FF EXO : BLACK PEARL Chapter 11

bp-4Author : Printa FS a.k.a Printaya

Tittle : Black Pearl

Genre : fantasy, friendship

Sebelumnya….

Dimulai dari Hyera yang mengajak Sehun, Baekhyun, Lay, dan Luhan ke kafe, mereka malah bertemu dengan para ksatria. Tanpa disadari, semuanya bahkan saling mengenal, meskipun beberapa masih terlihat canggung dan angkuh.

Sehun dan Jongin, musuh bebuyutan sejak lama, kini dipersatukan menjadi satu team. Mereka bersatu untuk menyelamatkan ‘planet’ mereka, yakni EXO Planet. Meskipun cerita yang diceritakan oleh si alien, alias Luhan, tidak dapat masuk ke logika. Namun, mereka semua seketika menjadi percaya karena melihat langsung Luhan yang dapat melayangkan beberapa barang-barang dihadapannya dengan satu tangan.

Hyera, gadis satu-satunya dan yang akan menjadi pemimpin perang demon nanti, kini tengah merajuk. Ia marah dengan Sehun dan Jongin yang tidak bisa akur. Hyera yang sudah susah-susah mengumpulkan mereka semua, malah merasa sedih karena ketidakakuran Jongin dan Sehun. Maka dari itu, Hyera melangkah pergi keluar kafe. Meninggalkan para ksatria yang masih enggan beranjak.

Hyera bertemu dengan Zelo, teman sekelasnya, saat ia tengah berlari di sebuah taman di tengah kota. Ia mulai melampiaskan perasaan kecewanya dengan menangis dipundak Zelo. Zelo sudah mendengar semua ceritanya, dan tentu saja Zelo tidak percaya begitu saja. Ia tentu saja masih belum mempercayai 100% ucapan Hyera. Tapi, Zelo menenangkan Hyera dengan berbagai cara yang ia bisa.

Zelo kemudian pergi setelah Hyera menyuruhnya. Seperginya Zelo, Hyera merasa seseorang duduk disebelahnya. Ketika ia menoleh, dalam hatinya, ia bergumam….. Sehun? Tapi kenyataannya, bukan seseorang yang ia gumamkan yang datang disebelahnya. Melainkan……. Musuhnya.

 

~ Printaya present: BLACK PEARL ~

 

Kini para ksatria, kecuali Hyera, berpencar mencari Hyera yang tadi sempat kesal. Sehun dan Jongin mencari di gang-gang kecil di dekat kafe yang mereka datangi tadi. Wajah mereka terlihat panic. Tentu saja, Hyera, dia adalah gadis yang diperebutkan oleh Jongin dan Sehun. Dan kini malah Hyera marah dengan mereka berdua. Bukankah ini lucu?

“bodoh sekali,”

Sehun dan Jongin saling bertatapan. Kali ini, bukan suara Sehun ataupun Jongin. Tetapi, suara yang entah datangnya darimana. Tapi Sehun dan Jongin yakin, itu bukan suara orang baik.

“membuat seorang yeoja marah dan membiarkannya pergi sendiri di malam yang sedingin ini? Kalian ini lelaki macam apa, huh?”

Suara itu terdengar tambah angkuh, ditambah tertawa jahat dan beratnya di akhir ucapannya. Sehun dan Jongin tentu tidak tinggal diam, mereka mencari siapa yang tengah berbicara seperti itu pada mereka. Mereka berdua menatap gedung-gedung yang ada disekitar mereka, atap-atap gedung yang tingginya entah berapa kaki, dan di celah-celah pohon yang tak jauh dari mereka. Mereka tak menemukan suatu keganjalan, tidak menemukan suara orang tersebut. Kini, suara tersebut seolah hilang. Meninggalkan kegelisahan di hati Sehun dan Jongin semakin menjadi-jadi.

Suara derap langkah terdengar samar-samar di telinga mereka berdua. Sehun yakin, itu adalah suara derap langkah teman-temannya. Mereka telah mencari di sekitar rumah lama Hyera. Benar saja, muncul dua orang berwajah tampan di depan gang. Chanyeol dan Kris. Entahlah, sejak kapan mereka menjadi akrab begitu.

“apa yang kau temukan disana?”

“tidak ada. Sama sekali tidak ada.”

“kau tidak menemukan Hyera dirumah lamanya?” Jongin kini mengambil alih perhatian Kris dan Chanyeol. Mereka baru sadar ada Jongin di belakang Sehun.

“oh,” Kris terkejut. “tidak. Aku sudah bilang, sama sekali tidak ada. Apa kau tidak dengar?”

Sehun mendesah kecewa. Ia kemudian berpikir tentang pekerjaan lama Hyera. Tempat dimana mereka pernah pergi bersama untuk mencari mutiara hitam yang tidak dimiliki oleh Hyera.

“kita harus ke rumah Cho Ahjussi! Aku rasa dia ada disana.” Seru Sehun sambil berjalan keluar dari gang yang gelap dan bau pengap itu.

Ketiga temannya yang lain mengikutinya dari belakang. Sehun berbelok ke kiri, menuju ke tempat Cho Ahjussi. Penjual barang antic yang dulu pernah ia datangi kesana untuk mencari Black Pearl.

“itu percuma, Oh Sehun.”

Sial, suara itu lagi. Sehun mengutuk siapapun yang tengah berbicara itu karena tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Bagaimana ia bisa menanggapi ucapan yang bahkan wujud yang berbicara tersebut tidak ada? Bisa-bisa Sehun akan dianggap gila.

“hei, kenapa tidak menanggapi suaraku, Oh Sehun?”

Blap!

Seseorang itu akhirnya muncul bersama…. Hyera? Tunggu, orang itu bersama Hyera?

“Hyera? Shin Hyera!”

Sehun berjalan mendekati seorang lelaki berbaju serba hitam tersebut. Wajahnya tertutupi oleh bayangan dari topi yang ia pakai. Ditambah cahaya dari lampu jalanan yang remang-remang, membuat Sehun maupun Jongin, Chanyeol, dan Kris tidak bisa melihat jelas siapa orang yang tengah membopong Hyera yang pingsan itu.

“lepaskan Hyera, pecundang!”

“aku yang menyelamatkannya! Aku melihatnya sendiri di taman, ia terlihat sehabis menangis.”

Lelaki itu menarik dagu Hyera yang ia bawa, dihadapkan pada Sehun, Chanyeol, Jongin, dan Kris didepannya. Hyera hanya diam, ia pingsan, ingat? Matanya yang terpejam tidak memperlihatkan wajah damai Hyera. Sehun paham keadaan Hyera. Seharusnya ia dan Jongin tidak bertengkar tadi.

“berikan padaku!” Kris dengan gentle nya mendekati lelaki bertopi itu. Tangannya mengepal di samping jahitan celananya. Kris menahan amarah ketika lelaki itu mencoba berlari. Kris lelah berlarian seperti orang gila.

Jongin mulai mengikuti langkah lelaki sialan itu. Ia berlari untuk mengejar lelaki yang membawa Hyera itu. Setidaknya, Jongin akan bisa mengejar lelaki tersebut dengan mudah, karena lelaki itu menggendong Hyera.

Kini, Jongin dapat menggapai rambut lelaki tersebut. Dengan cepat ia menjambak rambut itu. Lelaki itu mengaduh kesakitan dan melepaskan tubuh Hyera dari gendongannya, kemudian tangannya memegang kepala yang Jongin jambak tadi.

Jongin menatap tubuh Hyera yang terkulai lemas di bawah. Ia harus melawan lelaki ini terlebih dahulu, agar tidak diganggu lagi. Hyera bisa ia serahkan pada Sehun atau Kris yang masih berlari di belakangnya.

“apakah kau mau menyetorkan nyawamu?”

Jongin menyeringai sambil bersiap memukul wajah lelaki brengsek itu. Ia memulai pukulannya. Pukulan kerasnya mengenai pipi sebelah kiri lelaki bertopi hitam itu. Topi tersebut jatuh ketika lelaki itu terpukul Jongin.

L?

“brengsek kau! Berani sekali menculik Hyera, huh? Kau mendapat masalah besar, L!” Sehun berteriak penuh amarah ketika tau lelaki itu adalah L. ternyata L masih mengincarnya, kali ini dengan menggunakan Hyera.

Kini Sehun mengambil alih posisi Jongin. Jongin berada dibelakang Sehun sambil masih waspada. Ia menatap kedua orang di depannya yang masih saling menatap benci. Kemudian, pandangannya beralih pada Kris yang telah menggendong Hyera dan membawanya ke tempat yang aman. Jongin kini harus lebih focus ke L. L bukan musuh yang mudah. L tidak gampang menyerah.

Sehun menyerang dengan brutal. Ia telah tertutupi oleh amarahnya. Jongin dan Chanyeol merasakan aneh udara di sekitar mereka. Sepertinya udara kali ini mendukung pihak mereka –pihak Sehun, Jongin, Chanyeol—ketimbang pihak L.

L terlihat kalah karena serangan bertubi-tubi dari Sehun. Angin malam ini bertambah kencang, menerbangkan anak-anak rambut milik Sehun yang kini berdiri angkuh di hadapan L yang terjatuh. L terlihat sangat marah karena dapat dikalahkan oleh Sehun. Tapi, tubuhnya sudah tidak kuat untuk melawan Sehun lagi. Ia lebih memilih menyerah. Ia diam saja dan membiarkan tubuhnya tergeletak di pinggir jalan yang sepi dan dingin ini.

“Sehun-a!”

Suara jeritan perempuan terdengar mendekat. Tatapan Sehun yang semula ganas, perlahan berubah melembut seiring dengan datangnya seorang gadis yang memanggil namanya tadi. Shin Hyera. Gadis tersebut terlihat berantakan dan nafasnya tak beraturan. Jelas sekali ia sehabis berlari. Tapi, tunggu. Hyera berlari dari siapa? Justru orang yang menculiknya ada disini.

“ma-maaf. Aku sudah menahannya agar tidak kembali ke sini, tapi dia ngotot.”

Terjawab sudah seluruh pertanyaan yang ada di otak Sehun. Hyera berlari menemuinya, padahal, Kris sudah menahan Hyera.

“Sehun-a, gwaenchanna?” Hyera menelusuri seluruh badan Sehun. Memastikan apakah Sehun baik-baik saja atau tidak. Kemudian, memeluk Sehun sambil menangis meraung-raung.

“jangan cengeng.” Sehun berucap dengan datar. Kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. Ia membiarkan gadis ini menangis di dadanya.

Jongin diam saja di tempatnya, ia sudah tau kalau Hyera pasti lebih memilih Sehun daripada dirinya yang brengsek ini. Jongin memilih pergi dari tempat ini, daripada melihat pujaan hatinya menangis memeluk orang lain.

“Se-sehun-a, aku.. aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Angin yang sedari tadi berhembus membuatku khawatir padamu.”

Sehun mengernyitkan dahinya dalam diam. Apa hubungannya angin dengan dirinya? Ia melirik Hyera yang mulai melepaskan pelukannya. Sehun menarik Hyera kembali dengan satu tangan kanannya. Menahan Hyera agar masih tetap ada di pelukannya. Ia masih ingin memeluk Hyera.

Hyera tentu saja terkejut dengan kejadian ini. Yah, memang tadi Hyera sudah memeluk Sehun. Tapi, kan, tadi Sehun tidak membalas pelukan Hyera. Dan kali ini, Hyera malah di peluk Sehun.

“Sehun-a,” Hyera mengeluarkan ucapannya lagi, “kekuatanmu adalah angin.”

Sehun masih terdiam. Tapi raut wajahnya berubah menjadi sedikit lebih lembut. Ia sedikit tersenyum. Sehun sudah tau mengapa Hyera khawatir tentang dirinya gara-gara angin. Dan sekarang ia tau apa hubungannya dengan angin.

**

Siang ini, semuanya sudah berkumpul di rumah Sehun. Lebih tepatnya, di belakang rumah Sehun. Halaman belakang rumah Sehun adalah yang paling luas. Maka dari itu, Sehun sendiri menyarankan agar mereka semua berlatih di belakang rumahnya. Dan, hanya Sehun saja yang sudah tau kekuatannya sendiri. Yang lain masih mencoba untuk mengetahui kekuatan masing-masing.

Hyera, kekuatannya adalah kekuatan yang paling konyol. Ia memiliki kekuatan bisa membuat orang tersadar akan kesalahannya dalam satu tatapan saja. Dan, itu yang terkonyol yang pernah Sehun dengar. Maka dari itu, Sehun dan Hyera kembali marahan. Mereka adalah pasangan labil, ingat? Mereka akan akur pada saat tertentu, dan marahan pada saat yang tertentu pula.

“aku pikir, kekuatanku adalah membuat diriku sendiri lelah.” Ujar Kyungsoo yang tiduran di alas rumput dengan mata terpejam. Ia mencoba mengeluarkan api dari tangannya, tidak bisa. Ia mencoba mengeluarkan air ditangannya, tidak bisa. Ia bahkan mencoba terbang, tapi sia-sia juga. Akhirnya, Kyungsoo hanya rebahan di rumput dingin di halaman rumah Sehun ini.

Kaki Kyungsoo yang pendek mengetuk-ngetuk pelan sambil bersenandung. Suara Kyungsoo dapat menenangkan hati siapapun yang mendengarnya, asal kau tau. Ia pernah menjadi juara satu lomba menyanyi di sekolah dasarnya dulu, saat ia kelas 4. Dan kini, suara emasnya bertambah indah karena ia sedang dalam mood yang baik.

Melihat burung-burung berterbangan, langit yang cerah, dan hamparan rumput hijau yang luas, bukankah itu sesuatu yang bisa menjadikan mood-mu bertambah? Dan ini lah Kyungsoo dengan nyanyiannya yang luar biasa, di tambah mood-nya yang bagus.

Ketukan kakinya semakin lama semakin keras, Kyungsoo sendiri dapat merasakannya. Tubuhnya yang tidur beralaskan rumput sedikit merasakan guncangan kecil ketika kakinya sendiri mengetuk tanah. Ia pikir, ini wajar-wajar saja.

“ya-ya! Ada apa ini? Apa ada gempa? Uwoo!”

Kyungsoo mendengar kegaduhan. Matanya terbuka, kemudian menatap sekitarnya. Kedua bola matanya melotot dan seakan-akan hampir keluar dari tempatnya. Halaman rumah Sehun memang tidak ada yang berubah. Ia masih berada di halaman belakang rumah Sehun yang indah. Namun, indahnya tidak seperti tadi sebelum matanya terpejam.

Kali ini, keindahannya terusak oleh meja dan kursi –yang dipersiapkan Cho Ahjumma untuk tempat minuman dan untuk duduk bersantai—yang sama-sama terbalik. Ditambah ke-12 temannya yang beberapa mengeluh kesakitan. Matanya terhenti pada Hyera yang tangannya basah oleh air yang ia bawa. Hyera tadi baru saja akan meletakkan minuman dari atas nampan ke atas meja, namun tiba-tiba terjadi guncangan. Kemudian, minuman itu tumpah dan mengenai tangannya.

Kyungsoo mengernyit. Ada apa sebenarnya? Apa ini karena kakinya yang mengetuk tanah tadi? Tunggu, itu tidak mungkin! Kyungsoo menatap kedua kaki kecilnya. Sangat aneh jika kedua kakinya mengetuk tanah dan membuat kekacauan sedemikian rupa.

Kyungsoo akan membuktikannya sekali lagi, pasti ini bukan karena kakinya yang mengetuk tanah! Kakinya tidak salah apa-apa!

Grezzz!

Oo-ow~! Sebuah retakan kecil terjadi ketika Kyungsoo mengetuk kakinya pelan pada tanah. Oh God! Ini benar-benar karena perbuatan kakinya! Sangat tidak dipercaya. Kyungsoo beberapa kali menampar pipinya sendiri, dan, ia masih tidak percaya.

“kakimu luar biasa, pendek!” Chanyeol bertepuk tangan, menatap Kyungsoo yang masih tidak percaya hal yang baru saja terjadi. Padahal, yang lain sudah tau bahwa itu Kyungsoo. Malah Suho dan Chen tidak bisa berkedip melihat retakan kecil hasil kaki Kyungsoo tadi.

“aku akan membunuhmu dengan kakiku kalau kau mengatai aku pendek lagi, raksasa!”

Kecerewetan Kyungsoo sudah kembali normal, ketidakpercayaannya tadi sudah menghilang entah kemana. Ia kini sudah tau yang sebenarnya. Kekuatannya adalah pada kakinya. Ia bisa membuat bumi retak dengan sekali hentakan.

Hyera masih mematung dengan tangannya yang basah. Ia menatap tak percaya ke arah Kyungsoo yang kini malah cengir-cengir bersama Chanyeol. Hyera mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya sendiri. Seharusnya, ia cepat tersadar dan pergi dari tempat terlaknat itu. Kini, Hyera malah kembali mematung karena terkejut mendapati Sehun yang dengan sigap mengelap tangannya yang basah, dan mengambil alih nampan minumannya.

Hyera menarik tangannya yang ada di genggaman Sehun, ia kemudian mengambil beberapa lembar tissue yang ada di atas meja, lalu mengelap tangannya sendiri sambil cengar-cengir ke arah Sehun. Sehun hanya mengendikkan bahu, cuek. Ia kemudian berlalu meninggalkan Hyera yang masih salah tingkah akibat perbuatan Sehun tadi. Padahal, Sehun hanya mengelap kedua tangannya.

**

Ini adalah hari ke-tiga setelah pertemuan mereka di café. Mereka kini berada di taman kota. Hari ini hari Minggu, seharusnya mereka berlibur dengan menonton tv dirumah, misalnya. Tapi kali ini, Kyungsoo yang memohon agar mereka berlatih hari ini. Lagipula, cuaca hari ini sangat cerah. Sayang sekali jika menghabiskan waktu di dalam rumah. Maka dari itu, Hyera pun menyetujui ajakan Kyungsoo. Yang lain juga ikut setuju.

“kupikir, ini masih terlalu pagi untuk es krim.” Baekhyun berkata demikian karena melihat Tao dan Luhan yang sedaritadi menatap kedai es krim yang ada di sebrang jalan. Mereka adalah maniak es krim. Itu menakutkan, kau tau? Dan Baekhyun, ia sudah hafal setiap kebiasaan para ksatria. Dan, yang paling hafal adalah Tao. Tao adalah ksatria paling manja dan pemalas. Dan Baekhyun dengan segenap kegalakannya dapat melunakkan kemanjaan dan kemalasan di dalam diri Tao. Maka dari itu, mereka terlihat dekat.

Suho masih saja nempel sama Kris, walaupun Kris terus jaga jarak dari Suho, Suho terus dekat-dekat. Terkadang membuat Kris risih. Tapi, Kris hanya bisa diam saja. Lagipula, kekuatan Suho sudah ia ketahui kemarin. Kekuatan Suho adalah air. Suho dapat mengendalikan air dengan baik. Bahkan, Suho bisa mengeluarkan air dari kesepuluh jari tangan yang ia punya.

Kris, ia masih belum menemukan kekuatannya. Ini sudah hari ketiga, seharusnya ia sudah menemukan kekuatan yang ada pada dirinya seperti ksatria lainnya. Ini aneh. Kris terkadang kesal sendiri sambil menendang sesuatu yang ada di depannya.

Kini kita beralih pada Chen. Ya, lelaki dengan suara cempreng yang menawan itu kini tengah duduk termenung di sebuah bangku taman yang ada di samping kolam ikan. Ia duduk bersama Kyungsoo. Mereka terlihat dekat akhir-akhir ini karena sebuah kesamaan. Ya, mereka sama-sama tertarik dengan menyanyi. Suara keduanya pun tidak buruk. Sangat bagus, malah. Tapi, bukan itu permasalahan kita sekarang.

Chen tidak dapat melatih kekuatannya disini.

Tentu saja karena Chen tidak ingin merusak hari Minggu anak-anak yang tengah bermain dengan cerianya di taman dengan kekuatan petirnya. Yaps! Benar sekali. Kekuatan Chen adalah petir. Ia mengetahuinya kemarin ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya ketika Chen menangis.

Chen menangis karena hal yang sangat sepele. Ia bahkan mengutuk dirinya sendiri karena menangis di depan para ksatria. Itu mempermalukannya sebagai lelaki.

“kau boleh cemberut, asal jangan menangis seperti waktu itu,” Kyungsoo berkata sambil menyenggol pelan lengan Chen.

Chen malah menatap Kyungsoo tajam. Seperti rasanya Chen mengalirkan aliran petirnya lewat tatapan mata. Dan, hell no, tentu saja tidak akan berhasil. Tatapan mata Kyungsoo tidak sama-sama tajam.

“aku akan membakarmu jika kau meledekku lagi, Pendek!”

“ohohoho, kau tau? Kakiku yang pendek ini bisa saja membuatmu terjatuh dalam lubang retakan!” Kyungsoo berkata sambil seolah-olah dunia ini bisa runtuh karenanya. Begitu heboh. Namun, tanggapan Chen malah hanya memutar kedua bola matanya sambil mendecih sebal.

“ya, ya, ya, terserah kau saja.”

“hei, jangan marah, dong!”

“siapa?”

Kyungsoo malah mencibir ketika Chen malah membentaknya. Ditanya baik-baik malah membentak, cibir Kyungsoo dalam hatinya.

Hyera, gadis manis berponi itu tengah berada di tengah-tengah Tao dan Luhan. Disamping Tao ada Baekhyun, hyung galak yang sangat dekat dengan Tao. Sementara Sehun ada di samping Luhan. Hyera ada di tengah-tengah Tao dan Luhan karena mereka berdua meminta es krim pada Hyera. Tapi, hyung galak Tao tidak memperbolehkan Tao makan es krim.

“ayolaaaah,” Luhan merengek, “atau aku akan melayangkan kedai itu kesini?”

“jangan pamer kekuatanmu disini, Luhan.” Kini Kris yang menegur Luhan. Kris tau memang Luhan adalah lebih tua darinya, tapi sifat Luhan seperti anak kecil.

“lebih baik kita bermain. Aku mempunyai ide. Bagaimana kalau kita bermain petak umpet?” usul Lay yang membuat Luhan tertarik.

“petak umpet?” Luhan bertanya kebingungan. Lay lupa jika Luhan adalah orang asing, jadi ia harus menjelaskan apa itu permainan petak umpet. Setelah itu, “sepertinya menyenangkan! Ayo!”

“yang kalah harus menuruti permintaan yang menang!”

“apa-apaan maksudmu, Chen-a! semisal kau menang, berarti kau meminta dua belas permintaan, dong?” Suho memulai aksi cerewetnya.

“apa kau takut kalah?” kini sahutan Chen membuat yang lain tertawa, “ayo kita mulai!”

Mereka membuat sebuah lingkaran, kemudian mereka hompimpah terlebih dahulu sebelum memulai permainan. Tentu saja mencari satu orang untuk menjaga, dan yang lainnya akan bersembunyi.

Yang kalah kali ini adalah Luhan. Semuanya berhasil membodohi Luhan kali ini. Luhan masih belum tau apa itu hompimpah, jadi yang lain mengerjainya. Alhasil, ia yang menjaga kali ini.

Luhan mulai berhitung sambil menghadap sebuah pohon besar. Yang lainnya juga mulai berlarian mencari tempat bersembunyi. Setelah Luhan berhitung sampai lima-puluh, ia berbalik dan mencari ke-duabelas ksatria. Luhan menampakkan cengirannya. Niatan teman-temannya yang lain untuk membodohinya justru berbalik arah seperti boomerang. Mereka semua lupa jika Luhan dapat menemukan mereka dengan mudah hanya dengan memejamkan mata. Luhan alien, ingat?

**

Berakhirlah permainan petak umpet yang sangat singkat itu. Dapat ditebak, Luhan menang. Ia bisa meminta dua belas permintaan dari ksatria. Luhan meminta untuk makan es krim bersama. Dan disinilah mereka semua, berada di kedai es krim yang ia idam-idamkan dari tadi. Luhan dan Tao asyik memakan es krim mereka yang menggunung seperti gunung es.

Ia menyimpan sebelas permintaannya yang lain. Yang terpenting sekarang, Luhan telah mendapatkan es krimnya hanya dengan permainan gampang seperti itu.

“lain kali aku tidak akan bernafas ketika bermain petak umpet bersamamu, hyung!” ucap Chen. “aku menyesal membuat pernyataan ini tadi.”

“Aku yang akan mengabulkan permintaan Luhan yang pertama. Jadi, setelah itu Luhan bisa meminta permintaannya pada yang lain.” Xiumin terlihat tenang mengucapkan hal itu.

“jangan meminta yang aneh-aneh, ya! Aku bukan orang berduit.” Ujar Hyera sambil memakan es krimnya.

Disaat semuanya tengah memakan es krim dengan asyiknya, Hyera merasakan aura kedai berubah drastis. Ia merasa semuanya berubah menjadi kelam. Bahkan, bulu kuduknya juga merinding. Wajahnya yang panic menatap ke sekitar kedai, benar dugaannya, sesuatu benar-benar tengah terjadi sekarang.

Rambut-rambutnya melayang-layang. Ditambah langit-langit kedai yang seperti dipenuhi oleh awan-awan gelap, terlihat seperti mendung. Hyera berpikir mungkin ini karena ia kelelahan, dan berpikiran yang aneh-aneh. Tapi, Hyera melihat para ksatria juga merasakan hal aneh ini.

Kini, hatinya sangat sakit. Entah kenapa, Hyera merasa hatinya terasa sangat sakit. Ia memegang dadanya dengan memejamkan mata. Ia merasa hidupnya terancam sekarang. Tapi, sesuatu membuat mata Hyera terbuka perlahan.

Angin-angin bertiup damai menyapa kulit wajahnya. Ia tidak di kedai es krim sekarang. Awan-awan yang hitam tadi hilang entah kemana. Ia sekarang berada di sebuah tempat yang sangat sejuk dan damai. Ia sendiri. Ya, sendiri. Para ksatria entah pergi kemana.

Hyera menoleh-noleh, mencari keberadaan ksatria yang lain. Ia bahkan memanggil-manggil nama para ksatria. Tapi satupun dari mereka tidak muncul dihadapan Hyera. Hyera berdiri, ia melihat beberapa pepohonan besar dan rindang di kejauhan. Hyera berjalan menuju pohon itu, berpikir siapa tau ada seseorang disana.

Pohon itu ternyata ada di tepi jurang. Jurang yang sangat dalam, tapi Hyera melihat perkampungan dari atas sini. Perkampungan itu terletak di bawah jurang, tidak begitu jauh dipandang mata. Tapi, jalanan yang ditempuh pasti akan terasa membosankan jika kesana sendirian.

Hyera mencoba mencari ksatria lagi, tapi mereka masih belum muncul. Hyera sendiri bingung dimana ia sekarang.

“Sedang apa kau disini?”

Hyera menoleh ketika ia mendengar seseorang berbicara kepadanya. Pakaiannya terlihat rapi sekali, sepertinya dia orang-orang kerajaan.

“aku tersesat,” jawab Hyera ragu-ragu. Takut orang yang ada didepannya adalah orang jahat. “aku sendiri tidak tau aku ada dimana. Aku tidak tau mengapa aku bisa ada disini.”

“kau….. tersesat? Heol~ sudah lama sekali sejak kejadian enambelas tahun yang lalu.” Katanya sambil menatap perkampungan. “oh iya, kau mau ku antar ke perkampungan? Setidaknya kau tidak mati ketakutan disini. Orang-orang kampung akan menyambutmu senang.”

Hyera merasakan keanehan ketika orang tersebut berkata demikian. Ia ingin menolak, tetapi apa yang akan dilakukannya di tepi jurang ini sendirian? Tidak ada jalan lain selain ikut orang tersebut ke perkampungan.

“jangan!”

Kali ini datang seseorang dari arah belakang Hyera. Lelaki bertubuh tegap yang tengah memegang sebuah tongkat panjang.

“oh, kau lagi? Apa kau tidak lelah menggangguku setiap hari?”

“mengganggu? Kurasa, aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu. Apa kau tidak lelah mengganggu orang-orang tersesat setiap hari? Apa katamu tadi? Enambelas tahun? Bahkan hampir setiap hari desa kita mendapatkan orang-orang yang tersesat. Dan kau? Bukannya membantu malah membuat mereka semakin tersesat!”

Hyera tidak tau apa yang mereka bahas, ia juga tidak tau mengapa ia bisa ada di antara dua orang yang sedang beradu mulut ini. Karena bingung yang sangat memuncak, Hyera akhirnya menghentikan adu mulut.

“oh? Perkenalkan, aku Woohyun.” Ujar seseorang yang membawa tongkat panjang. “kau pasti tidak sengaja masuk ke dalam portal.”

“hei, biarkan aku berkenalan dulu, setidaknya! Ish! Perkenalkan, aku Sungyeol. Kau boleh memanggilku ‘si Tampan’.” Kini lelaki yang satunya yang berbicara.

“cih, si tampan pantatku. Tidakkah kau sadar kalau aku lebih tampan darimu?”

“lebih tampan dariku? What the hell. Apa yang kau bicarakan? Seluruh gadis kampung hanya mengelilingiku. Kau tidak pernah di perebutkan gadis kampung seperti aku.” Ujar Sungyeol, kini ia menatap langit dengan wajah yang aneh.

kkeut! Sekarang giliran aku yang mengenalkan diri. Namaku Shin Hyera. Aku…”

“S-Shin.. Hyera? Shin Hyera?”

Hyera merasakan keanehan dikalimat pertanyaan Sungyeol barusan. Bukan hanya Sungyeol, bahkan Woohyun juga menampakkan wajah anehnya. Seperti ia salah berbicara, atau…. Entahlah.

“a-ada apa?” Hyera bertanya takut-takut. Kini mereka berdua berjalan mendekati Hyera sambil menatap Hyera dari atas sampai bawah.

Hyera menahan diri agar tidak mundur, ia bukan gadis penakut. Apalagi dengan dua lelaki aneh didepannya, ia pasti bisa melawan mereka jika mereka bukan orang baik-baik.

“ya! Apa yang kalian lakukan, bodoh?!”

Suara seseorang mengejutkan Hyera, Sungyeol, dan Woohyun. Mereka menoleh bersamaan ke arah belakang Hyera. Disana berdiri seorang wanita paruh baya dengan baju yang sangat rapi, meskipun tidak terlihat seperti seseorang di kerajaan. Wanita itu tidak asing di mata Hyera. Hyera terus menatap wanita itu yang kini tengah berjalan mendekatinya.

“kau baik-baik saja?”

Wanita itu bertanya pada Hyera yang masih mematung. Matanya tak berkedip, namun keningnya berkerut penasaran. Ia terlihat berpikir keras. Ia mengingat siapa yang ada di depannya saat ini.

Karena Hyera tak menjawab pertanyaannya, wanita itu beralih pada Woohyun dan Sungyeol. Mereka berdua yang ditatap langsung membuang muka sambil berpura-pura siul. Itu adalah taktik bodoh untuk pura-pura tidak tahu.

“a-ah! Aduh! Sakit, Nenek! Auw!” keduanya memekik kesakitan ketika wanita itu menarik telinga mereka. Kalau bahasa gaulnya sih, menjewer.

“apa yang akan kalian lakukan pada gadis cantik ini, hah?! Kalian mau berbuat yang tidak-tidak? Ingat dosa!” wanita itu memarahi Woohyun dan Sungyeol.

“i-iya, Nek. Aku minta maaf. Aku bukan ingin berbuat yang tidak-tidak. T-tapi….. Nek, lepaskan dulu tarikanmu. Aku kesakitan sampai tidak bisa berbicara, nih!”

“tidak bisa berbicara darimana, ha?! Itu tadi bicaramu nyerocos seperti kereta api.” Wanita yang dipanggil nenek itu melepaskan tangannya dari telinga Sungyeol dan Woohyun dengan geram, “ayo cepat ceritakan!”

“huh! Nenek ini tidak sabaran sekali, sih.” Woohyun mencebik, “jadi begini, Sungyeol menemukan anak ini di tepi jurang sana. Kemudian aku datang berniat untuk menyelamatkannya dari Sungyeol. Aku lah yang berniat baik, Nek! Lalu, kami bertiga berkenalan. Kemudian….”

Woohyun tidak melanjutkan bicaranya. Ia menatap Sungyeol, Nenek, dan Hyera bergantian. Sungyeol kemudian memberikan isyarat untuk cepat-cepat melanjutkan ceritanya agar sang Nenek tidak salah paham.

“kemudian, kami terkejut ketika ia memperkenalkan dirinya. Namanya adalah….. Shin Hyera.”

Nenek itu menatap ke arah Hyera dengan pandangan yang sulit di artikan. Ia perlahan mendekat, kemudian memeluk Hyera dengan erat. Hyera hanya diam saja, ia merasa nenek didepannya ini memang butuh pelukan.

Nenek itu melepas pelukannya dan menggenggam kedua pundak Hyera. Beliau menatap mata Hyera dalam-dalam. Hyera merasakan kenyamanan dalam tatapan itu. Juga wajah nenek yang didepannya terlihat tidak asing dimatanya. Seperti ia pernah melihatnya disuatu tempat.

“Hyera-ya..” nenek itu mulai berbicara dengan nada yang sedikit pelan, “aku ibumu.”

“Eomma?”

Hyera tidak percaya. Ia menepis kedua tangan nenek dihadapannya dengan sedikit keras. Membuat sang nenek terkejut, juga Woohyun dan Sungyeol. Mereka berdua terlihat marah melihat nenek diperlakukan seperti itu. Namun, sebelum Woohyun dan Sungyeol memarahi Hyera, nenek itu tersenyum, tidak marah atau sebagainya.

“tidak mungkin! Ibuku sudah meninggal! Kau jangan mengada-ada!” Hyera bahkan berani menunjuk nenek tua yang terlihat ringkih didepannya.

“apa kau tau dimana kau berpijak sekarang?” nenek itu tersenyum hangat lagi. Hyera menatap sekitarnya, ia masih berdiri ditempat yang sama seperti tadi, di tepi sebuah jurang. “kau berada di tempatku sekarang. Kita bersama di alam yang sama. Aku benar-benar merindukanmu, Hyera-ya.”

“ap-apa yang kau bicarakan?!” Hyera terlihat bingung dan ketakutan. Tapi, tangan nyaman milik nenek itu mengusap pelan rambut Hyera. Memberikan ketenangan kepada Hyera.

“kita berada di alam arwah, Hyera-ya. Disini tempat orang-orang yang sudah meninggal. Dan kau berada disini, tentu saja kau sudah meninggal.” Nenek itu kemudian berubah wujud menjadi seorang yang lebih muda, tapi tidak terlihat seumuran dengan Hyera. Seperti berubah menjadi 35 tahunan. Wajahnya mirip ibu Hyera.

“eom-eomma?” Hyera tidak tahan lagi melihat wajah sesosok didepannya sekarang. Sebelumnya, ia memang mengasari wanita dihadapannya. Tapi sekarang, Hyera menangis dipelukan wanita itu, arwah Eommanya.

“bagaimana kau mati, Hyera-ya? Apa kau mati karena sakit? Tubuhmu tidak terluka sedikitpun.” Ibunya memeriksa keadaan Hyera dengan teliti. Hyera mengernyitkan keningnya bingung.

“sepertinya dia mati karena sakit jantung.” Sungyeol mulai sok tau.

Hyera menggelengkan kepalanya, “tidak, Eomma. Aku belum mati. Mungkin, aku ditakdirkan untuk melihat ibuku sebentar.”

“seseorang yang sudah berada disini harus seseorang yang sudah mati. Dan kau? Kau belum mati?” Woohyun menatap Hyera tidak percaya.

Hyera menggeleng, menjawab pertanyaan Woohyun. Kemudian pandangannya kembali kepada sang ibu. Namun, mimic wajah ibunya berubah. Yang tadinya tersenyum lembut kepadanya, sekarang berubah menjadi sedikit mengerikan.

“Eomma?” Hyera memanggil ibunya dengan ragu.

“kau tidak boleh berada disini, Shin Hyera! Kau melanggar peraturan! Jika kau tetap berada disini, maka aku akan membunuhmu! Kau harus mati terlebih dahulu, Hyera-ya! Ini tempat para arwah!”

Hyera ingin menangis rasanya, melihat ibunya menggertaknya seperti itu. Ia ingin kembali, tapi ia tidak tau kembali kemana. Seperti tidak ada jalan keluar dari sini.

“Eomma! Aku merindukanmu! Aku bahkan tidak melihatmu sejak lahir! Aku hanya melihatmu di foto peninggalan ayah! Ini sangat tidak masuk akal jika eomma mengusirku hanya karena aku belum mati!” Hyera menangis dengan keras.

“tidak, nak. Jangan keluarkan air matamu itu kepadaku. Aku bukan wanita baik-baik jika mengetahui keberadaanmu disini adalah salah. Aku harus menegakkan keadilan. Kau harus mati, atau kau harus kembali ke tempat asalmu.”

-TBC-

ANNYEONG ~~ makasih udah nungguin dan udah baca yaaa ^^ bener-bener makasih buat kalian yang udah mengapresiasikan tulisanku lewat apapun. aku suka kalo kalian juga suka. kamsahamnida~ maaf udah buat kalian nunggu ff ini sampe keriput :p tapi aku bener-bener writer’s block kemaren. bener-bener nggak ada ide buat lanjut sampe tahun ini. oh iya, btw Selamat Tahun Baru yaaa~~ semoga di tahun ini kita semua mendapat berkah yang melimpah ^^ Aamiin.

Akhir kata, ppyong!~

9 thoughts on “FF EXO : BLACK PEARL Chapter 11

  1. Park Ponty berkata:

    Annyeong eonni…!!! Aku reader lama tapi baru ngerti caranya komen karena tadinya aku bingung surel itu apa hehehe…
    Aku jadi penasaran kenapa hyera bisa masuk alam arwah gitu, terus aku juga penasaran kemana ksatria yang lain, well ditunggu next chapternya eonni… Fighting…!!!

  2. ulfagarini berkata:

    huwaaa.. Sumpah keren thor.. Yah walaupun lama tapi gak apalah.. Next chap, jan lama-lama ya thor…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s