FF EXO : BLACK PEARL Chapter 9

bp 4

Title : Black Pearl

Author : Printa FS a.k.a Printa Park (@bukanprinta)

Genre : Fantasy, Conflict, a little bit comedy

a/n : Annyeong haseyo~ Wuhuuuu. Lama banget gak ngelanjutin ini FF yap. Maapkan saya, saya terkena writer’s block sepertinya. Soalnya pas mau lanjut pasti ada aja yang bikin mampet imajinasi saya. Padahal sebelumnya ide-ide buat ngelanjutin ini FF lancar loh, tapi pas mau ditulis malah ngeblank. Akhirnya ngaret deh FF ini. Maaf ya😦 Ohiya, ini juga udah aku panjangin loh. Dapet 12 Halaman page ms. word coba. Bayangin aja wkwk. Gimana nih poster barunya? Bagus gak? aku bosen soalnya, ngelanjut FF gak bisa-bisa, akhirnya bikin poster baru aja hohoho. Semoga kalian suka. Yaudah deh, monggo dibaca ^^ jangan lupa RCL.

 

 

©Printa Park’s Fanfiction 2014

 

Sesuatu terjadi di ruangan itu. Tao sempat memekik sedikit kencang. Ruangan itu berbunyi keras seperti alarm. Foto gadis dihadapan Kris menyala merah.

“ada apa ini, Kris?” Tanya Xiumin benar-benar bingung.

“sepertinya dia dalam bahaya.” Kata Suho sambil menatap foto gadis disana. “aku bisa merasakannya.”

**

“aih! Jinjjayo! Shin Hyera dalam bahaya, Lay!” teriak Luhan pada Lay ketika firasatnya berkata demikian.

“oh kau ingin bercanda lagi, hyung? Kau tadi sudah menipuku. Kali ini aku tidak percaya lagi denganmu.” Kata Lay.

“aku serius, babo! Ayo cepat kita cari mereka. Dasar Sehun cadel! Jagain Hyera saja tidak becus.” Celetuk Luhan sambil keluar dari kedai. Diikuti dengan Lay dibelakangnya.

Seisi kedai berubah menjadi cair. Yang tadinya sedikit hening, kini agak sedikit ramai. Pelayan yang tadi disuruh mengusir Luhan berjalan menghampiri D.O yang belum sadar diri.

“kau!” Kai menunjuk ke arah pelayan yang membantu D.O tersebut, “nanti jika dia terbangun, katakan padanya aku belum memaafkannya.”

“baik.”

**

Seorang lelaki membawa Hyera menuju tempat dikawasan sekolah milik Sehun. Ternyata dia membawa Hyera di ruang kesehatan. Oh ini akan mempersulit pencarian Sehun. Lagipula siapa lelaki dengan topeng badut diwajahnya itu? Benar-benar akan membuat Hyera menangis jika ia sudah tersadar nanti.

*

“Shin Hyera! Kau jangan main-main denganku! Maafkan aku karna tadi meninggalkanmu! Aku minta maaf! Aku minta maaf, Hyera-ya!”

Sehun berteriak sudah sekian kalinya. Ia masih belum melihat Hyera. Apa jangan-jangan Hyera diculik?! Lalu siapa yang menculik Hyera? Ini sudah malam. Lagipula Hyera tidak begitu terkenal sekali di sekolah ini. tidak sebelum Kai menyukai Hyera. Oh dalam keadaan seperti ini ia masih saja memikirkan Kai. Sepertinya rasa bencinya terhadap Kai masih belum padam. Terlebih ketika tau Kai menyukai Hyera.

Langit sudah sangat gelap. Lampu sekolah mulai menyala satu-persatu. Tentu saja lampu tersebut dinyalakan lewat ruangan khusus. Bukan menyalakan dari saklar ke saklar lain. Lagipula ini sekolah yang kaya. Membuat ruangan khusus menyalakan lampu tidaklah mengeluarkan biaya yang sulit –bagi mereka

*

Hyera sudah siuman. Ia melihat sosok yang membelakanginya. Terlihat sosok tersebut mulai berbalik dan berjalan ke arahnya. Siapa dia?

“omo!”

Mata Hyera terbelalak melihat lelaki tersebut memakai topeng badut. Ia takut dengan badut. Ia ingin menangis rasanya. Tapi lelaki tersebut segera melepas topeng tersebut dan terlihatlah wajah aslinya.

“kau….. ah! Dimana aku?”

“hai, gadis cantik. Senang bertemu denganmu lagi. Untung aku bisa segera pergi waktu kau hampir membongkar identitasku didepan pengecut itu.” Ucapnya, L, dengan sadis. “kau akan kubawa sebagai sanderaku. Dan akan ku tukar dengan Sehun. Lalu Sehun akan segera lenyap. Ramalan itu akan lenyap! Hahaha!”

“dasar orang gila! Siapa yang pengecut? Kupikir kau lebih pengecut daripada Sehun! Kau tau? Menculikku seperti ini adalah hal terbodoh yang aku tau. Menukarku dengan Sehun dan kau ingin membunuhnya? Hah~ dimana otakmu, Kim Myungsoo?”

“kau! Jangan pernah meremehkanku atau hidupmu tak akan lama lagi.”

“hah. kau pikir aku takut denganmu, hah? begitu? Mentang-mentang kau lelaki dan aku perempuan, aku takut denganmu? Tidak, L! tidak akan. Kau bahkan sangat lemah seperti perempuan.”

“kubilang jangan meremehkanku!” L melemparkan pot bunga di atas meja nakas.

Hyera sudah menutupi kepalanya dengan tangan. namun pot bunga itu tak kunjung mengenainya. Bahkan tak terdengar apapun. Seharusnya, jika pot itu tidak mengenainya, harusnya pot itu jatuh dan pecah.

Hyera mengintip sedikit dari celah tangannya. Ternyata, pot bunga itu melayang tepat di hadapannya. Melayang! Ini sulit dipercaya. Namun, jika ada Luhan disini, ini semua bisa saja terjadi.

“kau?!”

L memekik ketika mengetahui dibelakangnya terdapat Luhan berdiri dengan tangan kanannya memanjang ke arah pot melayang itu. Kemudian ia menjauhkan pot itu dari hadapan Hyera dan menjatuhkannya disana. Hyera menatap Luhan senang. Ia pikir ia tidak akan bisa lepas dari L.

“kenapa? Kau takut denganku?” Tanya Luhan enteng sambil menyandar di pintu ruang kesehatan. “mudah sekali mengetahui kau menculik Hyera. Kau bodoh? Jejak sepatumu terlihat sangat jelas di lantai sekolahan ini. kau pikir karena sekolah ini luas, akan sulit menemukanmu?”

“kenapa kau selalu hadir untuk menghancurkanku, LuHan?! Biarkan aku melenyapkan ramalan Ratu Yuri dan semua akan segera selesai!”

“melenyapkan ramalan dengan membunuh adikku? Kau pikir itu mudah bagiku? Itu tidak akan pernah terjadi. Kalau kau mau, kau saja yang kubunuh.”

L menggeram marah sambil menatap Luhan yang masih saja berdiri anteng. Oh, kemana perginya Lay? Bukankah tadi Luhan kesini bersama dengan Lay?

*

Sehun berjalan cepat mengitari sekolahan ini. dalam hati, ia mengutuk perbuatan jahilnya. Kalau tau Hyera akan diculik, ia tidak akan meninggalkan Hyera seperti tadi. Oh bahkan sekarang ia takut Hyera diculik oleh ….. ah membayangkannya saja membuat Sehun merinding. Yang penting sekarang ia harus mencari Hyera secepatnya dan pulang kerumah sebelum Luhan mengomelinya.

Ia berjalan cepat, tapi, lama-kelamaan langkahnya semakin lambat karena indera pendengarannya mendengarkan sesuatu dari arah belakang. Ia menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia mulai berjalan dan mencari Hyera dari segala koridor yang ia lewati. Tapi masih saja tidak ada Hyera.

Suara langkah kaki dibelakangnya membuat bulu kuduk Sehun merinding. Ia mulai berjalan cepat sekali, bahkan nyaris berlari. Oh Sehun ternyata takut dengan hantu. Hahaha.

“boo!”

“YA!”

Jantung Sehun berdegup kencang ketika seseorang mengagetkannya ketika ia menoleh ke belakang.

“Lay Hyung! Kau menakutkanku tau!” Sehun hampir saja terjatuh jika Lay tidak menarik tangannya tadi.

“hahahahahaha.” Lay tidak berhenti tertawa melihat wajah Sehun ketika ketakutan tadi. Tau begitu ia tidak usah menarik tangan Sehun, agar Sehun jatuh. “kau lucu sekali, Sehun-a!”

“huh! Kenapa kau kesini, hyung?” ketus Sehun, ia masih sebal rupanya.

“aku? Aku menemanimu. Kau berani berkeliling sekolahan ini sendirian? kurasa tidak.” Jawab Lay dengan santai. Ia masih ingin tertawa sepertinya, namun keketusan Sehun barusan membuatnya menahan tawanya. “ayo kita cari Hyera.”

“darimana hyung tau?”

“tau apa?”

“tau Hyera hilang lah!”

“oh, aku tau karena Luhan hyung tadi memberitahuku. Entahlah, feeling-nya selalu tepat.” Ucap Lay. “baiklah, ayo cepat cari.”

**

“kau bodoh, L!” seru Luhan kesal. Ia berjalan mendekati L dengan tatapan marah. “kau bodoh! Melenyapkan ramalan tersebut dengan membunuh Sehun? Apa kau tidak tau, hah?! Sehun memiliki banyak saudara. Kau ingin mati konyol?”

“aku tidak takut. Yang penting Sehun terbunuh, dan semuanya selesai. Ramalan akan lenyap. Aku akan terbebas!” ucap L masih keukeuh.

“dasar keras kepala! Aku mencoba membujukmu agar tidak membunuh adikku, kenapa kau masih nekat? Kepalamu ini terbuat dari apa sih? Batu?”

“jaga bicaramu, Lu!” ketus L sambil mencoba mencari jalan keluar. Ia harus pergi secepatnya.

Hyera menatap Luhan dan L yang masih saja berdebat. Kepalanya masih pusing akibat obat bius tadi. Ia menatap L dengan sebal. Merasa ditatap, L balik menatap ke arah Hyera. Entah apa kekuatan Hyera, kini L malah tertunduk lesu ke lantai ruang kesehatan.

Hyera dan Luhan bingung melihat L terduduk begitu saja. Bukankah tadi ia saling menyolot(?) dengan Luhan? Kenapa tiba-tiba terduduk lesu seperti itu?

“waeyo?” Tanya Hyera.

“aish! Kau ini masih saja bertanya seperti itu dengannya. Sudah tau dia musuh. Untuk apa di kasihani. Ayo cepat pergi dari sini.”

“anniya! Dia terlihat lesu, oppa.”

“huh~ ramalan itu, ramalan Ratu Yuri. Aku ingin sekali melenyapkannya. Aku ingin bebas.” Ucap L lesu.

Hyera dan Luhan saling menatap heran. Apa yang dibicarakan L?, pikir Hyera.

“aku ingin sekali bebas dari masalah ini. kalau saja dulu aku tidak membuat kekacauan di kerajaan, aku sudah bisa terlepas dari masalah besar ini.” kata L lagi.

“apa maksudmu, L?” Tanya Luhan bingung.

“aku hampir saja membunuh raja.” Kata L. “aku tidak sengaja! Aku berani bersumpah. Waktu itu raja tengah duduk di pinggir kolam ikan kesukaannya, tanpa bermaksud apa-apa, aku datang menghampirinya untuk menawarkan kue.” Ucap L.

“lalu?”

“raja terlihat sangat terkejut. Beliau terjatuh ke dalam kolam. Meskipun tidak terlalu dalam, namun raja tidak bisa berenang.” Katanya. “gara-gara masalah kecil itu, aku jadi terlibat hal seperti ini. ratu Yuri menyuruhku melenyapkan ramalan.”

“apa kau yakin dengan melenyapkan ramalan itu kau bisa terbebas? Kurasa, ratu Yuri mempunyai ide buruk untukmu, L.” ucap Luhan memperingatkan. Oh ayolah, kemana Luhan yang tadi marah-marah ke L?

“entahlah, aku harap tidak. Ratu Yuri berkata akan membebaskanku dengan membunuh anggota termuda dari ksatria, yang kutahu adalah Sehun. Aku ingin membunuh Sehun. Tapi, susah sekali.” Kata L.

“kau tidak boleh membunuhnya!” ucap Hyera. “anggota termuda sebenarnya…”

“hei!”

Seseorang datang memotong ucapan Hyera. Ternyata Sehun dan Lay.

“kau disini rupanya –eh? Kenapa kau disini L?” Tanya Sehun kaget. Ia hampir saja menghampiri Hyera, tapi matanya dengan cepat melihat L duduk disebelah Hyera. Tentu saja membuat Sehun bingung.

“dia sedang curhat.” Ucap Luhan pelan.

“kau! Akhirnya kita bertemu juga!” ucap L. sepertinya wajah lesunya tadi sudah hilang. Kini wajah menyebalkan dengan tatapan mata elangnya yang begitu menusuk, ini membuat Hyera sebal menatap wajah L.

“kau mencariku?” Tanya Sehun enteng. “kau masih ingin membunuhku?” Sehun sudah hafal apa rencana busuk dibalik wajah tampan L.

“tentu saja.” Ucap L.

“oppa, kurasa kau tidak usah membunuh Sehun. Kami akan membantumu keluar dari masalah seperti ini. yang terpenting sekarang jumlah ksatria harus lengkap. Kami akan sebisa mungkin menolongmu keluar dari masalah ini.” ucap Hyera penuh pengertian. Ia menatap L dalam.

“kau tidak tau, Hyera-sshi.” Ucap L dengan nada kembali melunak. “aku disuruh menjadi pelayan kerajaan, asal kau tau. Aku masih sekolah! Tapi kenapa ratu Yuri menyuruhku menjadi pelayan kerajaan. Sudah beberapa minggu ini aku tidak sekolah.”

“kabur!” seru Lay ketika mendengar pengakuan L barusan. “kalau aku jadi kau, aku akan kabur dari kerajaan. Dengan begitu, kau bisa sekolah lagi.”

“tidak semudah itu. Penjagaan di kerajaan sangat ketat. Bisa-bisa aku dihukum mati oleh ratu Yuri.” Ungkap L sedih.

“dengar, kau bisa mengandalkan kami untuk membebaskanmu, seperti kata Hyera tadi. Tapi, kau jangan pernah membunuh salah satu dari kami. Setelah nanti kami menyelesaikan tugas, kami akan secepatnya membantumu keluar.” Kata Luhan memberi solusi sekaligus menenangkan L.

L menatap Luhan. Matanya kembali berkilat marah. Sebenarnya apa yang membuat L menjadi melunak seperti tadi? Apakah tatapan mata Hyera? Mana bisa?

L berdiri, diikuti yang lain. Ia berjalan keluar dengan santai. Tidak ada yang mengejarnya atau meneriakkan namanya. Biarlah L pergi. Sepertinya dia kembali ke kerajaan.

Luhan tidak tau, kenapa dirinya mau-mau saja memberikan solusi seperti tadi. Ia bahkan tidak percaya atas apa yang ia ucapkan barusan. Para ksatria saja belum ia kumpulkan semuanya. Bagaimana mau membantu L?

Tunggu dulu, sepertinya Luhan mengingat sesuatu tentang kejadian ini. rasanya seperti de javu. Luhan pernah merasakan hal ini. entah ayahnya dulu yang mengalaminya, atau dirinya sendiri, ia lupa. Apakah dulu ayahnya pernah membantu musuhnya seperti dirinya saat ini? atau siapa?

“Luhan hyung, ayo pulang. Kenapa malah melamun seperti itu?” ajak Sehun sambil menggandeng tangan Hyera.

Hyera tampak tenang, biasanya jika salah satu anggota tubuhnya bersentuhan dengan Sehun, maka akan timbul keributan. Namun kali ini, sesuatu terjadi di antara mereka. Entah siapa yang memulai gandengan tangan tersebut, Luhan harap mereka akan terus seperti ini sampai kapanpun.

“kajja. Udara sudah mulai dingin.” Lay mengeratkan jaket tipisnya. Ia tidak tau jika udara malam akan sebegini dinginnya. Lay jarang keluar saat malam tiba. Ia biasanya sudah pergi ke dapur untuk memasak ataupun tengah mengerjakan PR tetangganya yang berkunjung ke rumahnya.

**

Tao masih berpikir. Ia tak mungkin salah. Tebakannya tidak mungkin salah. Pasti ada yang tidak beres. Gadis di foto tersebut pasti tadi tengah dalam bahaya. Namun, cahaya merah di foto gadis tersebut kini tengah meredup. Pasti sudah tidak bahaya, gadis tersebut aman sekarang.

Nah sekarang, kita beralih pada Kris yang sudah meneguk beberapa gelas air putih. Xiumin yakin, perut lelaki bertubuh tinggi itu pasti tengah dipenuhi air sekarang. Ia bahkan tidak ingat jika Kris akan meminum air jika sedang panik ataupun bingung.

Sementara Suho, ia tak mempermasalahkan foto gadis tersebut. Tapi, matanya menelusuri ruangan rahasia yang tadi berada pada kamar yang Tao tempati. Ingatan Suho berkelebat tidak beraturan. Pikirannya tidak lurus lagi sekarang. Sesuatu terjadi dan menyerang pikirannya.

“kau tidak apa-apa?” Xiumin menepuk pundak Suho.

Dapat dilihat wajah Suho mulai pucat dengan tatapan mata yang bergetar. Xiumin segera membawa Suho ke sofa dan memberinya segelas air putih agar sedikit tenang. Mata Suho mulai terkendali, ia menatap teman-temannya yang mengelilinginya dengan wajah cemas.

“aku merasakan sesuatu,” Suho mulai bercerita, “seperti ada yang aneh di otakku. Aku tidak pernah merasakan seperti ini. kau tau? Jika sedang panic, aku merasa kejadian seperti ini saja tidak pernah menimpaku sebelumnya.”

“langsung saja ngomong pada intinya, Suho hyung. Aku bingung.” Ucap Tao sambil meminum air putih menggunakan gelas Suho tadi.

“seperti ada memori yang tiba-tiba masuk dalam pikiranku. Memori itu masuk dan mendesak begitu saja ke otakku. Dan terang saja aku tidak bisa mengendalikan diri. Untung ada Xiumin hyung.”

Kris kemudian mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini, “aku pikir ada sesuatu hal yang menyangkut tentang diri kita dan orang-orang di foto tersebut. Aku tidak dapat mengingatnya. Namun, aku rasa Suho mendapat memori tersebut karena hal itu.”

“memori apa saja, hyung?” Tao bertanya dengan mimik wajah serius. Ia tidak pernah seserius ini sebelumnya.

“aku melihat seseorang tengah bermain menggunakan tongkat. Aku tidak yakin, tapi, kurasa ia tengah berlatih wushu?” Suho memejamkan matanya dan mencoba mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini. “dia sepertimu Tao. Ya! Itu dirimu, Tao-ya!”

“aih? Aku memang jago wushu, hyung. Tapi, kurasa memori yang barusan hyung katakan adalah memori minggu lalu ketika kau melihat aku berlatih wushu di belakang rumah.” Kata Tao.

Suho menggeleng kuat, “bukan, bukan. Ini beda. Aku melihat seseorang lagi. Dia datang dengan menaiki seekor naga. Aku tidak yakin juga. Tapi wajahnya sepertimu, Kris.”

“hahahahaha. Tidak mungkin, Suho-ya! Bahkan di dunia ini tidak ada naga! Apa kau percaya? Dan Kris? Wajah konyol sepertinya bisa menaiki naga? Kau ingat akhir tahun lalu? Kris bahkan tidak berani melihat barongsai!” Xiumin tertawa dengan puas, sementara yang di tertawakan tampak menatap Xiumin sinis.

“ini serius! Kenapa kalian malah meremehkanku? Ish!” Suho merajuk. Tadi Tao yang meremehkannya, sekarang Xiumin. Apakah jika ia menceritakan memorinya selanjutnya, Kris yang gantian meremehkannya?

Lalu, Suho mulai melanjutkan ucapannya ketika Kris menyuruhnya. Sebenarnya ia sudah ngambek sama teman-temannya, tapi mau bagaimana lagi? Jika ucapan Kris tidak di turuti, bisa-bisa rumah itu acak-acakan karena amukan Kris.

Suho bercerita hampir pada bagian akhir memorinya, “…aku pikir ia anggota termuda dari kita. Hm, aku rasa orang-orang yang baru saja aku ceritakan pada kalian adalah orang-orang di foto tersebut. Sama persis. Namun, mereka mempunyai kekuatan, begitu juga aku! Aku mempunyai kekuatan.”

“aku tidak mempermasalahkan punya kekuatan atau tidak, tapi, siapa mereka? Siapa gadis itu? Kau bahkan tidak menyebutkan ada gadis dalam memorimu.” Kris menatap teman-temannya.

“gadis? Oh, iya. Kau tidak menyebutkan gadis yang ada di foto itu. Aku rasa dia juga ada sangkut pautnya, deh. Apa memorimu tidak ada gadis di foto itu, hyung?” Tanya Tao.

Suho menggeleng, ia mencoba memusatkan pikirannya pada memori-memori yang tadi merasuk begitu saja pada pikirannya. Namun sia-sia, gadis itu belum ada di memorinya. Mungkin memorinya akan menyusul besok pagi?

**

Malam ini makan malam mereka ditemani suara jangkrik. Benar-benar sepi. Mereka focus pada makanan masing-masing. Seperti belum makan tiga hari, Hyera makan sangat banyak malam ini.

Sehun yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Ia memanggil Hyera, kemudian mengatakan kalau Hyera jangan makan terlalu banyak. Kemudian Sehun melirik bibi Cho yang mempunyai badan gendut. Hyera terkikik sendiri melihat reaksi Sehun yang melirik bibi Cho sambil menggembungkan pipinya.

“aish, kalau makan jangan sambil berbicara.” Tegur Lay yang melihat Sehun dan Hyera terkikik bersama.

“kami tidak berbicara, kok!” sergah Sehun dan Hyera bareng. Mereka saling menatap, kemudian terkikik lagi. “aigo, perutku rasanya mau meledak tertawa seperti ini terus.” Ujar Hyera sambil meminum air putih.

Ketika semuanya sudah selesai menghabiskan makanannya masing-masing, Luhan mulai angkat bicara. Kali ini nadanya terdengar serius. Semuanya menatap Luhan serius, kecuali Sehun yang kini masih asik berkutik dengan ponselnya.

“ya! Sehun-a!” Luhan menegur Sehun dengan nada tegas. Sehun hanya melirik, kemudian menaruh ponselnya di meja. “dengarkan aku.”

“apa yang akan kau bicarakan, hyung?” Tanya Lay yang mulai penasaran. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, mulai mendengarkan setiap ucapan yang akan diucapkan oleh Luhan.

“mungkin Lay dan Sehun belum tau akan hal ini, hanya aku dan Hyera,” Luhan membuka ceritanya, “aku melihat L yang sedang marah, tapi sedetik kemudian, ia berubah menjadi memelas. Aku tidak tau pasti apa sebabnya. Tapi, aku yakin pasti Hyera yang membuatnya seperti itu.” Katanya sambil menatap Hyera.

“hm!” Hyera mengangguk lucu, menyetujui setiap omongan Luhan. “aku juga melihatnya! Ketika aku menatap matanya, kupikir ia akan balas menatapku, karena sebelumnya ia selalu menatapku sinis. Tapi, tadi tidak. Aku melihat ke dalam matanya, kemudian ia langsung terduduk di lantai dengan wajah yang memelas.”

“mungkin tatapan matamu yang membuat L seperti itu, Hyera-ya.” Ujar Lay. “kau tau kan kalau kau punya kekuatan, mungkin itu salah satunya.”

“tidak, tidak. Aku tidak percaya jika ini kekuatanku. Kekuatan macam apa? Aku ingin kekuatan seperti Luhan oppa, atau mungkin seperti ksatria yang lainnya nanti.” Sergah Hyera.

“hei, kau tidak boleh begitu. Sudah baik punya kekuatan sendiri. Apa kau mau tidak punya kekuatan? Apa kau tidak akan malu kalau kekuatanmu adalah kekuatan para ksatria? Seharusnya kau bersyukur, bodoh.” Celetuk Sehun. Ia menatap Hyera datar. Namun sebaliknya, Hyera menatap Sehun sebal.

“memangnya kau siapa seenaknya meledekku bodoh? Gara-garamu juga aku jadi diculik oleh L. coba kalau kau…”

Ucapan Hyera terpotong karena tangan Sehun membekap mulut Hyera sebelum Luhan dan Lay mendengar celotehan Hyera tentangnya. Namun sepertinya ia terlambat, Luhan dan Lay terlanjur mendengar setengah dari celotehan Hyera. Dan tentu saja hal itu membuat Luhan dan Lay menatap tajam Sehun yang masih membekap mulut Hyera.

“aish! Tanganmu itu besar sekali! Menutup mulut dan hidungku sekaligus. Bagaimana jika aku mati karena tidak bisa bernafas huh?!” gerutu Hyera sebal sambil memukul pundak Sehun. Sehun hanya diam saja karena tidak merasa sakit dengan pukulan kecil Hyera.

Sehun rasanya seperti berada pada ujung tebing sekarang, yang dibelakangnya terdapat jurang dengan dasar yang tidak terlihat. Sehun menelan ludahnya. Ia menatap Luhan dan Lay yang juga sedang menatap Sehun tajam.

“Hyera-ya, lanjutnya ucapanmu tadi.” Kata Lay datar, masih dengan menatap Sehun tajam. “palli!”

“wae?” Hyera tau ia sedang berada pada atmosfir tidak baik saat ini. ia harus segera menemukan topic baru. “hmm, kau tau? Akhir-akhir ini aku merasakan dampak aneh.” Katanya dengan ragu.

Ucapan Hyera barusan membuat Luhan, Lay, serta Sehun menatapnya cemas.

“dampak apa?” Tanya Sehun cepat. “apa kau sakit?”

Hyera menatap Sehun, “tidak. Aku hanya merasa….. kelelahan. Ya, kelelahan.” Kata Hyera gugup. “kadang-kadang aku pusing sendiri, kadang-kadang juga perutku sakit. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.”

“mungkin ada anggota ksatria lainnya yang juga tengah sakit pada bagian yang kau rasakan saat itu.” Kata Lay berdiagnosa. Ia masih ingat tentang sakit dibadan Hyera ketika Baekhyun dipukuli oleh para preman. Sedetik kemudian Lay memekik sedikit kencang. Membuat yang lain menatapnya bingung.

“dimana Baekhyun?” Tanya Lay, membuat beberapa pasang mata yang menatapnya mulai mengerti apa yang membuat Lay memekik tadi. “setelah mengantar kalian tadi, aku tidak bertemu dengan Baekhyun lagi. Kemana dia?”

“aish, mollayo.” Sehun mengendikkan bahu. Ia seperti berkepribadian ganda. Tadi bisa terkikik bersama Hyera, sekarang tiba-tiba berubah jadi dingin seperti ini. membuat orang-orang bingung akan sikapnya yang bisa dibilang sedikit labil ini. “mungkin dia pulang ke rumahnya.”

“kenapa tidak ijin? Lagian, tadi juga harusnya dia nunggu di depan kelasmu saja. Biar setelah semuanya pulang, aku bisa menjemput kalian.” Kata Lay. “coba besok kalian cari di kelasnya.” Lanjut Lay sambil membereskan piring di atas meja, kemudian membawanya ke dapur untuk di cuci.

“kenapa tidak di telefon saja?” Tanya Hyera sambil mengupas apel. “kurasa lebih mudah dan lebih cepat.”

“memang kau punya nomor telefonnya?” balas Sehun cepat. “aku tak sempat meminta nomornya, dan kurasa kita tidak bisa menelefonnya karna tidak ada ada punya nomornya.” Kata Sehun sedikit sinis.

“kenapa dengan suaramu? Kenapa nada bicaramu seperti itu hah?” Hyera sedikit kesal kalau ada yang berbicara dengannya dengan nada yang sinis seperti Sehun tadi. Maka dari itu ia marah-marah. “normalkan bicaramu, Oh Sehun!”

“hei, aku lebih tua darimu, Shin Hyera!” Sehun berbicara tak kalah keras. Kini dua orang yang berada di ruang makan tengah berbicara dengan nada yang tidak bisa dibilang pelan. Hal ini membuat Luhan menatap heran dua bocah yang jarang akur ini.

“aw!”

Hyera memekik sedikit kencang ketika tangannya tergores pisau yang ia gunakan untuk mengupas apel tadi. Entah karena ia terlalu focus dengan Sehun, atau memang terjadi sesuatu pada salah satu ksatria di luar sana. Karena ketika tangan Hyera tergores pisau, kepala Hyera juga sedikit pusing.

“Hyera-ya, gwaenchanna?” Tanya Luhan yang terlihat sangat khawatir. Ia mengerti, pasti Hyera tengah kesakitan sekarang. Tapi, Hyera membalas pertanyaan Luhan tadi dengan anggukan kepala. “kau yakin? Wajahmu pucat. Ayo tidur, kau mungkin kelelahan.”

**

Hari ini, Kris tidak berniat kemana-mana karna ia yakin pasti teman-temannya akan ikut dengannya. Pasalnya, Kris hari ini terlambat bangun, ia bangun ketika semua teman-temannya sudah bangun. Padahal Kris berniat sebelum tidur kalau ia akan bangun pada pagi buta sebelum teman-temannya bangun, dan kembali ke kampus untuk menuntut ilmu tentunya.

Untung saja hari ini tidak ada jadwal. Dan sekarang, Kris tengah berada di ruang tengah, sedang menonton tv dengan keadaan yang tidak tenang. Suasana sangat ribut, bahkan ia tidak bisa mendengar suara di televise dengan baik karena ribut sekali keadaan di dalam ruangan tersebut. Karena tidak tahan, Kris berjalan menuju ruangan rahasia yang ada di kamar Tao.

Tak lupa, ia membawa senter, karena tidak ada penerangan lain di dalam ruangan sana selain membawa senter dari luar ruangan. Ia menatap foto gadis itu dan beberapa anak lainnya. Ia juga menatap sebuah lambang di pinggiran kumpulan foto tersebut. Sebuah lambang dengan sebuah mutiara hitam di kedua sisinya. Seperti kalung yang ia pakai.

Tiba-tiba, ia mengingat sesuatu. Ia ingat ketika seseorang mengatakan bahwa ia adalah ksatria. Ia mengingat bahwa ada seorang gadis yang ia antarkan pulang. Ia ingat bahwa ia menolong gadis itu mengambil surat yang ada di atas pohon. Ia ingat semuanya. Tapi, ia tidak ingat wajah dan gadis itu.

“hey, hyung!” sapa Suho dengan rambut yang acak-acakan. Kris yakin, ruang tengah kini juga pasti lebih acak-acakan dari penampilan Suho sekarang. “lagi ngapain?”

“kau pikir jika aku berdiri disini, aku sedang membuat kue ulang tahun?” jawab Kris sebal. “katakan saja, kau mau apa? Pake acara basa-basi segala.”

“hehehe. Aku lapar. Aku pesan delivery boleh tidak?”

“tidak!” jawab Kris cepat. “kau bisa memasak mie instan, tapi jangan pesan delivery.” Ucap Kris.

“waeyo? Kau ini pelit sekali.” Suho menatap Kris sebal.

“coba kau lihat isi dompetku. Tidak ada uang sama sekali.” Ujar Kris tak kalah kesal. “kan masih ada mie instan, kau buat empat sana.”

“lho? Kenapa banyak sekali? Kan hanya aku yang lapar.” Kata Suho sambil melipat tangannya di depan dada. “ngapain masak banyak-banyak?”

“hei, kau pikir Xiumin hyung tidak lapar? Kau pikir Tao tidak lapar? Kau pikir aku juga tidak lapar, huh?”

“eh? Kau lapar juga ya, hyung? Tidak ngomong, sih. Ya sudah, aku mau masak dulu. Lanjutkan deh buat kue ulang tahunnya.”

“ish, bocah ini….”

Kris menahan kesal. Gara-gara kedatangan Suho barusan, Kris jadi tidak berminat mengingat siapa gadis itu lebih jauh. Biar memori Suho yang mengingatkannya nanti.

“eh, Kris? Kau tidak berangkat kuliah?” Tanya Xiumin ketika Kris keluar dari ruangan rahasia itu. Kris menggeleng, “waeyo?”

“aku yakin, jika aku pergi ke kampus, kalian akan mengikutiku dan membuatku jadi malu karena sikap kalian. Selalu ribut dimanapun dan kapanpun.”

“aih? Mianhae, hyung. Kau bisa pergi ke kampus kalau kau mau. Aku dan hyung-hyung tidak akan mengikutimu, deh.” Kata Tao.

“tidak, ah. Malas. Aku belum makan. Lagipula aku tidak ada jadwal kuliah. Aku bisa bebas tidur dirumah.” Ujar Kris, kemudian duduk di sofa sambil menyalakan tv. Suasana sedikit tenang dibanding tadi.

“loh? Kemarin bukannya hyung buat tugas ya? Pas di café itu?” celetuk Suho yang ternyata mendengar ucapan mereka bertiga. “memang kapan tugas itu dikumpulkan?”

“tugas?” Kris tampak berpikir. Ayolah Kris, sebegitu pelupanya kah kau sampai tidak ingat tugasmu kemarin? “ah, itu dikumpulkan hari ini.”

Semuanya terdiam dan menatap Kris. Kris menatap kawan-kawannya yang entah kenapa melihat dirinya sampai hening seperti ini. Suho yang tadi ada di dapur sedikit melongokkan kepalanya di pintu untuk menatap Kris.

“kau ini pelupa akut ya, hyung.” Celetuk Suho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “modal tampang, tapi sebenarnya kau ini pelupa. Aku tidak yakin pacarmu nanti akan kau akui sebagai pacar, atau kau malah melupakannya. Hahaha.”

“pelupa apa? Aku merasa tidak ada yang aku lupakan.” Kris masih bersikukuh dengan ucapannya. “kenapa sih? Aku jadi ragu. Sebenarnya ada apa?”

“kau bilang tugasnya di kumpulkan hari ini, kan?” si tertua angkat bicara, akhirnya. Melihat kepikunan temannya yang menjulang ini membuat darahnya naik ke kepala.

“iya. Lalu?”

Xiumin menghela nafas panjang, kemudian menghembuskan perlahan sambil menatap Kris. “lalu? Hari ini kau tidak berangkat ke kampus untuk mengumpulkannya? Memangnya kau mau dihukum gurumu?”

“AH YE! AKU BARU INGAT! TERIMA KASIH HYUNG! AKU MAU BERANGKAT KE KAMPUS!” Kris berlari ke kamar untuk mengambil tasnya.

“ya! Memang kau tidak mandi? Atau…. Sekedar mencuci muka dan berganti pakaian? Kau mau ke kampus seperti itu?” Suho kembali mengingatkan sebelum Kris keluar kamarnya.

“ah! Aku lupa kalau aku belum mandi. Baiklah, aku akan mandi dengan sangat cepat seperti petir.”

“kalau kau malas mandi, tidak usah mandi sekalian, hyung!” teriak Tao sambil menonton TV.

**

Perempuan dengan rambut acak-acakan ini terlihat masih awet menjelajahi alam mimpinya. Matahari sudah memunculkan dirinya, tidak biasanya perempuan ini terlambat bangun. Apa yang akan terjadi nanti jika ia sudah bangun?

Bibi Cho masuk ke kamar perempuan yang kita ketahui bernama Shin Hyera ini. bibi Cho membuka korden jendela agar cahaya matahari bisa masuk ke kamar Hyera dan membuat Hyera terbangun. Tapi, Hyera terlihat masih nyenyak dengan sebuah guling yang ia peluk.

Bibi Cho baru saja akan menarik guling itu, tetapi teriakan Luhan dari bawah membuat Bibi Cho tersentak dan buru-buru keluar dari kamar Hyera. Mungkin Luhan tengah memasak di dapur sekarang, jadi Luhan memanggil Bibi Cho agar membantunya.

Bibi Cho keluar dari kamar Hyera. Suasana di kamar Hyera sangat hening. Perempuan ini akhirnya sedikit menggeliat ketika merasakan sinar matahari yang mengenainya langsung. Ia terduduk dengan nyawa yang belum berkumpul penuh. Matanya masih menyipit. Ya, walaupun kita tau mata Hyera memang sudah sipit, tapi kali ini lebih sipit dari biasanya. Terlihat sekali kalau Hyera masih mengantuk.

Matanya mencoba terbuka lebih lebar dan melihat jam beker di meja samping tempat tidurnya. Karena nyawanya belum berkumpul semua, Hyera beranjak menuju dapur untuk mengambil air putih yang bisa membasahi kerongkongannya.

“akhirnya masakannya jadi juga! Aku senang sekali! Terima kasih bibi Cho! Kau memang terbaik!” Luhan memeluk bibi Cho, kemudian menatap telur mata sapinya yang sedikit gosong. “oh, Hyera-ya, kau sudah bangun rupanya.”

Hyera meneguk air putihnya sampai habis, kemudian menatap Luhan. “tumben kau sudah bangun, biasanya selalu bangun setelah aku. Aish, kepalaku masih saja pusing dari kemarin.”

Luhan menatap Hyera yang terlihat pucat dan berantakan. Kalau berantakan sih, jelas saja, karena Hyera baru bangun tidur. Tapi kalau pucat, sepertinya Hyera sakit sekarang. Untung saja Luhan tadi menyuruh agar Lay tidak membangunkan Hyera. Luhan merasa Hyera belum boleh kemana-mana dulu sekarang, takut kepalanya pusing lagi.

“kemana yang lain?” Tanya Hyera pada Luhan sambil berjalan menuju meja makan, disusul dengan Luhan yang duduk di sebelah Hyera. “sepi sekali.” Sambungnya.

“tentu saja mereka berangkat sekolah.” Ucap Luhan enteng tanpa beban. Ia kemudian melahap telur gosong buatannya. “tidak begitu buruk, ini enak!”

“ah, sekolah ya.” Hyera yang entah sadar atau tidak mengatakan hal tersebut, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. “kau sudah mandi, oppa?”

“tentu saja sudah. Aku dimarahi oleh Lay gara-gara belum mandi tapi sudah menonton tv. Padahal aku ingin sekali menonton kartun berbentuk kotak kuning itu. Tapi Lay malah mematikan tv nya. Dia galak sekali rupanya.” Dengus Luhan kesal. Oh, jadi seperti itu kalau alien merasa kesal, menyerocos cepat sekali, seperti tanpa titik.

“oh, baiklah. Aku mandi dulu.” Hyera meraih handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi, baru saja kakinya akan masuk melangkah ke dalam kamar mandi, ia berkata sesuatu, “tunggu dulu, apa katamu tadi? Yang lain berangkat ke sekolah?”

Luhan menoleh, kemudian mengangguk, “ada apa?”

“ya! Kenapa tidak membangunkanku?! Aish! Ini sudah jam berapa? Ah sudah jam 8, aku sudah sangat terlambat! Aih, bagaimana ini? apa aku tidak usah berangkat saja? Lalu bagaimana kalau aku diberi nilai F? bagaimana kalau aku dikeluarkan dari sekolahan?”

Luhan tidak mau mendengar celotehan Hyera. Ia kemudian membersihkan piringnya dan meletakkannya di rak piring dengan cepat. Lalu berlalu begitu saja meninggalkan Hyera yang masih berceloteh di depan kamar mandi.

“ya! Hyera-ya!” Lay yang baru akan mengambil air putih tampak heran dengan sikap Hyera, tentu saja. Hyera bersikap seperti itu seperti orang gila saja. Berceloteh sendirian dan tampak berantakan. “kalau kau mau mandi, mandi saja pakai air hangat. Ku lihat kau tampak pucat hari ini. benar kata Luhan hyung, kau harus istirahat dulu. Atau mungkin lebih baik kau tidak usah mandi dulu, Hyera-ya.”

Hyera menghentikan ucapan-panjang-tanpa-titiknya sambil menatap Lay, “aku ini sehat! Aku mau masuk sekolah! Belum genap masuk selama seminggu aku sudah absen saja! Dulu aku tidak pernah absen ke sekolah. Aish!”

Lay tampak kaget dengan ucapan panjang Hyera, kemudian menatap Hyera tajam. Hyera yang di tatap seperti itu kemudian berhenti berbicara, ia seperti patung, membeku begitu saja dengan tatapan yang sulit di artikan menuju ke arah Lay. Hyera yang saat itu membelakangi pintu kamar mandi segera mundur satu langkah, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cepat.

“mungkin benar kata Luhan oppa, Lay benar-benar galak.”

 

-TBC-

19 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 9

  1. Indri berkata:

    Akhirnya ff nya muncul juga. Jadi penasaran nih thor, tu L beneran pa nggk? Apa itu cuma untuk menjebak para ksatria? Apa L juga suka sama Hyera? #kepo. Next thor, good job

  2. Maya dhiafakhri berkata:

    Hahaha😀 ngakak. Authornya bisa aja bikin aku ketawa sendirian. Err, padahal udah berharap L itu tobat dan mau ikut sama ke 13 ksatria. Tapi, authornya tidak menginginkan itu semua terjadi :p Itu si Kai jahat amat sama D.O pacar aku. Berani-berani-nya dia bikin pacar aku pingsan. Ckk, baekhyun juga gak ada. Kan aku kangen.

    • hahaha. kok bisa ketawa sih. bagian mana yang lucu coba:/ iya tuh si kai jahatin pacar kamu, coba kasih peringatan tuh si kai, biar baikin pacar kamu lagi :p

      makasih ya udah baca + sempetin komentar ^^

  3. mira(@miraee27) berkata:

    thorrrr aku udh baca dari awal ampe yang ini ffnha seru thor lanjutin feelnya dapet terus alurnya jugaa keren deh

  4. yeojayuknow berkata:

    Berasa udah setaun nunggu ini ff

    dari 2013 ke 2014 emg setaon ya? hahahaha
    ini masih bingung … kapan jalan lagi?
    kapan perangnya niiihhh??? kepo bingit nihhh

  5. ulfardiya berkata:

    Akhirnya di posting juga ni FF… Jangan hiatus lagi ya thor…aku penasaran setengah mati gara2 FF nya lama yg mau di posting

  6. Nandio berkata:

    haduuu…..aq sampe’ lupa nungguin chapter ini
    hbis buka page ini lgsg comment, blom smpt baca…
    lanjut minnn…. DAEBAK *four thumb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s