FF EXO : BLACK PEARL Chapter 10

bp 4

Title : Black Pearl

Author : Printa FS a.k.a Printa Park

Genre : fantasy, friendship, a little bit romance?

©Printa Park’s Fanfiction 2014

“ya! Hyera-ya!” Lay yang baru akan mengambil air putih tampak heran dengan sikap Hyera, tentu saja. Hyera bersikap seperti itu seperti orang gila saja. Berceloteh sendirian dan tampak berantakan. “kalau kau mau mandi, mandi saja pakai air hangat. Ku lihat kau tampak pucat hari ini. benar kata Luhan hyung, kau harus istirahat dulu. Atau mungkin lebih baik kau tidak usah mandi dulu, Hyera-ya.”

Hyera menghentikan ucapan-panjang-tanpa-titiknya sambil menatap Lay, “aku ini sehat! Aku mau masuk sekolah! Belum genap masuk selama seminggu aku sudah absen saja! Dulu aku tidak pernah absen ke sekolah. Aish!”

Lay tampak kaget dengan ucapan panjang Hyera, kemudian menatap Hyera tajam. Hyera yang di tatap seperti itu kemudian berhenti berbicara, ia seperti patung, membeku begitu saja dengan tatapan yang sulit di artikan menuju ke arah Lay. Hyera yang saat itu membelakangi pintu kamar mandi segera mundur satu langkah, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan cepat.

“mungkin benar kata Luhan oppa, Lay benar-benar galak.”

***

Hari ini, si pelupa Kris, atau siapapun kita menyebutnya, sedang berada di sekolahan dengan tergesa-gesa. Ia baru ingat mempunyai jadwal kuliah pada jam 9. Sementara sekarang, Kris berlarian pada jam 08.58. Itu artinya, kurang 2 menit lagi ia diperbolehkan mengumpulkan tugasnya.

Ia harus mengumpulkannya. Ia menerima konsekuensi apapun, yang penting tugasnya harus terkumpul dan ia bisa mendapat nilai. Ia tidak mau waktunya terbuang sia-sia hanya karena tugas yang tidak boleh dikumpulkan.

Akhirnya, Pria dengan tinggi menjulang itu sampai di kantor dosen. Ia melongokkan kepalanya di pintu utama. Ia menemukan meja dosen yang memberinya tugas itu masih duduk santai sambil menyiapkan bahan mengajarnya nanti. Kris akhirnya masuk, dan membungkuk pada dosen yang terlihat sudah berumur 40-an itu.

Ia meletakkan tugasnya di meja, di hadapan dosen dengan name tag ‘Park Heun So’. Lelaki tua tersebut menurunkan kacamatanya, di atas tulang hidungnya. Menatap Kris yang masih berdiri dihadapannya dengan nafas tidak beraturan.

Ia kemudian melirik jam dinding dibelakang Kris. Tepat jam 9. Itu artinya, tugas Kris tepat waktu. Kerja bagus.

Namun, tatapan Park Heunso pada Kris berbeda. Ada hawa aneh pada tatapan tersebut. Kris merasakan hawa mengerikan disekitarnya. Ia juga merasakan bulu kuduknya merinding. Membuat Kris menggosok leher belakangnya, gugup.

Tentu saja ia gugup, Park Heunso terus saja menatapnya tanpa berbicara apapun. Apa Kris harus berbicara terlebih dahulu? Berbicapa apa? Tentang pengumpulan tugas? Ia selalu mengumpulkan tugas tanpa berbicara apapun pada dosen galak itu. Ataukah ia harus mendiamkannya seperti ini terus? Mana yang lebih sopan? Berbicara lebih dulu atau berdiam diri dihadapan dosen?

“i-ini tugasku, Pak.” Kata Kris, akhirnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, “aku mengumpulkannya tepat waktu.”

Park Heunso kembali mengemasi buku-bukunya ke dalam tas mengajarnya. Ia mendiamkan Kris begitu saja. Park Heunso mulai berdiri dan menatap Kris. Beliau mengambil secangkir tehnya dan menyesapnya sedikit. Kemudian meletakkannya lagi sehingga berbunyi ting.

“aku menyuruh mengumpulkan tugas pada hari ini jam 9.” Park Heunso berbicara dengan nada sedingin es, “kau mengumpulkannya tepat pada jam 9, Kris Wu. Aku sedang tidak ada mood hari ini. kau seharusnya mengumpulkan sebelum jam 9.”

“tapi, Pak….”

“tugas ini saya terima.”

YES ! Kris bersorak riang dalam hati.

“tapi kau harus membersihkan koridor pertama sampai bersih.” Lanjut Park Heunso dengan sinis. Kemudian berlalu meninggalkan Kris yang masih mematung, “oh, dan jangan lupa menemuiku lagi setelah tugasmu selesai.”

Kris yang tadinya bersorak dalam hati, kini merutuk sebal. Dosen tua itu tidak ada baiknya sama sekali terhadap dirinya. Padahal, Kris tidak pernah berbuat salah kepada dosen itu. Kenapa ia terus disiksa seperti ini, sih? Kris sebal sendiri memikirkannya.

Kemudian, Kris berjalan keluar kantor, dan menyusuri koridor menuju ke koridor utama. Tentu saja menjalankan tugas dari Park Heunso. Tidak mungkin ia lari dari tugasnya. Bisa-bisa tugas yang kemarin ia kerjakan tidak dinilai oleh Park Heunso. Kris tidak mau menjadi mahasiswa yang badung.

Pria tinggi itu berjalan menuju ruang kebersihan. Disana, ada petugas yang tengah menata sapu-sapu dan pel di pojok ruangan. Kris meminta petugas tersebut memberikan sapu dan pel, juga ember yang sudah di isi air.

“bisakah kau membantuku? Koridor pertama tidaklah pendek. Lagipula aku tidak mau menghabiskan waktuku disini untuk membersihkan koridor utama saja.” Kata Kris sambil bersandar di pintu yang terbuka.

“tentu saja bisa.”

**

D.O atau kita panggil saja Kyungsoo, sedang duduk manis sambil memperhatikan pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru didepannya. Ia sebenarnya merasa risih karena terus diperhatikan sinis oleh Jongin dan juga Chen. Ia melirik jam dinding di atas papan tulis didepan sana. Ia menelan ludahnya perlahan, jam pelajaran akan berakhir sebentar lagi.

TING! TING! TING!

Bel berbunyi, tanda pelajaran hari ini telah usai. Kyungsoo dengan cepat memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Ia takut akan dihajar Chen dan Jongin lagi seperti waktu di kafe waktu itu. Jadi, kali ini ia harus kabur.

Ia menatap ke arah kiri, tepatnya ke arah Jongin dan Chen, mereka masih sibuk menyalin catatan sepertinya. Ia secepat kilat berlari menuju ke arah pintu keluar dan berlari secepat mungkin. Sebenarnya ia tidak tau mau berlari kemana lagi, akhirnya kaki kecilnya berlari membawanya menuju ke kafe tempatnya bekerja.

Yang ia lihat hanyalah beberapa pengunjung dan Chanyeol yang terduduk sambil terantuk-antuk. Perasaan Kyungsoo kemarin, mereka tidak bekerja sampai larut malam. Kenapa Chanyeol terlihat mengantuk seperti itu?

Karena tidak ingin berdiri di pintu kafe terlalu lama, Kyungsoo akhirnya mendekati meja kasir dan menatap Chanyeol yang sudah tertidur beralaskan tangannya sendiri. Kyungsoo mendecak. Ia berpikir, bagaimana kalau bos mereka mengetahui anak buahnya tertidur saat bekerja seperti ini? apakah bos akan marah dan langsung memecat Chanyeol?

“hei, jangan tidur!” Chanyeol tersentak kaget ketika kepalanya di pukul oleh sebuah serbet.

Chanyeol menatap sekitarnya, tidak ada siapapun kecuali pengunjung yang sedang menikmati hidangan mereka sambil berbincang dengan temannya. Chanyeol merasa merinding sendiri, tapi, rasa kantuknya membuatnya tidak berpikir panjang. Ia kembali menidurkan kepalanya. Matanya kembali terpejam.

“Park Chanyeol!”

Kali ini, Chanyeol benar-benar kesal. Ia kembali mengangkat kepalanya malas. Menatap sekeliling. Chanyeol sekarang tau kalau suara menyebalkan itu berasal dari Kyungsoo.

Chanyeol menjengking melihat ke bawah meja dihadapannya. Di sana telah berjongkok seseorang dengan tinggi badan yang tidak bisa dibilang menjulang. Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo, teman-pendek-nya Chanyeol.

Kyungsoo berdiri dengan cengiran aneh di wajahnya. Chanyeol mendecak sebal, kemudian memutar bola matanya malas. Ia menatap wajah Kyungsoo datar.

“cepat ganti pakaianmu, Do Kyungsoo.” katanya dengan menguap. Sepertinya Chanyeol sangat mengantuk. Kantung matanya bahkan terlihat jelas dibawah matanya.

“oh, awas! Ada pelanggan. Kau menutupi meja kasir. Cepat pergi.” Usir Chanyeol sambil mendorong tubuh kerdil itu menyingkir dari hadapannya.

Wajahnya yang sebelumnya datar, berubah menjadi senyuman. Ia menyambut pelanggan dengan ramah, seperti pegawai kafe yang lainnya.

“oh? Park Chanyeol?!” seorang gadis berponi menyapanya dengan hangat. Chanyeol yang tadinya tengah menyiapkan buku untuk mencatat menu, beralih menatap gadis yang tadi memanggilnya. Ia kenal betul siapa gadis tersebut, “kau bekerja disini, Chanyeol-a?”

“Shin Hyera! Kau kemana saja sih? Aku mencarimu di rumahmu itu. Tapi ibu-ibu di samping rumahmu bilang, kau sudah pindah. Kau pindah kemana? Tega sekali tidak menghubungiku.”

Hyera mendecak, ia mengambil menu yang ada di tangan Sehun. Tampaknya yang lain sudah memesan, hanya dia dan Sehun saja yang belum memesan.

“aku bubble tea!”

Keduanya memesan minuman yang sama. Itu adalah minuman favorit Sehun, dan sepertinya Hyera juga menyukai minuman itu. Sehun memandang Hyera datar, sementara Hyera melirik Sehun sinis. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar. Mereka itu aneh, kadang baikan, kadang marahan. Pribadi yang labil.

“ya! Do Kyungsoo! kau lama sekali berganti baju, huh?!” Chanyeol berteriak memanggil teman pendeknya. Chanyeol sepertinya berniat untuk ikut nimbrung bersama rombongan Hyera. Tidak, lebih tepatnya ingin bertemu Hyera saja.

“aih, cerewet sekali kau. Sudah sana, tidur dibelakang! Seenaknya saja memanggilku sekencang itu. Kau pikir aku ini tuli, huh?!” Kyungsoo datang dengan wajah kesal, ia masih sibuk menali sepatunya tadi. Sekarang saja, Kyungsoo datang sambil lompat satu kaki. Karena sepatu di kaki satunya belum tertali dengan benar.

Kyungsoo berdiri tegap setelah pekerjaan menali-sepatu-nya sudah selesai. Ia berdiri disamping Chanyeol, menghadap ke arah pelanggan dengan senyuman. Namun, mata Kyungsoo membulat ketika melihat salah satu di antara mereka, Sehun.

“Oh Sehun? A-annyeong haseyo.” Kyungsoo membungkuk, menyapa Sehun dengan formal. “maafkan aku tentang kejadian waktu itu.”

“hm,” Sehun menjawab dengan nada malas. Sehun tampaknya sedang tidak ada dalam mood yang baik kali ini, “ayo cepat duduk. Aku lelah berdiri terus.”

Sehun berjalan meninggalkan yang lain. Ia duduk lebih dulu di meja dekat jendela, dengan enam kursi di samping meja persegi tersebut. Kemudian, Luhan, Lay dan Baekhyun menyusul Sehun. Hyera masih berdiri di tempatnya. Ia nampaknya mengajak Chanyeol bergabung untuk makan siang bersama.

Chanyeol mengangguk, kemudian menyerahkan buku catatan menunya kepada Kyungsoo. ia segera berjalan pergi dari meja kasir, menghampiri Hyera yang berdiri didepan meja kasir. Mereka berduapun berlalu menuju ke tempat duduk yang tersisa. Sebenarnya hanya tersisa satu, namun Chanyeol mengambil kursi satu lagi di meja lainnya.

“kenalkan, ini Park Chanyeol, temanku waktu SMP.” Hyera mengenalkan Chanyeol pada Luhan, Sehun, Lay, dan Baekhyun.

“annyeong haseyo, Park Chanyeol imnida.” Chanyeol berdiri dan membungkuk pada teman-teman Hyera.

“namaku Luhan.”

“hai, namaku Byun Baekhyun. Kau bisa memanggilku Baekhyun.”

“annyeong haseyo, namaku Lay.”

“aku Sehun.”

Sehun memperkenalkan diri dengan singkat dan dingin. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Sampai-sampai Sehun badmood parah seperti itu. Hyera melirik Sehun sinis. Kemudian menatap Chanyeol lagi. Senyumnya mengembang ketika melihat wajah Chanyeol.

Sebenarnya, Chanyeol dulu adalah lelaki yang disukai oleh Hyera. Mereka teman satu sekolah, Chanyeol adalah pemain basket yang hebat, dulunya. Hyera tidak habis pikir, kenapa lelaki yang dulu menjadi pujaan setiap siswi di sekolahnya menjadi pelayan kafe? Kenapa tidak melanjutkan sekolah seperti dirinya? Seharusnya Chanyeol sekarang masih menjadi Chanyeol yang diidam-idamkan seluruh perempuan di sekolah.

“kenapa memandangiku seperti itu, huh?”

Hyera tersadar. Ia mengedipkan matanya, kemudian menggaruk tengkuknya gugup. Ia hanya tersenyum malu.

“hei, bukankah dia salah satu ksatria?” Lay yang baru teringat kemudian berbisik pada Luhan, “iyakan, hyung?”

Luhan mengangguk. Luhan menatap Chanyeol, mencari tanda bahwa Chanyeol adalah salah satu ksatria yang ciri-cirinya terlihat jelas di tubuhnya, seperti kalung, ataupun gelang. Sesuatu yang mencolok tentang planetnya.

“Chanyeol-a, aku tidak ingat kau punya tanda lahir di belakang telingamu.” Hyera menatap tanda lahir hitam di belakang telinga kanan Chanyeol. Hyera sempat melihat Chanyeol memutar kepalanya ke kiri, menatap ke arah meja kasir yang ia punggungi. Sepertinya Chanyeol melihat ke arah pegawai kafe yang masih sibuk bekerja.

“oh? Ini sudah lama, tau. Kau saja yang tidak pernah melihatku secara dekat.” Ujar Chanyeol meraba telinga kanannya, “bentuknya unik sekali. Aku suka melihatnya ketika sedang berkaca. Yah, walaupun harus menekuk telingaku, tapi aku suka hal itu. Tidak seperti tanda lahir pada kebanyakan.”

Hyera mengangguk, “menghadaplah ke kiri, Chanyeol-a, aku ingin melihat secara jelas.” Hyera memutar kepala Chanyeol ke kiri.

Mata Hyera membulat ketika melihat tanda lahir Chanyeol itu. Bentuknya adalah bulatan sempurna, berwarna seperti tanda lahir pada umumnya. Hyera langsung teringat pada mutiara hitam, atau Black Pearl. Hyera menatap Chanyeol lagi.

“k-kau punya tanda lahir selain itu?”

“kau belum pernah melihatnya? Aku mempunyai tanda lahir di tangan kiriku. Lihatlah.”

Chanyeol membuka baju seragam kerjanya yang panjang sampai ke pergelangan tangan, ia menyingsingkannya sampai ke sikutnya. Nampak tangan putih nan kekar milik Chanyeol. Hyera kembali terbelalak, kini teman-temannya yang lain ikut terbelalak.

“i-ini tanda….. tanda EXO Planet.” Baekhyun menarik tangan kiri Chanyeol, kemudian memperhatikan tanda itu secara seksama. Kemudian menatap wajah Chanyeol dengan tak percaya, “kau salah satu ksatria.”

“m-mwo? Ksatria? Ksatria apa? Apa kita masih hidup di jaman peperangan?”

“ya, kau bahkan yang akan turun berperang.” Luhan mengatakan hal tersebut tanpa beban. Namun, Chanyeol merasa ucapan Luhan barusan adalah beban yang tiba-tiba menjatuhi tengkuknya.

“pesanan datang.”

Kyungsoo datang dengan senyuman diwajahnya, ia meletakkan pesanan Hyera dan teman-temannya dengan hati-hati. Chanyeol ikut membantu, karena sepertinya teman-pendeknya terlihat kesusahan.

“selamat menikmati.”

“dia bahkan ksatria juga.” Luhan kembali berucap. Kyungsoo yang tidak merasa di bicarakan hanya melenggang pergi, kembali ke meja kasir.

Chanyeol menatap Kyungsoo dengan cengoh. Teman-pendek-nya itu juga ksatria? Apa? Apa yang terjadi? Kenapa semuanya terasa aneh? Chanyeol merutuk dalam pikirannya.

“jangan terlalu dipikirkan, Park Chanyeol. Kau akan tau sendiri nantinya.”

“a-ah, aku…. Aku baru ingat! Kau yang waktu itu melayangkan benda-benda di kafe ini, kan?!”

Chanyeol terlihat panic. Ia hampir saja terjungkal kebelakang kalau saja Hyera tidak menahan lengan Chanyeol. Pandangan Chanyeol masih panic menatap Luhan. Sementara yang ditatap sudah asyik sendiri dengan minumannya.

Chanyeol menelan ludahnya takut. Ia takut dilayangkan oleh Luhan. Pikiran yang kekanakan sekali, sebenarnya. Namun, Chanyeol benar-benar terlihat takut.

Tring~ tring~

Suara lonceng pintu utama berbunyi. Itu artinya ada pelanggan masuk. Namun, kali ini lonceng tersebut berbunyi dengan tambahan suara gebrakan pintu. Itu artinya, ‘pelanggan’ tersebut membuka pintu dengan kencang.

Chanyeol dan yang lainnya menoleh ke arah pintu masuk kafe. Mereka yang mendobrak pintu tersebut adalah Jongin dan Chen. Mereka terlihat angkuh sekali.

Masuk dan langsung berjalan menuju meja kasir. Chanyeol kali ini tidak tinggal diam. Ia tidak ingin Kyungsoo kembali babak belur dan tidak membantunya bekerja seharian. Tentu saja melelahkan!

“mau apa kalian, ha?”

Chanyeol menghadang Jongin dan Chen. Mereka berhenti tepat di tengah-tengah pada pengunjung kafe. Tentu saja hal itu juga menjadi tontonan para pengunjung kafe.

“ingin membalas dendamku,” Jongin melirik Kyungsoo yang sedang berdiri di belakang meja kasir dengan wajah ketakutan, “pada Do Kyungsoo.”

“ada masalah apa ini, Kim Jongin?”

Seorang perempuan menepuk pundak Jongin. Jongin kemudian berbalik dan menatap gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Shin Hyera. Perempuan yang diperebutkan oleh Sehun dan Jongin. Atau lebih tepatnya saat ini adalah, perempuan yang di sukai Jongin.

Hyera menatap tajam mata Jongin. Mencari berbagai kata yang akan dirangkai Jongin untuk alasan menjawab pertanyaannya. Tapi, Jongin hanya diam, membalas tatapan Hyera yang menuntut penjelasan.

“apa kau tuli?”

“aku tadi sudah mengatakannya pada pelayan tower itu, kalau aku datang kemari untuk membalaskan dendamku.” Jongin berbalik lagi, menatap Kyungsoo, “dendamku kepadamu masih bertumpuk, Do Kyungsoo. Seperti sebuah kamus.”

Hyera menahan lengan Jongin, ketika Jongin hendak berjalan menuju tempat Kyungsoo. Namun, Jongin menghentakkan tangannya, membuat Hyera hampir hilang keseimbangan jika tidak berpegangan pada tangan seseorang. Seseorang itu asing dimata Hyera. Wajahnya terlihat sangar, dibelakangnya ada dua lelaki lagi, sepertinya dua lelaki itu adalah teman dari seseorang yang ia pegang tangannya ini. Hyera dengan cepat melepas pegangannya, kemudian membungkuk kepada seseorang tersebut.

“ada apa ini? kenapa ribut sekali? Mengganggu kenyamanan pengunjung kafe, tau?!” lelaki berwajah sangar itu menatap Jongin.

“jangan berkelahi lagi, Tao.” Lelaki dibelakang Tao –lelaki berwajah sangar—memperingatkan dengan sebuah bisikan, “kau tidak boleh membuat Kris kerepotan lagi.”

“tenang saja. Kalau dia tidak mulai duluan, aku tidak akan memulainya.”

Jongin berbalik lagi, kali ini menghadap Tao yang sama sekali tidak mengenalinya. Bahkan Jongin yakin, Hyera sendiri tidak mengenal Tao. Terlihat dari tatapan Hyera pada Tao yang terlihat kebingungan.

“jangan ikut campur urusanku!” Jongin menggertak tepat dihadapan Tao.

“aku tidak mencampuri urusanmu, Tuan. Tapi, aku merasa aku harus menghentikan semua ini. kau tidak merasa malu? Kau sudah mengganggu orang lain.” Tao melirik sekitarnya, bermaksud ingin menunjukkan kepada Jongin kalau ucapan Tao memang benar adanya.

Chen kali ini bertindak, “kau bahkan tidak mengenal kami, kan? Tidak usah berlagak sok pahlawan, deh!”

“ya! Dia sudah baik-baik memberitahumu, dia sudah menahan amarahnya ingin memukulmu. Kalian ini kurang ajar sekali rupanya.” Kini gentian Luhan yang menampakkan wujudnya. Jongin dan Chen memang sebelumnya pernah melihat Luhan, mereka juga melihat kekuatan Luhan. Begitu juga dengan Chanyeol dan Kyungsoo.

“k-k-kau? Kau yang melayangkan benda-benda itu? Kau hantu?” Jongin menunjuk Luhan tepat di dahi Luhan, kemudian pandangan Jongin beralih ke kaki Luhan. Ingin membuktikan apakah kaki Luhan menapak tanah atau tidak, “sial, kenapa aku selalu bertemu denganmu ketika aku ingin menghajar bocah sialan itu, sih?!”

“jaga bicaramu! Dia bahkan terlihat anak baik-baik. Kurasa kau lah yang patut dihajar!” Baekhyun memberanikan diri melawan ucapan Jongin.

“hah! sesulit inikah mengumpulkan semua ksatria? Kenapa harus ada yang berkelahi seperti ini, sih?” Luhan menghembuskan nafasnya kasar.

Ucapan Luhan barusan membuat Hyera menatap Luhan penuh tuntutan. Tentu saja ingin mengetahui apa arti ucapan Luhan barusan. Jangan salahkan Hyera yang lemot, Hyera ini anak yang cerdas. Tapi, salahkan Luhan yang berbicara berbelit-belit seperti ular sedang tertidur.

“maksudmu….. dia salah satu ksatria juga?” Sehun angkat bicara kali ini. tangannya menunjuk ke Jongin, tapi pandangannya mengarah pada Luhan. “oh tidak.”

“huh? Kalian ini membicarakan apa, sih? Bicaralah yang masuk akal! Ini bahkan tidak bisa di masukkan logika sama sekali!” Chen mendecak sebal.

“kita menghabiskan banyak waktu disini. Lebih baik kita pulang saja.” Jongin mengajak Chen pulang. Namun, tangan Luhan menghadang jalan Jongn.

“jangan pulang dulu. Aku akan menjelaskan sesuatu. Kau mau pesan apa?”

**

Jongin menganga tidak percaya. Begitu juga dengan Chen. Kalian bahkan tidak menyangka jika dua meja yang tadinya hanya untuk berenam, kini ditambah dua lagi untuk tambahan lima orang bergabung. Jongin, Chen, Tao, Xiumin, dan Suho bergabung. Luhan bilang, mereka adalah para ksatria.

“sebenarnya kurang satu. Si naga kita.”

“na-naga? Oh!” Suho berseru ketika kepalanya kembali dilanda pusing. Ia memegangi kepalanya erat.

Tapi, kali ini Hyera tidak merasakan sakit seperti yang biasa ia rasakan. Luhan bilang, ia akan merasakan sakit jika para ksatria juga kesakitan. Tapi nyatanya, ia tidak kesakitan ketika Suho kesakitan. Apakah artinya Suho bukan ksatria?

“dia adalah ksatria, Hyera.” Luhan menjawab semua pertanyaan di benak Hyera. Hyera lupa jika Luhan bisa membaca pikiran, “sepertinya sesuatu sedang menyerang pikirannya. Apa dia pernah mengeluh seperti ini sebelumnya?” Luhan bertanya pada Tao dan Xiumin.

“hm, baru saja kemarin dia seperti ini. dia bilang, dia baru saja mendapat sebuah ingatan.” Ucap Xiumin tegas, ia memegangi pundak Suho.

“oh iya, rumah yang kami tempati, terutama di kamarku, ada sebuah ruangan rahasia.” Kata Tao, “ruangan rahasia itu ada di balik tembok kamar yang aku tempati. Kupikir, aku merobohkan temboknya karena saat itu aku sedang memasang paku. Tiba-tiba tembok itu hancur dan runtuh. Memperlihatkan sebuah ruangan yang besar.”

Luhan memperhatikan dengan seksama, juga yang lain. Tapi, Sehun dan Jongin tampak tak perduli. Mereka hanya minum minuman mereka, dan makan makanan mereka.

“lalu?”

“ada foto kita di sana!”

Ucapan Tao barusan membuat Luhan batuk-batuk karena tersedak. Luhan sekarang tengah susah payah memukuli dadanya karena tersedak tadi. Ia kemudian menatap Tao, “yang benar?”

“hm! Aku pikir mungkin itu peninggalan dari jaman dahulu. Kris hyung saja tidak tau ada ruangan seperti itu di rumahnya. Itu semua karena aku, hahahaha.” Tao tertawa karena senang dan bangga, mungkin.

Sementara yang lain hanya menatap Tao aneh. Tidak ada yang lucu, perasaan. Semuanya mengabaikan Tao dan serempak mata mereka beralih pada pintu masuk kafe yang terbuka.

Sosok yang membuka pintu tersebut berperawakan tinggi dan kurus. Rambutnya sedikit pirang, cocok dengan wajahnya yang agak kebule-bulean. Lelaki tinggi tersebut berjalan menuju meja kasir.

Para ksatria sudah tidak memperhatikan lelaki tinggi tersebut, kini hanya Hyera lah yang menatap lelaki tersebut. Matanya memicing ketika lelaki tinggi tersebut duduk di tempat duduk didekatnya. Ia berpikir, sepertinya ia pernah melihatnya sebelumnya.

“kenapa menatapnya terus? Kau suka dengannya?” Sehun bertanya pada Hyera dengan pandangan sinis. Entahlah, itu pandangan yang memang ‘sinis’ atau pandangan cemburu. Sulit ditebak.

“a-anni. Aku tidak menyukainya. Aku merasa seperti aku pernah melihatnya.” Kata Hyera, kembali memicingkan matanya. Ia tidak memperhatikan lelaki itu lagi sekarang, “aku seperti pernah bertemu dengannya. Tapi, aku lupa.”

“dasar pelupa. Dia kan anak kanada itu.” Ujar Lay tanpa dosa, “bukankah dia yang mengantarkanmu pulang itu?”

“bukan anak kanada, Lay. Ayahnya yang orang kanada. Dia kan punya kalung Black Pearl.” Luhan menjelaskan dengan sabar.

Hyera melirik Luhan aneh. Hyera merasa, Luhan sedang menjaga imej didepan para ksatria yang lain. Biasanya, Luhan terlihat kepo dan banyak omong. Yang Hyera lihat sekarang, Luhan hanya diam dan berbicara ketika penting saja.

“kau tidak usah sok jaim seperti itu, alien.” Hyera memutar bola matanya malas.

Luhan hanya mendecak mendengar ucapan Hyera, “aku tidak sok jaim.”

“jadi, siapa dia? Apa kita harus mengajaknya bergabung kemari?” Tanya Sehun sambil melirik anak-kanada itu di meja sebelahnya.

“dia juga ksatria, aku bilang. Kenapa tidak ada yang percaya sih? Apa aku perlu menerbangkan kalung yang ia pakai, huh?”

“kau konyol, hyung.” Kata Xiumin sambil mengibas tangannya pada Luhan, “lucu sekali. Menerbangkan kalung? Hahaha.”

Luhan menatap Xiumin sebal. Ia merasa di rendahkan begitu saja oleh ksatria yang bahkan baru saja ia kenal. Tentu saja Luhan sebal. Ia menunjuk kearah gelas di depan Xiumin.

Pandangan Xiumin terarah pada gelas tersebut, semuanya terdiam. Hening. Menatap ke arah gelas yang mulai melayang dari tempatnya. Dan tentu saja itu karena Luhan. Hyera sudah tidak heran. Ia pernah melihat Luhan menerbangkan kunci rumahnya waktu pertama bertemu.

Chanyeol, lelaki tinggi tersebut yang sebelumnya pernah melihat Luhan menerbangkan benda ketika Jongin memukul Kyungsoo kemarin, masih saja terlihat syok melihat pemandangan didepannya. Padahal, Luhan tidak menerbangkan gelas itu didepan matanya. Tapi, mata Chanyeol melebar sempurna seperti bulan purnama.

Luhan meletakkan gelas tersebut perlahan, tanpa menumpahkan isi di gelas tersebut sedikit pun. Sementara Xiumin dan yang lain tampak tidak bisa berkedip, kecuali Hyera tentunya.

Luhan menatap Xiumin dengan pandangan angkuhnya. Ia merasa bangga bisa membuat ekspresi wajah Xiumin terlihat bingung seperti itu.

“kau akan bilang aku konyol lagi?”

“kau konyol.” Xiumin berkata sambil menggelengkan kepalanya perlahan, tapi tak lama kemudian, ia bertepuk tangan pelan, “kau hebat!”

“dia kan Kris hyung!”

Teriakan kecil Suho membuat semua yang ada di meja bersamanya menoleh, Kris yang merasa terpanggil juga menoleh ke arah Suho. Matanya membulat tak percaya. Niatannya ke kafe ini adalah untuk menjauhi ketiga anak yang selalu merusuhinya jika berada didekatnya. Kenapa sekarang malah bertemu dengannya disini?

“k-kau? Kenapa kau duduk disini bersama orang-orang ini? kau kembali membuat masalah? Kau membuat masalah lagi, huh?” ucapan Kris dikalimat terakhir terlihat seperti berbisik, suaranya sangat pelan.

“tidak. Dia tidak membuat masalah. Bergabunglah kemari.” Ucap Chanyeol mempersilahkan Kris duduk dibangkunya, ia mengambil kursi lagi dari meja lain.

“nah! Akhirnya kita lengkap!”

Luhan bersorak senang. Ia menatap yang lainnya dengan tatapan gembira. Namun, tatapan gembiranya seolah terhapus begitu saja ketika menatap Sehun dan Jongin yang sama sekali tidak menggubris ucapannya. Tidak seperti yang lainnya, mereka semua tampak tersenyum melihat Luhan bersorak seperti itu.

“ya! Kim Jongin! Oh Sehun! Kalian ini kenapa terlihat tidak senang begitu? Kita adalah tim!”

“Luhan hyung~” ucapan Sehun terdengar seperti merengek, membuat Hyera bergidik geli mendengarnya, “aku tidak mau berada di tim yang sama dengan dia! Aku yakin, kita akan kalah jika perang demon nanti!”

“kau tidak boleh seperti itu, Oh Sehun! Kau tau? Siapa tau kan dia bisa membantumu saat kau kesulitan di perang nanti!” Hyera memperingatkan sambil memukul telapak tangan Sehun yang ada di atas meja.

“hei, hei, hei. Kalian ini sedang membicarakan apa? Perang? Apa yang kalian maksud?” Kris yang baru saja bergabung jelas saja sedikit bingung.

Luhan memutar bola matanya malas. Ia ingat sekali, Hyera pernah membawa Kris kerumah, dengan alasan mengantar Hyera yang sakit. Luhan juga ingat ia menjelaskan semuanya pada Kris dengan sabar. Apa Kris lupa dengan semua itu?

“kau bukannya perempuan yang suratnya nyangkut di pohon itu?”

Kris menunjuk Hyera dengan pandangan seperti mengingat sesuatu. Sementara Sehun terlihat geleng-geleng di samping Hyera.

“kenapa dengan kepalamu, huh?!” Hyera terlihat tersinggung melihat Sehun geleng-geleng seperti itu.

“memalukan sekali, bisa-bisanya suratmu tersangkut di pohon,” kata Sehun sambil menatap Hyera dingin, “dan, Oh! Biar ku tebak. Pasti kau tidak bisa mengambil surat yang tersangkut itu dan manusia tinggi ini mengambilkannya untukmu? Atau kau menyuruhnya untuk mengambilkannya untukmu?” Sehun berkata dengan mata dipicingkan.

“dia mengambilkannya untukku!”

“makanya, jadi perempuan jangan pendek!”

“aku tidak pendek! Dia saja yang terlalu tinggi!”

“kau pendek. Buktinya, kau dengan Baekhyun hyung saja masih tinggian Baekhyun hyung.”

“ih aku bilang aku ini tidak pendek!”

Hyera memukul tangan Sehun lagi yang ada di atas meja. Kali ini, pukulannya lebih keras daripada yang sebelumnya. Sehun terlihat mengaduh kesakitan.

“kalau mau pegang tangan orang itu yang lembut sedikit dong! Aku tau, kau pasti modus ingin memegang tanganku, kan?”

“tidak! Kau ini GR sekali. Mana mau aku memegang tanganmu. Lebih baik aku memegang tangan alien!”

“oh, jadi begitu? Baiklah. Tidak usah memegang tanganku lagi!” Sehun menarik tangannya, kemudian menyembunyikan dibalik tubuhnya. Tatapannya sinis menuju ke Hyera.

“ish, kau menyebalkan sekali.”

Kris menatap kedua bocah yang masih bersitegang didepannya ini dengan malas, kemudian pandangannya beralih pada Luhan, “sebenarnya ada apa ini? perang? Aku seperti pernah mendengar kata-kata itu.”

“kau ini pelupa sekali, hyung.” Suho mendecih perlahan, “Luhan bilang, kita adalah ksatria untuk perang demon nanti. Dan….. gadis itu adalah ketua perang demon nanti.”

“kapan?”

“tepat ketika gerhana bulan tahun ini.” jawab Lay enteng. Entalah, apakah ia pernah diberi tau oleh Luhan sebelumnya, ataukah Lay memang sudah tau perang akan terjadi pada hari itu.

“kapan?”

“eish, cari tau sendiri, dong!” Xiumin menggeleng sambil menjitak kepala Kris, ia harus sedikit menegakkan tubuhnya. Yah, tinggi mereka terlihat kentara sekali.

“eum….” Baekhyun yang sedari tadi focus ke ponselnya mulai bergumam sambil menatap manusia-manusia aneh didepannya, “ini tanggal berapa?”

“kalo tidak salah tanggal 3 April.” Ujar Chanyeol sembari melirik kalender yang menggantung di sudut dinding café. Ia kembali menatap Baekhyun yang tadi bertanya tentang tanggal.

“berarti 20 hari lagi.”

“apanya?”

Ingin rasanya Luhan menjitak kepala manusia tinggi didepannya ini, atau mendepaknya ke luar angkasa, mungkin? Tapi, untung saja Luhan masih bisa bersabar. Tangannya sudah mengepal, tanda ia kesal dengan kelemotan ksatria tertinggi ini.

“perang demonnya duapuluh hari lagi, karena ini tanggal tiga. Gerhana matahari tiba pada 23 April, sedangkan ini masih tanggal 3. Kau paham?” Baekhyun menjelaskan sambil menatap Kris malas. Ia sebenarnya juga malas menjelaskan hal semacam ini, karena memang bukan dia yang pintar dalam hal ini. tapi melihat Luhan mengepalkan tangannya seperti tadi, ia mengurungkan niat untuk membiarkan Luhan menceritakan semua.

Ia tidak ingin café ini hancur karena kesabaran Luhan habis. ia tidak ingin Chanyeol dan Kyungsoo kehilangan pekerjaan mereka.

“baiklah, kapan kita latihan?” Hyera bertanya paling semangat.

Melihat Hyera tersenyum dan terlihat semangat, yang lain ikut tersenyum. Termasuk Jongin dan Sehun. Walaupun daritadi mereka diam dan terlihat cuek, tapi melihat orang yang mereka sayang tersenyum seperti itu, bukankah suatu kebahagiaan tersendiri?

“bisakah kita memulainya besok? Waktu kita tidak banyak dan…. sebenarnya aku tidak bisa berkelahi sama sekali.” Ujar Kyungsoo, ia melirik Jongin takut.

“cih, pantas saja kau diam saja waktu dihajar oleh Jongin.” Cibir Chen. Ia menatap Kyungsoo remeh.

“heih, sekarang, kita adalah keluarga! Kita adalah satu! Kita harus damai! Jangan ada yang bertengkar ataupun sesuatu yang membuat kita pecah dan berpencar. Kalian tau betapa susahnya mengumpulkan kalian seperti ini?” Hyera yang tadinya tersenyum dan sangat semangat, kini digantikan dengan Hyera yang berisik dan cerewet.

“aku tidak bisa berdamai dengan dia, bocah.” Sehun berkata demikian sambil melirik Jongin sekejap.

“kau pikir aku juga mau berdamai denganmu?” Jongin berucap tidak dengan menatap Sehun. Ia tidak mau bertatapan dengan Sehun, karena ia terlanjur benci.

“huh~ kurasa, kita harus berlibur. Bukankah sebentar lagi ada liburan sekolah? Bagaimana jika kita berlibur bersama?” celetuk Baekhyun sambil menjentikkan jari lentiknya.

“kapan? Aku tidak ingat ada pengumuman liburan sekolah.” Ujar Kyungsoo sambil berpikir, mengingat-ingat apakah ia pernah mendengar pengumuman tentang ini sebelumnya.

“sekolah kita akan mengadakan perkemahan. Perkemahan itu diadakan seminggu, dan, Oh my god siapa yang mau berkemah seminggu? Aku lebih memilih liburan sendiri.” Baekhyun mengangkat bahunya acuh.

“aku lebih memilih ikut ke perkemahan jika memang itu yang membuatku jauh dari Sehun.” Ketus Jongin sebal. “aku tidak ikut liburan kalian. Maaf.”

“wajib! Semua wajib ikut!” Luhan hampir saja terjungkal dari kursinya jika Lay tidak memegangi lengannya. Akibat bentakan keras Hyera barusan, para pelanggan juga beberapa menghadap ke arah meja mereka.

“pelankan suaramu sedikit, Hyera-ssi.” Kyungsoo melirik sekitarnya. Ia pegawai disini, tidak enak juga kalau pelanggannya merasa terganggu oleh teman-temannya.

“aku kesal bila tidak di perhatikan seperti ini. niatku baik! Aku ingin membuat kita mengerti diri kita satu sama lain! Ini bukan seperti yang ku harapkan sama sekali!” Hyera bangkit dan berjalan cepat keluar café.

Oh, tidak. Ini buruk. Cuaca diluar bahkan lebih dingin dari biasanya. Dan ditambah suasana hati Hyera yang begitu buruk. Sesuatu akan terjadi, Lay merasakan sesuatu. Juga yang lainnya.

“seharusnya kita mendengar ucapan Hyera. Dan juga menyetujui ide berlibur bersama tidaklah buruk.” Kata Chanyeol mencairkan suasana. Matanya menelusuri keluar kaca di café. Melihat Hyera melintas di sana dengan wajah memerah. Mungkin karena ia sudah menangis sekarang.

“aku seharusnya tidak mengatakan hal semacam itu tadi.” Kini giliran Sehun yang berucap. Ia menatap yang lain, “dan seharusnya kita tidak tinggal diam disini. Ayo cepat temui Hyera dan buat dia merasa bahagia!” Sehun bangkit dan berjalan mendahului yang lain keluar café.

**

“aku hanya ingin membuat kita berkumpul. Apakah sesulit ini? aku merasa ini juga sebagian tugasku. Aku… aku seharusnya bisa lebih tegas lagi. Aku seharusnya bisa membentak mereka agar mereka mau mendengarkanku. Tapi….”

“sudahlah, Hyera-ya. Aku tidak tega melihat perempuan secantik kamu menangis seperti ini. jangan menangis.”

“aku tidak ingin menangis, Zelo-ya. Aku hanya tidak kuat menahan semua ini. kau tau? Hatiku rasanya ingin sekali marah dan mengobrak-abrik semua yang ada didepanku. Tapi, aku menahannya semampuku. Pelampiasan yang pas adalah menangis seperti ini.”

Hyera memeluk seorang lelaki bernama Zelo itu di kursi panjang disebuah taman. Cuaca memang benar buruk sekarang. Nafas mereka berdua mengeluarkan uap. Bahkan, dengan pakaian tebal seperti sekarang ini, Zelo masih menggigil.

Tapi, Zelo adalah lelaki yang baik dan peduli. Ia melepas jaket tebalnya, menyisakan baju panjang dibadannya. Ia kemudian meletakkan jaketnya pada bahu Hyera, menyampirkannya dari belakang. Baju Hyera yang terlihat tipis tentu saja akan membuat Hyera kedinginan luar biasa.

“gomapta.”

“aku tidak tau harus bagaimana lagi, tapi, Hyera-ya, kau adalah perempuan terkuat. Aku yakin kau kuat dan berani. Meskipun cerita yang baru saja kau lontarkan tidak masuk akal pikiranku, tapi aku selalu mendukungmu apapun yang terjadi.” Zelo memeluk lembut tubuh Hyera.

Hyera sudah berhenti menangis, ia melepas pelukan. Kemudian, ia menatap Zelo yang tengah tersenyum hangat kepadanya. Wajah Zelo memerah menahan dinginnya udara malam ini.

“kau… pergilah. Pergilah ke tempat tujuanmu tadi. Aku yakin, kau tidak datang dari langit dan tiba-tiba menemuiku disini tanpa alasan. Aku sudah merasa baikan sekarang, berkatmu.” Hyera menepuk pundak Zelo.

“ah, aku hanya di suruh ibuku membeli ddukbokki di tempat nenekku. Itu bisa dilakukan nanti.”

“aku bilang aku sudah baikan. Kau sudah ditunggu ibumu dirumah. Cepat pergi. Atau aku akan memukulmu, huh?!”

Hyera yang tadi kalem, berubah menjadi Hyera yang banyak bicara. Ia bahkan berani mengepalkan tangannya di udara, berpura-pura akan memukul kepala Zelo.

“eih, kau ini. baiklah, sampai jumpa besok di sekolah! Aku harap kau tidak mengingat lagi kejadian yang membuatmu sedih. Jaga dirimu!”

Zelo melangkah pergi, meninggalkan Hyera di bangku taman dengan jaket tebal tersampir di pundaknya. Ini jaket Hyera. Bukannya Hyera lupa mengembalikan atau apa, tapi Hyera kedinginan sekali, Hyera rasa ia benar-benar membutuhkan jaket itu sekarang. Ia bisa mengembalikannya besok, kan?

“apa yang kau pikirkan?”

Suara dibelakang Hyera mengejutkan Hyera. Ia membalikkan badannya. Mimik wajahnya berubah. Terlihat sangat terkejut dan heran. Mengapa lelaki tampan dan tinggi ini ada di sampingnya. Apakah sejak Hyera menatap kepergian Zelo barusan? Itu tidak mungkin.

**

“cepat sekali menghilangnya. Seharusnya, perempuan tidak berlari secepat itu. Lagipula, kakiku juga cukup panjang untuk mengejar langkahnya.”

Sehun menendang kaleng kosong di terotoar. Ia kesal, dan melampiaskan dengan tendangan di kaleng tersebut. Yang lain dibelakang menyusul dengan nafas tergesa-gesa.

“ku pikir, perempuan tidak akan berjalan menuju jalan gelap seperti ini.” Kris mulai berpikir dengan mata menyipit. Oh, matanya memang sudah sipit, dan ini menyipit lagi.

“apa yang kau tau tentang perempuan?” Xiumin memulai kicauannya. Dan sebentar lagi Tao dan Suho akan berkicau juga, mengikuti jejak Xiumin.

“ku pikir dia di rumah?”

“rumah? Dia tinggal bersamaku.” Sehun menyahut, tak peduli Jongin yang langsung menatap sinis ke arahnya. Ia menelusuri tempat di sekelilingnya. Ia harus menemukan Hyera sekarang.

Luhan memejamkan matanya, berharap ia bisa mengetahui keberadaan ketua perangnya nanti. Luhan tau, pasti hati Hyera sedang sakit sekarang. Luhan juga merasakannya, tapi ia bisa menahannya karena ia lelaki. Hyera adalah perempuan yang lembut hatinya. Sekali tergores, Hyera bisa saja menangis tanpa henti.

Luhan rasa, Hyera sudah menahan tangisnya. Dan Luhan pikir Hyera kini tengah melampiaskannya dengan cara yang lain.

Perasaan Lay sedikit tidak enak, tiba-tiba. Ia melirik sekitarnya. Lay merasa tangannya tiba-tiba sakit. Ia harus menahannya. Rasanya seperti di cengkeram dengan sangat kuat.

“ada apa, Lay?” Tanya Suho yang khawatir melihat perubahan mimic wajah Lay. Lay hanya menggeleng, tapi Suho yang kelewat ‘kepo’ menelisik apa yang membuat wajah Lay memerah seperti menahan sakit tersebut.

“tanganmu kenapa, Lay?!” Suho terkejut atas pekikan Luhan. Ia langsung menatap pergelangan tangan kiri Lay saat Lay mengangkat tangan kirinya.

Merah sekali, terdapat lingkaran merah tepat di pergelangan tangan. ini aneh, apa terjadi sesuatu dengan Hyera saat ini, sehingga membuat tangan Lay menjadi merah?

-TBC-

Eeeei, maaf banget ya ff ini ngaret😦 saya gabakal ngasih alesan apapun tentang kenapa-ff-ini-ngaret-banget atau apa. aku makasih banget ke kalian yang masih setia nunggu ff ini comeback bersama dengan aku😀 sedikit seneng ada yang ngerespon ff ini dengan respon positif. oh iya, jangan panggil aku Author atau Eonni atau apapun itu. panggil Printa aja🙂

oh iya, aku mau ngumumin kalo FF Vampire In Exo Planet aku stop dulu. Aku mau fokus ke ff ini sampe tamat, trus abis itu ke VIEP, kalo udah tamat juga, tunggu ff baru dari ku😀

Buat yang nunggu FF dari ku, you can contact me, guys!

WhatsApp : 089673203308

LINE : jamurkadaskurap

Pin BBM : 7A17ED9B

Twitter : @bukanprinta

Facebook : Nta Ntu Printha

Sorry kalo kesannya numpang promosi –” but, i want to be close with you, guys. if you want to be close with me, please contact me~

14 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 10

  1. tasya berkata:

    wahh akhir nya chapter 10 nya keluar juga maaf ya author aku baru komen d chapter ini
    ohh iya itu knp tangan nya lay sakit ? trus siapa laki” yg ada d belakang hyera ? aaaaaaa aku jdi makin penasaran
    next chapter ya author SEMANGAT!

  2. YoviChoi berkata:

    Printa-ya jangan buat nae nunggu lama ne,
    Nae suka sama ff kamu,,
    Saran nae bahasanya di baku in lagi,
    Tadi masih ada yang kurang baku,
    Tapi kalo emang ciri khas kamu kayak gini juga nggak apa apa

    Nae tunggu ne kelanjutannya,,

    Hwaiting!? ☆

  3. Maya dhiafakhri berkata:

    Aduh, ff yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba :3 sempat frustasi dengan rasa penasarannya. Bolak-balik ke blog kakak tapi masih stuk ke chapter 9 :’) dan sekarang kembali penasaran dan sebagai readers yang baik saya harus menunggu dengan sabar. Lanjut ^^

  4. annyeong author-nim^^ juseongiyeo aku baru bisa comment di part ini:3 hah aku ingin cepat ff ini untuk dilanjutkan lagi. ceritanya sangat seru!!! jebal author-nim cepat lanjutkan ne? semangatttt!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s