FF EXO : BLACK PEARL Chapter 8

yaa

Title : Black Pearl

Author : Printa Park

Genre : fantasy, conflict, a little bit comedy

 annyeong!! aku comeback❤ maap ya lama banget lanjutnya. udah kena berapa bulan coba? dari september sampe desember gak update. T^T maap aku sibuk #eaa. aku banyak tugas. banyak kegiatan juga. dari mulai osis sampe dewan penggalang. ini udah aku paksa lanjut setiap malem tapi apa daya kalo otak aku mampet di tengah jalan :O hasilnya kayak gini. ini aja masih tbc. tau nanti mau lanjut kapan. >.< selamat membaca aja deh buat kalian🙂 RCL yaa :*

 

copyright©2013 Black Pearl by Printa Park

 “omo Hyera!”

Seseorang datang dengan panic. Ia membopong tubuh Hyera menuju ruang kesehatan yang sangat kebetulan dekat dengan tempat Hyera pingsan.

Namja itu menaruh tubuh Hyera dengan hati-hati di atas ranjang ruang kesehatan. Ia mengambil minyak kayu putih di kotak obat. Kemudian membalurinya di sekitar kening Hyera.

“Hyera-ya, kau kenapa?”

 

**

 

“eih!”

Luhan yang tengah menonton tv di ruang keluarga tiba-tiba memekik cukup nyaring sehingga membuat Lay panic. Lay duduk di samping Luhan dan menanyakan keadaan Luhan.

“Hyera..”

“mworago? Ada apa dengan Hyera? Aish!” Lay berlari ke dapur, kemudian kembali dengan segelas air putih dingin di tangannya. Ia menyerahkannya pada Luhan. “minum ini dulu. Siapa tau bisa membuatmu lebih tenang.” Ucap Lay.

“ceritakan pelan-pelan.” Titah Lay ketika Luhan telah menegak habis minuman yang diberikan Lay tadi.

“Hyera dan Sehun… mereka… dalam bahaya.” Ucap Luhan dengan tangan memegang kepala. Sepertinya ia pusing.

“apa?! Dalam bahaya? Kita harus menyelamatkannya hyung! Ayo!” Lay menarik-narik tangan Luhan. Namun Luhan menggeleng.

“andwe! Aku pusing, Lay-a.” kata Luhan lemah. Iya daritadi terus memegang keningnya sambil memijat sedikit didaerah itu. Lay duduk kembali di samping Luhan.

“oh ayolah, aku akan menyembuhkanmu dengan……..” Lay berjalan cepat menuju kotak obat disebelah lemari piring, kemudian kembali dengan membawa minyak kayu putih. “…ini” ucapnya

“kau bercanda. Kau bahkan bisa menyembuhkanku dengan tanganmu langsung. Ayo cepat sembuhkan.” Ujar Luhan.

“kau yang bercanda hyung!”

“aku tidak bercanda, Lay-a! kau ingin menyembuhkan aku atau tidak?” Tanya Luhan sebal. Pasalnya, Lay masih tidak percaya dengan ucapan Luhan. Apa itu? Bisa menyembuhkan?

“apa kau tidak bercanda? Kau serius, hyung?” Tanya Lay sedikit percaya. Ia menatap tangannya yang putih mulus tanpa lecet. “sungguh, hyung?”

“ah, kau ini kelamaan!” cerocos Luhan. Ia baru saja akan menjitak Lay kalau saja pusing dikepalanya tidak bertambah. Kini Luhan membungkukkan badannya sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat pusing.

“aku akan mencobanya hyung.”

 

Lay kembali menatap tangannya. Ia mulai memusatkan pikirannya pada satu tujuannya. Ia ingin menyembuhkan Luhan dan segera menemui Hyera dan Sehun yang katanya dalam bahaya. Semua pikirannya tertuju pada kekuatannya. Ia harus bisa. Ia harus bisa mengeluarkan kekuatan itu sekarang, atau jika tidak, Hyera dan Sehun dalam bahaya besar.

 

Lay memejamkan matanya. Tangan kanannya berada pada depan kepala Luhan yang tertunduk. Luhan belum merasakan apa-apa. Namun seberkas cahaya hijau yang keluar dari telapak tangan kanan Lay membuat Luhan merasakan dampaknya. Ia sedikit mendongak. Terlihat cahaya hijau yang amat terang. Sehingga Luhan kembali menundukkan kepalanya walaupun pusing dikepalanya sudah sedikit berkurang.

 

Cahaya hijau di telapak tangan Lay menghilang, dan saat itulah pusing dikepala Luhan ikut teredam. Lay membuka kedua matanya dan menatap Luhan.

 

“kau bisa, Lay-a.” ucap Luhan bangga. Ia berdiri dan tersenyum pada Lay. “kalau begitu ayo kita cepat menghampiri Hyera dan Sehun yang berada di sekolah.”

 

**

 

“aish, kau ini. aku belum kembali ke kelas karena…. Aku malas bertemu guru killer itu.” Ucap Sehun sambil menatap Hyera yang terbaring lemah di ranjang ruang kesehatan. Hyera sudah terbangun, namun pening dikepala Hyera belum juga sembuh.

“Sehun-a, kau tau? Aku dan yang lain tadi sangat cemas.” Kata Hyera akhirnya. “kau lama sekali. Aku pikir kau tidak mendengar suara bel masuk, jadi aku memutuskan untuk mencarimu diseluruh sekolahan ini. ah! Sangat melelahkan.” Keluhnya. Ia mencoba duduk.

“kau? Haha. Kau bahkan belum mengetahui seluruh pelosok di sekolahan ini.” ucap Sehun sambil senyum tipis. “oh iya, ini, aku tadi membelikanmu makanan di kantin. Kata Yui Sonsaeng, kau kelaparan. Jadi aku putuskan untuk membelikanmu makanan. Ayo dimakan.” Suruh Sehun sambil menyodorkan tempat bekal makanan beserta isinya.

“ah. Terima kasih Sehun-a, kau terlalu baik. Tapi……..”

 

“ya!”

 

Sehun dan Hyera menoleh bersamaan ketika seseorang membuka pintu ruang kesehatan dengan keras dan berteriak seperti itu. Sehun berdiri setelah sebelumnya memberikan makanan kepada Hyera. Ia menatap orang itu. Ia sepertinya kenal.

 

“kau dalam masalah besar, Oh Sehun-ssi!” ucap orang itu.

“masalah besar?” Tanya Hyera pelan. Ia meletakkan makanan itu di meja nakas, ia segera turun dari ranjang dan berjalan mendekati Sehun dan orang itu. “apa yang kau maksudkan, tuan?”

“siapa gadis ini, Sehun-ssi? Apa dia pacarmu?” Tanya orang itu sambil menatap Hyera. “cukup cantik juga. Seleramu tidak serendah dulu.”

“diam kau!” Sehun mendesis kesal. Ia hampir saja menarik kerah orang itu jika saja orang itu tidak mengeluarkan sebuah benda tajam dari balik bajunya.

“sebenarnya kau ini siapa?” Tanya Hyera mulai bingung. Ia merasa sudah tercampuri urusan ini. walaupun sebenarnya ia tau ini urusan Sehun.

“perkenalkan, aku Kim Myungsoo. Kau harus memanggilku L karena aku benci dengan nama asliku.” Ucap Myungsoo atau L. mata elangnya menatap Sehun. “dan kau….. lebih baik kau ikut aku.”

“untuk apa aku ikut denganmu, L bodoh?” Tanya Sehun seperti menantang.

L memasukkan benda tajam yang ia bawa kembali ke dalam saku bajunya. Ia menatap tajam ke arah Sehun. Ia merasa sebal di sepelekan seperti itu.

 

Bola mata L berkilat merah sekilas. Hyera dapat melihatnya dan dengan tiba-tiba, ia mengetahui seluruh profil kehidupan L. entah darimana informasi itu datang. Ia tiba-tiba bisa melihat profil lengkap seseorang yang ia sendiri baru tau namanya.

 

Kini ia tau tujuan L kesini dan mencari Sehun untuk apa. Ia ingin memusnahkan ramalan dari ratu Yuri. Ramalan yang mengatakan bahwa seseorang yang termuda dari ksatria adalah pemegang kunci kekuasaan. Dan yang L tau adalah Sehunlah yang termuda. Padahal dirinyalah yang termuda.

 

“kau tidak boleh membawa Sehun pergi!” ucap Hyera mencegah Sehun yang sudah ditarik oleh L. “kau tidak berhak berbuat seperti itu, Kim Myungsoo-ssi!”

“hei! Sudah kubilang panggil aku L!” teriak L. “ada urusan apa kau hah? kau bahkan tidak tau urusanku dengan Sehun.”

“aku tau.” Desisinya. “aku tau tujuanmu yang sebenarnya. Orang yang kau cari salah, bodoh!”

 

Sehun menatap pertikaian L dengan Hyera. Hyera bahkan baru saja mengenal nama L. mengapa ia bisa sangat tau tentang diri L?

 

“kau adalah ksatria Fotia Planet!” tunjuk Hyera tepat di depan hidung mancung L. L sendiri sampai cengoh(?) mendengar ucapan Hyera barusan. Darimana gadis itu tau? Tanya L dalam hati.

“a-apa? Fotia Planet apa? Kau ini berbicara apa? Gadis aneh!”

“kau yang aneh! Kau menuruti semua perintah ratumu itu tanpa berpikir sebelumnya. Kau sebenarnya ditakdirkan untuk EXO Planet!” kemarahan Hyera mulai menggebu-gebu.

Keringat mulai mengalir sedikit di kening L. ia tidak ingin rahasianya terbongkar lebih dalam. Ia akhirnya berlari menjauhi Sehun dan Hyera.

Sehun menghampiri Hyera yang baru saja akan mengejar L. Sehun tak mengerti, mengapa Hyera bisa secepat itu tau apapun tentang L? Bahkan Hyera baru tau nama L tadi. Ini sangat aneh.

 

“Hyera-ya! Sehun-a!”

 

Mata mereka menatap ke arah pintu. Hyera hampir saja marah lagi kalau tidak sadar jika yang datang adalah guru olahraga mereka, Kim Sonsaeng. Hyera dan Sehun segera membungkuk hormat, kemudian berjalan melewati guru mereka dan berlari menuju kelas mereka.

 

Mereka kabur dari guru olahraga mereka. Hyera dan Sehun berlari menuju atap sekolah. Mereka berniat membolos hari ini. Hyera juga ingin berbicara mengenai L tadi.

 

“huh~”

Nafas Hyera dan Sehun tidak teratur ketika sudah sampai di atas. Mereka duduk di tepian atap. Hyera kagum melihat seluruh permukaan sekolah milik ayah Sehun. Benar-benar luas. Untungnya ia tidak tersesat ketika mencari Sehun tadi.

 

“oh iya. Sejak kapan kau mengenal L?” Tanya Sehun mencairkan suasana. “kau terlihat mengetahui semuanya tadi.”

“ahaha. Aku? Entah. Aku mendapat informasi profil kehidupan L dengan sendirinya. Ketika matanya berkilat merah, aku mengetahui profil kehidupan L secara tiba-tiba.” Jelas Hyera sambil memainkan kakinya yang menggantung. “memang ada apa?”

“aku merasa heran saja.” Ucap Sehun.

“L ingin memusnahkanmu dengan cara membuangmu ke dunia di masa lalu. Dia ingin menghancurkan ramalah ratu Yuri yang mengatakan bahwa ksatria termuda adalah pemegang kunci kekuasaan. L ingin menjadi penguasa. L mengira kaulah yang termuda. Padahal aku.” Kata Hyera panjang lebar. “yah, walaupun kita hanya berbeda beberapa hari saja.”

“hei! Walaupun berbeda beberapa hari saja, tapi tetap kau dan aku lebih tua aku. Kau harusnya memanggil aku oppa.” Sehun terlihat tak terima.

“apa? Memanggilmu oppa? Tidak mau. Kalau saja kau dan aku berbeda beberapa bulan, aku baru mau memanggilmu oppa. Lagipula apa pengaruhnya?” Hyera terlihat acuh.

“ah! Bawel!” Sehun tiduran dengan kaki masih menggantung.

“aku tidak bawel!” Hyera ikut tiduran. “kalau aku ketiduran, kau bangunkan aku ya.” Ucap Hyera. Ia menguap karena mengantuk.

“ah. Aku juga mengantuk. Biarkan saja sampai malam. Asal pintu gerbang tidak dikunci saja.” Ucap Sehun mulai memejamkan matanya. Hyera pun juga memejamkan matanya.

**

Luhan dan Lay duduk di kedai Bubble Tea langganan mereka. Lay duduk dengan wajah cemberut.

“katanya Hyera sama Sehun dalam bahaya. Kenapa malah ke kedai Bubble Tea ini sih?!” kata Lay ngambek. Lay merasa dikerjain.

“aku merasa Hyera dan Sehun sudah aman. Lagipula Hyera sudah menyelamatkan Sehun dari penjahat itu. Untuk apa kita kesana lagi? Musuh mereka sudah pergi. Bahaya sudah pergi, Lay-a.” kata Luhan santai sambil sesekali meminum bubble tea nya.

Lay menatap ke luar jendela. Ia menatap seseorang yang tengah menyebrang. Lelaki dengan postur tubuh pendek dan mata yang besar seperti burung hantu. Lay melihat sesuatu dari lelaki bertubuh pendek tersebut. Ia merasakan aneh. Kemudian, Lay menatap Luhan dengan pandangan menuntut penjelasan. Biasanya Luhan tau segalanya.

 

“mworago?” Tanya Luhan ketika Lay menatapnya intens. Pandangan Luhan menuju keluar jendela seperti Lay tadi. Ia melihat lelaki bertubuh pendek tengah berjalan menuju kedai ini. sekarang ia tau kenapa Lay menatapnya seperti itu. Lelaki itu adalah salah satu ksatria. “kau sudah mahir mengetahui yang mana ksatria dan yang tidak. Aku rasa kau bisa diandalkan nantinya. Haha.” Kata Luhan.

“diandalkan apa?” Lay bertanya kembali. Namun suara lonceng pintu berbunyi membuat kepalanya menengok ke arah pintu. Lelaki bertubuh pendek itu datang ke kedai ini. “dia ksatria juga hah?”

 

Luhan mengangguk.

 

**

 

Pukulan palu keras terdengar nyaring diseluruh pelosok rumah Kris. Ternyata ini perbuatan ketiga temannya lagi. Sebenarnya Kris merasa terganggu bila mereka bertiga memilih pindah kesini daripada di pondok. Namun Kris tak tahan hidup sendiri terus-menerus. Akhirnya ia memperbolehkan Tao, Xiumin, dan Suho untuk tinggal bersamanya.

 

Seharusnya ini menjadi berita bahagia dan juga hadiah istimewa untuknya. Pasalnya ada tiga teman yang akan mengisi waktu luangnya setiap hari. Namun sepertinya awal kehadiran Tao, Xiumin, dan Suho benar-benar mengganggu siang Kris hari ini. mereka tengah sibuk memasang foto mereka masing-masing di tembok kamar. Hah. seharusnya Kris melarang sejak awal. Namun Kris terlambat. Mereka sudah lebih dulu menancapkan paku ke tembok kamar yang mereka tempati.

 

“selesai. Aku nomor satu! Hahaha.” Teriak Xiumin bangga.

 

Ketiga manusia aneh(?) itu sejak awal sebelum mulai memasang foto ditembok sudah mengadakan taruhan. Siapa yang kalah harus memasak sarapan, makan siang, dan makan malam selama satu bulan. Dan ketika Xiumin berteriak seperti itu, Tao dan Suho semakin mempercepat pukulan palu mereka.

 

Entah karena kencangnya pukulan palu Tao, tembok dihadapan Tao runtuh seketika. Kris yang sedang tiduran dikamarnya segera bangun dan mengecek kamar Tao. Tembok dihadapan Tao runtuh, namun anehnya, dibalik tembok tersebut masih ada sebuah ruangan. Seperti ruangan rahasia yang sudah lama tak terpakai.

 

“kau mempunyai ruangan rahasia?!” teriak Xiumin tak percaya.

 

Kris melangkahkan kakinya lebih dahulu. Kemudian dibelakangnya diikuti Tao, Xiumin dan Suho. Mereka berjalan dalam keheningan. Tao mencari tombol lampu karena tempat ini benar-benar gelap.

 

“hachim!” Suho sampai bersin-bersin karena udara diruangan ini pengap dan berdebu. “apa kau tidak punya senter, hyung?” Tanya Suho pada Kris sebelum berjalan menelusuri ruangan gelap ini terlalu jauh.

“eung, entahlah. Aku pikir aku tidak punya. Tapi lebih baik kita cari. Baiklah ayo keluar dulu.” Ucap Kris menggiring teman-temannya keluar.

 

Ketika akan keluar, ia merasakan getaran-getaran dibalik tubuhnya. Begitu pula dengan ketiga temannya yang lain. Suho, Tao dan Xiumin juga merasakan getaran itu. Mereka berbalik dan berjalan mengikuti arah getaran. Mereka mencari sumber getaran itu.

 

“apa akan ada gempa sebentar lagi? Getarannya keras sekali.” Ucap Tao sambil meringkuk pada Suho.

“kenapa kau memelukku bocah?!” Suho menyingkirkan tangan Tao.

“wae? Aku hanya…… ingin melindungimu jika nanti benar-benar gempa.” Kata Tao tidak punya dosa. “lagipula kau dan aku tinggian aku. Jadi aku bisa melindungimu dengan baik.”

Suho melirik ke arah Tao dengan tatapan tajam. Seenaknya sekali berkata seperti itu. Memang benar sih dirinya lebih pendek dari Tao. Tapi Tao seharusnya tidak usah sefrontal itu. Perkataan Tao menyakitkan Suho.

 

“hei kalian lihat itu?” Tanya Kris sambil menunjuk sesuatu yang bersinar sedikit didepannya.

 

Sedikit pancaran cahaya dari kamar Tao sedikit menerangi ruangan itu. Mereka bersama-sama mendekati cahaya merah yang tadi ditunjuk oleh Kris. Kris berjalan mendekati cahaya itu. Kemudian menyentuhnya.

 

CLAP!

 

Tiba-tiba di tembok belakang Kris bersinar. Memperlihatkan foto planet berwarna abu-abu dan beberapa foto orang-orang disana. Ada foto mereka berempat.

 

“itu aku? Huang Zi Tao.” Ucap Tao sambil menunjuk fotonya. “aku merasa tidak pernah foto dengan pose seperti itu. Itu pose yang sangat jelek!”

“tutup mulutmu bocah. Kau cerewet sekali.” Kata Suho. Ia kembali mengamati foto-foto itu. “ada aku, Tao, Kris hyung, dan Xiumin hyung. Ada juga beberapa orang lagi disitu. Sebenarnya itu apa?” Tanya Suho bingung.

 

Kris menatap foto seorang gadis yang ada ditengah-tengah planet. Ia seperti pernah mengenali gadis itu. Tapi, pikirannya sedang tidak focus sekarang.

 

“kau kenapa, Kris?” Tanya Xiumin ketika melihat ekspresi wajah Kris. “kau mengenal mereka?”

Kris menggeleng. Jawabannya hanya sebuah gelengan. Ia tidak bisa mengingat siapa gadis itu.

 

“aah! Itu bukannya pelayan toko itu?” tebak Tao menunjuk foto salah satu disana. “ini sebenarnya kumpulan foto apa, sih?” Tao mulai sebal.

 

**

 

Sehun terbangun dari tidurnya. Ia terduduk dan meregangkan badannya. Kakinya masih bergelantung kebawah. Langit mulai gelap dan ia masih di atap sekolah bersama Hyera.

 

Hyera masih tertidur disebelahnya. Wajahnya tentram dan tenang. Seperti tidak banyak pikiran. Padahal nanti dia menjadi pemimpin perang. Apa dia tidak terlalu memikirkan itu? Huh~

 

“Hyera-ya.” Sehun membangunkan Hyera. Ia menggoyangkan bahu Hyera. Hyera hanya melenguh pelan sambil merubah posisi tidurnya. “kau ini.”

 

Sehun tidak tega membangunkan Hyera. Ia akhirnya memilih untuk menggendong Hyera. Tapi sebelum menggendongnya, matanya melihat seluruh tekuk wajah Hyera. Hyera benar-benar cantik. Oh God kenapa kau baru menyadarinya, Oh Sehun?

 

Sepertinya Sehun mulai menyukai Hyera. Ia mulai tersenyum sendiri ketika melihat wajah tidur Hyera.

Entah merasa ditatap atau apapun, Hyera mengerjap-erjap. Ia terbangun dari tidurnya dan melihat Sehun dalam posisi tepat dihadapannya. Bahkan mata mereka dalam jarak sangat dekat.

 

“hei!” Hyera mendorong bahu Sehun untuk menjauh darinya. Ia mulai terduduk dan menatap Sehun dengan pandangan menuntut. “apa yang kau lakukan padaku, Oh Sehun?!” kedua tangannya menyilang di depan dadanya.

 

Sehun hanya memandang wajah Hyera yang terlihat bodoh, menurutnya.

**

Suara pintu terdobrak keras. Para pelanggan kedai menjadi kaget. Termasuk Luhan dan Lay juga. Ternyata ada dua anak sekolah yang berpenampilan seperti preman datang kesana. Mereka berjalan menuju meja bar dan menanyakan sesuatu.

“kau mengenal D.O kan?” Tanya salah satunya, berkulit sedikit gelap. “AKU TANYA KAU MENGENAL D.O KAN?!”

“Jongin-ah, kau harus tenang.” Ucap salah satunya dengan memegang pundak temannya, Jongin.

“Bagaimana bisa tenang?!”

 

“ada apa?” Tanya D.o ketika keluar dari persembunyian. “kalian mencariku? Oh! Chen hyung dan Kai. Ada apa?”

 

Mata elang Jongin menuju ke D.O, ia terlihat benar-benar sebal. Ia berjalan cepat menghampiri D.O dan memegang kerah seragam kerja D.O.

 

“mereka akan bertengkar.” Kata Luhan pada Lay.

“hah?! kenapa bisa tau?” Lay bertanya tanpa menatap Luhan. Matanya terlalu focus terhadap keributan dikedai ini. “oh iya, kau kan serba tau.” Kata Lay baru sadar.

“sebaiknya kau hentikan keributan ini.” kata Lay menambahi.

“tidak. Aku ingin melihat para ksatria bertengkar terlebih dahulu.”

“apa?!” Lay menatap Luhan tidak percaya. “mereka bertiga ksatria?” tanyanya tak percaya. Matanya membulat.

“bukan. Bukan bertiga. Berempat. Kau lihat pelayan yang tinggi itu? Dia juga ksatria.” Kata Luhan sambil menunjuk yang tinggi diantara keempat disana.

“hah?! Oh God! Kenapa dunia ini sempit sekali!” kepala Lay rasanya mau meledak sekarang. Kenapa para ksatria bisa saling berkumpul seperti ini?

 

“DO KYUNGSOO KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!” Jongin menghempaskan badan kecil D.O ke rak piring.

Rak piring yang di tabrak D.O oleng. Rak itu akan jatuh sebentar lagi. Tapi, barang-barang diatasnya sudah seujung tanduk. Jika D.O tak segera bangun, ia akan terkena barang-barang yang mudah pecah itu. Namun D.O tak kuat. Sehingga piring, gelas, dan mangkok itupun terjatuh.

 

Semua mata disana melebar. Tentu saja. Piring, gelas, dan mangkok itu tidak jatuh. Tapi melayang.

 

“hah? mana mungkin!” Jongin tak percaya. Ia mengucek-ucek matanya beberapa kali. Benda-benda itu masih melayang. “D.O bisa sihir?!”

“hmmm. Aku rasa bukan D.O yang melakukannya.” Ucap pelayan tinggi itu dengan canggung. Matanya melirik ke arah meja pelanggan nomor 7. Itu meja Lay dan Luhan.

Semuanya menatap orang yang duduk disitu. Terlihat telapak tangan Luhan mengarah ke arah benda-benda melayang itu.

“tak salah lagi. Dia adalah penyihir.” Kata Chen tak percaya. “aku kira penyihir hanya ada di dunia dongeng saja.” Katanya.

 

Tangan Luhan mengarah ke arah lain, kemudian menghempaskan benda-benda itu tanpa melukai siapapun. Dan D.O, sepertinya D.O pingsan.

Luhan bangkit dari duduknya, berjalan santai menghadap ke Jongin. Pandangannya meremehkan.

 

“aku bukan penyihir.” Kata Luhan melirik ke arah Chen yang ada di belakang Jongin. Kemudian matanya menatap Jongin lagi. “kau. Beraninya kau melukai anak polos seperti itu, hah?”

“kau bahkan tidak tau apa yang terjadi, bocah! Sebaiknya kau sedikit hormat dengan aku!” kata Jongin. “apa kau pikir dengan membuatku terkesan seperti tadi, aku akan takut kepadamu?”

“jangan panggil aku bocah! Kau tau? Aku dan kau bahkan lebih tua aku, Kim Jongin!”

 

Mata Jongin melebar ketika mendengar namanya disebut. Bagaimana orang didepannya itu mengetahui namanya?

 

“tuh kan! Kau bahkan mengetahui nama Jongin! Itu berarti kau penyihir.” Chen berucap lagi. “sebaiknya kau usir dia dari kedai ini.” Chen menyikut pelayan tinggi disampingnya.

“aku takut melayang.”

 

**

 

“kau berani bersumpah?” Hyera masih jaga jarak dengan Sehun. Bahkan ia masih tidak ingin didekati oleh Sehun. “eomma aku sudah tidak suci lagi.”

“ya ampun Hyera kau berlebihan sekali! Aku tidak memegangmu sedikitpun. Aku berani bersumpah.” Kata Sehun. Ia bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu keluar.

 

“untung tidak terkunci.” Kata Sehun ketika pintu bisa terbuka. Ia menatap ke arah Hyera. “kau tidak ingin kan di makan hantu? Ayo pulang!” ajak Sehun.

“aku masih tidak percaya kata-katamu, Oh Sehun.” Desis Hyera sebal. Ia berdiri dan berlari kecil menghampiri Sehun. Dan tentunya masih memberi jarak diantara mereka. “kau jalan duluan.”

“kau yakin?” alis Sehun naik-turun. “tempat ini benar-benar sepi dan gelap. Dan aku tidak berani membiarkanmu berjalan sendirian dibelakangku.”

“jangan menakut-nakutiku seperti itu cadel! Cepat jalan.” Bentak Hyera. Sejujurnya ia takut. Tapi ia malu mengatakannya.

“terserah kau saja.”

 

Mereka berjalan tidak beriringan. Hyera berada di belakang Sehun. Sementara Sehun berjalan santai didepan Hyera. Dalam benaknya, ia ingin sekali mengerjai Hyera. Ini adalah salah satu kesempatan emas.

 

Sehun berlari sangat cepat. Meninggalkan Hyera dibelakangnya yang sepertinya ikut berlari. Tapi Hyera kalah cepat. Sehun sudah sembunyi duluan dibalik pot bunga besar di depan area perpustakaan.

 

“ah!” Hyera terlalu lelah berlari. Matanya mengawasi sekitarnya. Ia takut apa yang diucapkan Sehun tadi benar. “kemana cadel? Hah~”

“CADEEEEL !! OH SEHUN CADEL TEGA SEKALI KAU MEMBIARKAN AKU BERJALAN SENDIRIAN SEPERTI INI. AYOLAH AKU MINTA MAAF SOAL TADIII.” Teriak Hyera. Ia merasa sangat takut. Namun Sehun tak kunjung keluar dari persembunyiannya. “ah Sehun benar-benar marah.” Gumamnya.

 

Hyera tidak sadar sedari tadi dibelakangnya ada orang. Ia masih saja berjalan was-was. Tiba-tiba saja…….

 

“kyaa~! Heumfff!!” seseorang membekap mulut Hyera dengan tangan kosong. Hyera diseret menuju sebuah tempat yang masih berlokasi di sekolahan.

 

“Shin Hyera!” seru Sehun pelan dan keluar dari persembunyian. Ia cepat-cepat mencari Hyera.

 

**

 

Sesuatu terjadi di ruangan itu. Tao sempat memekik sedikit kencang. Ruangan itu berbunyi keras seperti alarm. Foto gadis dihadapan Kris menyala merah.

 

“ada apa ini, Kris?” Tanya Xiumin benar-benar bingung.

“sepertinya dia dalam bahaya.” Kata Suho sambil menatap foto gadis disana. “aku bisa merasakannya.”

 

-TBC-

34 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 8

  1. D'Angel berkata:

    sekian lama nunggu ini ff, akhirnya keluar juga ._. Kkk~
    lagi seru serunya loh.. Knp tbc cobaa –”
    terus knp luhannya gamau langsung ngumpulin semua ksatrianya coba.. /? .-.
    Lanjut thoorr.. Jgn lama” =3=

  2. @Sofiaaulianissa berkata:

    wah daebak lama anget aku nunggu ff ini Nta untung modem ada pulsanya hahahah….
    kelanjutannya ku tunggu ya Nta… ^^

  3. YoviChoi [@Yoviyossyntha] berkata:

    Thor nae nunggu ff ini lama buanget! Akhirnya di post juga!
    Neomu daebak thor!? Seru,,
    eh’! Itu siapa yang bawa hyera pergi? #mikirkeras,
    sumpah makin penasaran!?
    Next thor yang cepet!?
    Hwaiting

  4. Indri berkata:

    Lanjut thor, lagi seru”nya nih. Siapa yg nyulik hyera? L kah? #sotoy. Jangan lama” thor share nya #banyak bacot lo. Hehe

  5. Shalsa berkata:

    Wah udah keluar part 8 *-* makin seru😄

    Cepet dilanjut ne thor, jan lama2 ne😄
    Lg seru soalnya
    Keep writing thor😀

  6. hi… aku reader baru disini..
    wuahhhh ffnya keren thor..
    itu hyera di culik sama siapa ?? dan gimana luhan ma jongin ??
    chapter 9 nya cepet di publish ya thor … udah penasaran nih …

    hwaiting !!!

  7. Maya dhiafakhri berkata:

    Yaa!!! Lanjut lanjut kumohon🙂 Thor ceritamu benar benar bagus, aku sampe terharu. Oh yah perkanalkan aku readers baru. Namaku Maya pacarnya D.O😀 Lnjutkan thor, Fighting. Aku bngung mau coment apa tentang FF mu yang mampu mengalihkan duniaku :’)*elapingus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s