.”

“bukan itu bodoh!” Luhan hampir saja menggetok kepala Lay dengan bantal sofa, namun ia mengurungkan niatnya. “dia ksatria.”

“apa?!” Lay langsung kaget. Tentu saja. Bagaimana bisa Luhan tau bahwa Chanyeol tadi adalah ksatria? Apa Luhan menghafalkan seluruh nama ksatria yang ada di dalam kertas peninggalan ayah Hyera? Lalu kenapa Luhan begitu yakin jika Chanyeol yang dimaksud adalah Chanyeol pelayan cafe tadi?

“hei, biasa saja dong! Apa kau tidak lihat tadi?” Luhan menghancurkan segala pertanyaan yang timbul di pikiran Lay. “dia tadi memakai kalung Black Pearl seperti kita.” kata Luhan sambil menunjukkan kalungnya.

“ah? Benarkah? Aku tidak melihatnya.” Lay menatap Luhan dengan pandangan datar.

“kau tidak percaya denganku?” tanya Luhan.

“tentu saja aku percaya!” jawab Lay. “oh iya, Luna tadi adalah adik dari D… D…. Do?”

“D.O.” jawab Luhan. “dia bukan adiknya. Hanya saja Luna menganggap D.O sebagai kakaknya dan juga D.O menganggap Luna sebagai adiknya.” katanya.

“nah, maksudku itu. Apa kau akan mencari orang yang bernama D.O itu?” tanya Lay penasaran. Luhan bukannya menjawab malah menyeringai tidak jelas. Dan tentu saja itu membuat Lay takut.

*_*_*_*

Kris sedang tertidur karena lelah. Tadi pagi ia tidak masuk kuliah karena berjalan-jalan dengan teman-temannya. Siapalagi kalau bukan Xiumin, Tao, dan Suho? Mereka selalu mengusik Kris ketika tiba di rumah Kris.

Dan Kris beruntung bisa tidur dikamar tanpa gangguan dari teman-temannya itu. Dia benar-benar tidak kuat mempunyai teman seperti mereka. Apalagi Tao yang keinginannya sangat banyak.

“ASTAGA!” Kris berteriak kaget ketika mendengar sebuah benda jatuh yang sangat kencang di dapurnya. Ia segera melesat menuju dapur. Walau tersandung-sandung, ia takut terjadi apa-apa dengan teman-temannya itu.

“kalian?” Kris menjerit tertahan ketika melihat Xiumin dan Tao berjongkok untuk memapah tubuh Suho yang pingsan. “kenapa tidak membangunkan aku?! Cepat bawa Suho ke mobil! Oh astaga!” Kris berteriak depresi.

Kris berlarian ke kamar, mengambil jaket dan kunci mobilnya, kemudia menutup pintu. Sebelum keluar apartemen, Kris menatap dapur, ia melihat benda-benda dapurnya berceceran dibawah. Apa yang terjadi?

*_*_*_*

Sehun sedang berjalan santai di koridor sekolah. Nampaknya ia akan pergi menuju kamar mandi sekolah. Walaupun bel sekolah sudah berdering sedari tadi dan murid-murid sudah bergegas masuk ke kelas, namun Sehun tetap berjalan santai tanpa memperdulikan apapun. Hingga tiba-tiba seseorang dari belakang menariknya menuju ke suatu tempat.

Sehun dihempaskan begitu saja ke sebuah tembok. Itu benar-benar menyakitkan. Punggungnya menabrak keras kearah tembok. Sehun mengaduh keras. Tubuhnya tertatih. Ia mendengar sebuah tawa mengejek dari seseorang yang melakukan ini padanya. Wajahnya terangkat, menatap wajah di hadapannya.

“Kim Jongin!” Sehun menggeram kesal. Ia ingin memukul Jongin kalau saja teman Jongin tidak segera menahan tangan Sehun. “apa-apaan ini?! Hei kau pengecut sekali! Beraninya keroyokan!”

“diam.” kata teman Jongin pelan. Dia terlihat seperti malaikat, namun kenapa ia ikut membantu Jongin? Sehun tidak pernah melihat teman Jongin yang ini sebelumnya.

“ah, kau pasti belum mengenalnyakan? Dia Do Kyungsoo, atau biasa dipanggil D.O. Dia anak baru disini.” kata Jongin memperkenalkan D.O.

“aku tidak tanya!” Sehun terus memberontak. Tapi cekalan D.O dan Chen sangat kuat. “kau ini mau apa hah?”

Jongin menyeringai sedikit, “kau tau jika aku menyukai Hyera, kan? Kau pasti menyuruh Hyera agar tidak berpacaran denganku. Kau cemburu kan?”

Sehun terdiam sebentar, “hah? Cemburu apanya? Lagian mengapa aku cemburu padamu? Kurasa tidak ada yang patut ku cemburui darimu.” katanya sambil tersenyum mengejek.

“kurang ajar sekali kau!”

Jongin memukuli perut Sehun. Sehun hanya diam karena tangannya dipegang oleh teman-teman Jongin. Ia hanya meringis dan mengaduh kesakitan. Sampai akhirnya sebuah sempritan terdengar.

“Hei kalian! Apa yang kalian lakukan disini? Oh Tuhan, Sehun!”

Guru itu terkejut melihat Sehun dengan mulut berdarah. Tatapannya kini bergantian dengan D.O, Chen, dan Jongin tentunya. Ketiga muridnya itu langsung menunduk karena takut. Sedangkan Sehun sampai bersimpuh di lantai karena tidak kuat berdiri. D.O menatap Sehun iba. Ia benar-benar merasa bersalah.

“kalian keterlaluan! Terutama kau!” Guru itu menunjuk Jongin karena ia tau tadi Jonginlah yang memukuli Sehun sampai seperti ini.

“t-t-tidak apa-apa kok, sonsaengnim.” Sehun tetap memaksa tersenyum meski pinggiran mulutnya sudah sobek sedikit. “aku tidak apa-apa. Aku masih kuat.” katanya sambil mencoba berdiri. Tapi ia jatuh lagi. D.O membantu Sehun berdiri.

“mianhae.” D.O langsung mengucapkan kata maaf. Lalu kembali menunduk seperti semula.

Sehun menatap D.O aneh. Sepertinya D.O memegang tangannya tadi bukan keinginannya sendiri. Pasti ini ulah Jongin.

“Sehun, sebaiknya kau cepat ke ruang kesehatan.” kata guru itu sambil menatap Sehun. Sehun hanya mengangguk dan berjalan pincang menuju ruang kesehatan di belakang ruang perpustakaan.

*_*_*_*

“Sehun kemana?” tanya Hyera sedikit berbisik pada Taemin yang duduk didepan bangkunya. Sejak satu jam yang lalu, Sehun belum juga kembali ke kelas.

“mungkin membolos lagi?” sahut Mir yang mendengar bisikan Hyera. “kau tau? Sehun hobi membolos pelajaran ini.”

Hyera menatap bangku Sehun yang ada disebelahnya. Pikirannya jadi kacau karena memikirkan Sehun. Ia tau kalau Sehun memang suka membolos dalam pelajaran ini. Namun kenapa ia jadi khawatir berlebihan seperti ini? Ia merasa ada yang tidak beres.

“aku tidak yakin.” balas Hyera akhirnya. “dia memang suka membolos, tapi jika dia membolos biasanya selalu mengajak kalian. Apa kalian diajak membolos tadi?”

Mir dan Taemin terdiam. Mereka mengingat-ingat.

“tidak, aku tidak di ajak membolos oleh Sehun.” kini giliran Zelo yang menyahuti. “aku rasa dia ingin sendiri.”

“aku juga tidak diajak.” kata Taemin akhirnya ingat.

“aku juga. Mungkin benar ucapan Zelo. Sehun sedang ingin sendiri. Lagipula dari tadi dia melamun terus.” ucap Mir, mengingat di kantin tadi wajah Sehun tampak diam dan sangat dingin.

Hyera mulai aneh. Curiga lebih tepatnya. Ia merasa Sehun tidak dalam keadaan baik-baik saja. Firasatnya menyuruhnya untuk keluar kelas dan mencari keberadaan Sehun. Namun Hyera menolak firasatnya sendiri. Guru pengajar kali ini adalah guru paling ditakutinya. Barang-barang bisa melayang jika guru itu marah. Tapi firasatnya menuntunnya dan memaksanya. Akhirnya Hyera izin keluar kelas.

“kenapa keluar kelas? Bukankah saya sudah bilang……”

“aduh pak, perutku sudah sakit. Aku telah menahannya sejak awal pelajaran sonsaengnim tadi. Kali ini tidak dapat di bendung lagi. naneun-ojum malyeo juggess neyo! (aku kebelet pipis!)” ucapnya sambil berekspresi aneh.

Karena tidak mau membuat Hyera pipis di celana, guru itu pun memperbolehkan Hyera pergi keluar.

*_*_*_*

“yah, bagaimana ini? Aku harus pergi kemana?”

Hyera bingung harus pergi kemana. Ia berjalan tak tentu arah. Berkeliling ke universitas milik appa Sehun yang sangat besar ini. Ia akhirnya memilih jalan-jalan. Setidaknya ia harus menghafalkan koridor-koridor di universitas ini bukan? Lagipula masih banyak anak-anak yang berkeluyuran di koridor.

Hyera menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua. Entah ia harus naik ke lantai selanjutnya atau tidak. Tapi kakinya benar-benar lelah. Ia memilih duduk di kursi panjang didepan perpustakaan.

Tiba-tiba Hyera merasakan sakit di hatinya. Rasanya seperti ingin pingsan. Hyera sampai terbungkuk-bungkuk menahan rasa sakit ini. Ia tidak dapat berteriak minta tolong. Suaranya tertahan sampai pangkal tenggorokan. Salah satunya jalan adalah menunggu seseorang datang.

Hyera bersyukur sekali ketika mendengar suara langkah kaki dari tangga. Ia sudah tidak kuat lagi. Menahan sakitnya pun rasanya tidak bisa. Akhirnya Hyera pingsan dan jatuh di atas lantai dengan keras.

“OMO! HYERA!”

-TBC-

18 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 7

  1. @Sofiaaulianissa berkata:

    wah asik asik asik……. chapter 7 nya akhirnya keluar maaf ya Nta aku chapter 6nya gk komen soalnya lupa hehehe
    chapter 8 nya aku janji deh bakal komen and chapter 8 aku tunggu loh pai pai

  2. kim jun myeun berkata:

    thor,, ceritanya seru
    cptan lnjutin ceritanya ya,,
    gk sbr ne pngn tw kelnjutannya smpai abis,,

    maaf lw bru coment🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s